Oleh: Heri Isnaini
Hari Raya Iduladha selalu membawa suasana yang berbeda. Ia tidak hanya datang bersama gema takbir atau aroma daging yang mengepul dari halaman rumah, tetapi juga bersama sebuah pertanyaan tua yang terus hidup di dalam diri manusia, yakni apa yang sanggup kita korbankan?
Kita hidup di zaman yang terlalu sering memuja kepemilikan. Orang berlomba mengumpulkan harta, pengaruh, citra, bahkan perhatian.
Media sosial berubah menjadi etalase besar tempat manusia saling mempertontonkan keberhasilan. Semua ingin terlihat utuh, bahagia, dan menang.
Namun, Iduladha justru datang membawa pelajaran sebaliknya, yakni tentang merelakan.
Dan ternyata merelakan adalah pekerjaan batin yang paling sulit. Dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan sering hadir dalam bentuk yang tidak heroik. Ia tidak selalu tampak seperti kisah besar dalam sejarah agama atau legenda-legenda kuno.
Kadang pengorbanan hadir dalam tubuh seorang ibu yang diam-diam mengurangi kebutuhan dirinya demi anak-anaknya.
Hadir dalam ayah yang menunda membeli sesuatu yang ia inginkan karena biaya sekolah semakin mahal.
Hadir dalam seorang perantau yang memilih tidak pulang agar uangnya bisa dikirim ke rumah.
Orang-orang semacam ini jarang bicara tentang pengorbanan. Mereka tidak membuat pidato. Tidak menulis status panjang tentang kesedihan mereka. Tetapi justru dari tubuh-tubuh yang diam itulah dunia bertahan.
Saya sering merasa bahasa pengorbanan memang tidak pernah riuh. Ia bekerja seperti akar pohon yang tidak terlihat, tetapi menjaga kehidupan tetap tegak.
Dan sastra, sesungguhnya, sejak lama hidup dari kesadaran semacam itu. Puisi-puisi terbaik lahir dari kehilangan. Cerpen-cerpen paling menyentuh lahir dari manusia yang harus melepaskan sesuatu dalam hidupnya. Bahkan hikayat dan legenda Nusantara dipenuhi tokoh-tokoh yang rela mengorbankan cinta, tubuh, atau masa depannya demi sesuatu yang dianggap lebih besar. Sebab sastra pada dasarnya adalah usaha manusia memahami luka.
Iduladha lalu memperlihatkan luka itu dalam bentuk yang sangat nyata. Di halaman masjid, sapi-sapi kurban berdiri tenang di tengah keramaian manusia. Anak-anak berlarian membawa kupon daging. Lelaki-lelaki memegang tali dengan wajah tegang. Ibu-ibu menyiapkan kantong plastik sambil bercakap tentang harga kebutuhan pokok yang semakin mahal.
Semua tampak sederhana, tetapi di sanalah sebenarnya kehidupan sedang menulis puisinya sendiri.
Kadang saya merasa halaman masjid saat Iduladha lebih puitis daripada banyak festival sastra. Karena di sana manusia belajar sesuatu yang sangat mendasar bahwa hidup tidak bisa hanya diisi oleh keinginan untuk memiliki. Ada saat ketika manusia harus rela melepaskan sebagian miliknya agar orang lain tetap bisa hidup dengan layak.
Daging kurban akhirnya bukan sekadar makanan. Ia menjadi bahasa sosial. Ia mengatakan bahwa di tengah dunia yang semakin individualistis, manusia masih memiliki kemungkinan untuk berbagi.
Dan bukankah sastra yang baik juga bekerja demikian? Ia membuat manusia merasa tidak sendirian. Ia membuat seseorang yang sedang terluka merasa bahwa ada orang lain yang pernah mengalami kesedihan serupa. Ia menghadirkan empati di tengah dunia yang semakin sibuk pada dirinya sendiri.
Sebab itu saya selalu percaya, Iduladha dan sastra bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya mengajarkan manusia agar tidak menjadi makhluk yang hanya pandai menguasai, tetapi juga mampu merelakan. (✳️)
📌 Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

