Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Menarik juga saya membaca sebuah tulisan singkat berkaitan dengan usia Muhammadiyah yang sudah mencapai 117 tahun berdasarkan kalender Hijriah. Pembicaraan itu kemudian dihubungkan dengan pengkaderan dan jalan panjang pergerakan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern yang terus bergerak melintasi zaman.
Sebagai organisasi pergerakan, Muhammadiyah tentu tidak pernah berjalan di ruang hampa. Ia selalu dihadapkan pada dinamika gerakan, baik dari dalam maupun dari luar. Muhammadiyah yang sering disebut sebagai gerakan berkemajuan juga masih menghadapi berbagai tantangan besar. Dalam bidang politik, ekonomi, maupun pendidikan, meski telah banyak bergerak dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa, namun pengaruh dan perannya dalam menentukan arah besar republik ini masih belum sepenuhnya dominan. Karena itulah, pengkaderan, kesinambungan ideologi, dan estafet kepemimpinan menjadi sangat penting agar Muhammadiyah tetap kuat berlari di tengah perubahan zaman.
Dan sekarang menjelang Muktamar ke-49 dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”, Muhammadiyah ingin meneguhkan sekaligus menegaskan kembali peranan besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Tema itu bukan sekadar slogan seremonial, melainkan arah gerakan agar Muhammadiyah tetap hadir sebagai kekuatan pencerahan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa serta menghadirkan cahaya nilai Islam berkemajuan di tengah berbagai krisis moral, sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi negeri ini.
Kalau Muhammadiyah diibaratkan sebuah perlombaan, maka ia bukan lari sprint yang selesai dalam hitungan detik, melainkan lari estafet panjang yang sudah berlangsung selama 117 tahun Hijriah. Sebuah perjalanan sejarah yang melibatkan banyak generasi, banyak pelari, dan pergantian tongkat dari masa ke masa.
Dalam lari estafet, kemenangan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat berlari, tetapi oleh kemampuan menjaga ritme, arah, kekompakan, dan yang paling penting: kemampuan menyerahkan tongkat kepada pelari berikutnya.
Tongkat itulah ideologi.
Tongkat itulah nilai.
Tongkat itulah ruh perjuangan Muhammadiyah.
Para pimpinan Persyarikatan dari masa ke masa hanyalah pelari yang mendapat amanah membawa tongkat tersebut. Tidak ada pelari yang memiliki tongkat itu untuk dirinya sendiri. Karena tongkat perjuangan bukan warisan pribadi, melainkan amanah kolektif yang harus diteruskan.
Di sinilah kadang letak persoalannya.
Ada pelari yang terlalu menikmati posisinya di lintasan sehingga lupa bahwa tugas utamanya bukan sekadar berlari, tetapi memastikan tongkat sampai kepada pelari berikutnya. Bahkan ada yang memegang tongkat terlalu lama, enggan menyerahkannya, sehingga pelari di depan tetap berlari tetapi tanpa tongkat.
Padahal dalam aturan estafet, pelari tercepat sekalipun tidak akan dianggap menang jika ia berlari tanpa membawa tongkat. Sebab kemenangan bukan soal siapa paling depan, melainkan siapa yang mampu menjaga kesinambungan perjuangan.
Muhammadiyah bertahan lebih dari satu abad bukan karena hebatnya satu orang, tetapi karena berhasilnya proses kaderisasi dan regenerasi ideologi. Dari KH Ahmad Dahlan hingga hari ini, estafet itu terus berjalan karena selalu ada yang siap menerima dan meneruskan tongkat perjuangan.
Alhamdulillah, di Muhammadiyah para pelarinya masih berada pada koridornya. Mereka menjaga napas perjuangan, merawat stamina gerakan, serta tetap istiqamah membawa tongkat ideologi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah Muhammadiyah hingga 117 tahun masih berdiri kuat, tegar, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Niscaya semua itu terjadi karena Allah SWT meridhai langkah perjuangan ini. Amin.
Di sinilah peran MPKSDI ( Majelis Kader dan sumber daya Insani ) menjadi penting. Bukan sekadar panitia perlombaan, tetapi ibarat tim pelatih dan briefing dalam lari estafet. Tugasnya mengingatkan para pelari agar tidak salah jalur, tidak salah tujuan, tidak bertabrakan, dan yang paling utama: jangan sampai lupa membawa tongkat ideologi ketika berlari.
Karena organisasi besar sering kali tidak runtuh akibat kekurangan pelari hebat, tetapi karena gagalnya penyerahan tongkat nilai dan ideologi kepada generasi berikutnya.
Dan lucunya, kadang ada pelari yang sibuk merasa dirinya paling cepat, tetapi tidak sadar tongkatnya tertinggal di belakang. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

