Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Salah satu watak kekuasaan yang paling berbahaya adalah kecenderungannya menjauh dari kenyataan. Semakin tinggi sebuah kekuasaan berdiri, semakin besar pula kemungkinan ia hanya mendengar apa yang ingin didengarnya. Di sekitar pemimpin perlahan tumbuh lingkungan yang dipenuhi pujian, laporan indah, dan kata-kata yang menenangkan. Akibatnya, kenyataan sering kalah oleh pencitraan.
Dalam banyak pemerintahan, perusahaan, bahkan organisasi kecil, ada budaya yang terus hidup dari zaman ke zaman: budaya menyenangkan atasan. Bawahan belajar bahwa menyampaikan kabar buruk bisa berisiko, sementara membawa kabar baik lebih aman dan menguntungkan. Maka laporan disusun sehalus mungkin. Masalah diperkecil. Kekurangan ditutupi. Kegagalan diberi nama lain agar terdengar seperti keberhasilan yang tertunda.
Lama-lama kekuasaan hidup bukan di atas realitas, tetapi di atas ilusi.
Padahal rakyat hidup dalam kenyataan yang tidak bisa diedit oleh presentasi dan laporan resmi. Rakyat merasakan langsung harga yang naik, pelayanan yang buruk, ketidakadilan, atau janji yang tidak sampai. Ketika pengalaman rakyat berbeda terlalu jauh dari narasi kekuasaan, lahirlah ketidakpercayaan.
Akibatnya, pemimpin sering salah berkomunikasi dengan rakyatnya sendiri. Bahasa yang dipakai penguasa menjadi berbeda dengan bahasa yang dirasakan masyarakat. Pemimpin merasa sedang memberi harapan, tetapi rakyat mendengarnya sebagai pengingkaran terhadap kenyataan. Penguasa merasa sedang menyampaikan optimisme, sementara rakyat justru merasa penderitaannya tidak dipahami. Di titik itu komunikasi tidak lagi menjadi jembatan, tetapi berubah menjadi jurang antara kekuasaan dan masyarakat.
Masalah ini semakin rumit karena di sekitar kekuasaan banyak orang hidup dalam ketakutan dan kepentingan. Ada yang takut kehilangan fasilitas, jabatan, proyek, kedekatan, atau kenyamanan hidup. Ada pula yang sedang berusaha mendapatkan semua itu. Karena itulah sebagian orang akhirnya memilih menutup mata dan nurani. Mereka tidak lagi mengatakan apa yang benar, tetapi mengatakan apa yang dibutuhkan untuk menyenangkan pemimpin.
Dalam situasi seperti itu, kejujuran menjadi barang mahal. Orang yang berkata apa adanya sering dianggap berbahaya. Sementara mereka yang pandai memuji justru dianggap loyal. Padahal loyalitas yang kehilangan kejujuran sebenarnya hanya sedang menjerumuskan kekuasaan secara perlahan.
Namun ironinya, dalam banyak sistem kekuasaan, kritik justru lebih ditakuti daripada kebohongan. Orang yang berkata jujur sering dianggap mengganggu stabilitas. Orang yang mengingatkan bahaya dianggap tidak loyal. Sementara mereka yang terus memuji justru mendapatkan tempat paling dekat dengan pusat kekuasaan.
Di situlah awal kemunduran biasanya dimulai.
Sejarah memperlihatkan bahwa banyak pemimpin akhirnya jatuh bukan karena tidak cerdas, bukan karena tidak punya program, tetapi karena terlalu lama hidup dalam ruang yang steril dari kejujuran. Mereka mendengar tepuk tangan lebih sering daripada keluhan. Mereka melihat angka-angka lebih banyak daripada wajah rakyat. Mereka percaya keadaan baik-baik saja karena semua orang di sekelilingnya berkata demikian.
Padahal kenyataan tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan. Ia hanya ditunda untuk terlihat.
Di masa Soekarno maupun Soeharto, kritik terhadap penguasa sering dipandang sebagai ancaman terhadap negara. Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir semua kekuasaan memiliki kecenderungan yang sama: menyamakan kritik terhadap pemerintah dengan kebencian terhadap bangsa.
Padahal kritik sering lahir justru karena masih adanya kepedulian. Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya memilih diam.
Masalahnya, di sekitar kekuasaan selalu ada orang-orang yang hidup dari kedekatan dan kepentingan. Mereka menjaga agar pemimpin tetap nyaman. Mereka menyaring informasi. Mereka memastikan suara yang sampai hanyalah suara yang menyenangkan. Dalam situasi seperti itu, pemimpin perlahan kehilangan hubungan dengan kenyataan.
Kekuasaan akhirnya menjadi menara tinggi yang megah, tetapi gelap di bagian bawahnya.
Karena itu, pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang anti kritik. Pemimpin yang kuat adalah yang berani mendengar kenyataan pahit tanpa merasa direndahkan. Yang mau memeriksa sendiri keadaan tanpa terlalu bergantung pada laporan bawahan. Yang memahami bahwa pujian berlebihan sering kali lebih berbahaya daripada kritik paling keras.
Sebab negara, organisasi, atau pemerintahan tidak runtuh karena terlalu banyak kritik. Ia lebih sering runtuh karena terlalu banyak kepalsuan yang dipelihara terlalu lama.
Dan dalam banyak keadaan, suara rakyat yang jujur sering jauh lebih berharga daripada laporan yang terlalu indah. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

