Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Di negeri yang mengaku menjunjung demokrasi, kritik seharusnya tidak dianggap sebagai dosa, apalagi ketika kritik itu diarahkan kepada kekuasaan. Termasuk kepada Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden yang lahir dari proses politik yang sejak awal sudah memunculkan perdebatan besar di ruang publik.
Banyak anak muda sesungguhnya masih menyimpan pertanyaan: bagaimana proses politik itu bisa terjadi? Bagaimana aturan bisa berubah di tengah jalan? Mengapa aroma kekuasaan keluarga terasa begitu kuat? Dan mengapa komunikasi publik yang ditampilkan sering dianggap tidak menunjukkan kedalaman kepemimpinan nasional yang matang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan kebencian. Itu bagian dari akal sehat demokrasi.
Pemuda dalam sejarah bangsa ini bukan kelompok tepuk tangan kekuasaan. Pemuda adalah suara koreksi. Dari masa pergerakan nasional, lahirnya Sumpah Pemuda, hingga reformasi 1998, anak muda berdiri sebagai pengingat bahwa kekuasaan tidak boleh terlalu nyaman tanpa kritik.
Karena itu terasa aneh ketika sebagian organisasi kepemudaan justru berubah menjadi barisan pembela tanpa jarak. Kritik dianggap ancaman. Kedekatan dengan penguasa dianggap prestasi. Bahkan ada yang rela menjadi “penjilat politik” demi akses, proyek, atau kedekatan simbolik dengan kekuasaan.
Padahal tugas moral pemuda bukan menjaga perasaan pejabat. Tugas pemuda adalah menjaga akal sehat publik.
Jika komunikasi seorang pemimpin dianggap lemah, katakan lemah. Jika kapasitasnya dirasa belum memenuhi standar kepemimpinan nasional, sampaikan secara argumentatif. Jika proses politiknya dianggap problematik secara etik demokrasi, kritik secara terbuka dan cerdas.
Demokrasi tidak membutuhkan generasi yang pandai memuji. Demokrasi membutuhkan generasi yang berani bertanya.
Namun kritik juga harus tetap memiliki adab intelektual. Jangan berubah menjadi fitnah, kebencian pribadi, atau penghinaan fisik. Pemuda harus menjadi kelompok yang tajam dalam gagasan, bukan kasar dalam cacian. Sebab kualitas kritik menentukan kualitas demokrasi itu sendiri.
Yang paling berbahaya sebenarnya bukan pemimpin yang dikritik. Yang berbahaya adalah ketika generasi muda kehilangan keberanian untuk mengkritik.
Saat pemuda hanya sibuk mencari posisi aman di dekat kekuasaan, maka yang lahir bukan generasi perubahan, melainkan generasi pengikut. Dan sejarah biasanya tidak terlalu menghormati para penjilat kekuasaan.
Bangsa ini membutuhkan anak-anak muda yang tetap bisa bersalaman dengan penguasa, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk mengatakan: “Kami mendukung yang benar, dan kami mengkritik yang keliru.”
Karena loyalitas tertinggi pemuda seharusnya bukan kepada pejabat, melainkan kepada masa depan bangsa. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

