Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Melalui akun media sosial Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. Haedar Nashir mengabarkan bahwa Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, KH Hamim Ilyas, telah meninggal dunia pada dini hari tadi. Kabar itu menghadirkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia, sebab Muhammadiyah kembali kehilangan seorang ulama teduh yang selama ini menghadirkan cahaya ilmu, keteladanan, dan pencerahan bagi umat dalam diam dan kerendahan hati.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kadang sebuah gerakan besar tidak hanya ditopang oleh mereka yang sering tampil di depan panggung, tetapi juga oleh sosok-sosok yang bekerja dalam keheningan, menyalakan cahaya ilmu tanpa banyak sorotan. Demikianlah kesan yang terasa ketika Muhammadiyah kehilangan Prof. KH Hamim Ilyas. Beliau bukan tipe ulama yang ramai dengan popularitas, tetapi kehadirannya menghadirkan penerangan bagi umat dan ketenangan dalam perjalanan dakwah Islam berkemajuan.
Di tengah zaman yang sering dipenuhi kegaduhan dan pertarungan opini, almarhum hadir dengan keteduhan. Cara berpikirnya jernih, tutur katanya lembut, dan pandangannya luas. Beliau mengajarkan bahwa dakwah tidak harus selalu keras untuk bisa didengar. Kadang keteladanan yang tenang justru lebih membekas dan menerangi kehidupan.
Muhammadiyah kehilangan bukan hanya seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, tetapi juga seorang intelektual Muslim yang berusaha menghadirkan wajah Islam yang mencerahkan dan memanusiakan. Salah satu warisan penting beliau adalah gagasan Tauhid Rahamutiyah, sebuah konsep yang menegaskan bahwa inti ketauhidan harus melahirkan rahmah atau kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Dalam pandangan beliau, agama tidak boleh berhenti pada ritual dan simbol semata. Keimanan harus melahirkan kepedulian, keadilan sosial, perdamaian, dan kemaslahatan bagi manusia. Islam harus hadir sebagai cahaya yang menyembuhkan kegelisahan zaman, bukan justru menambah permusuhan dan kebencian.
Karena itu, ketika Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara mengusung tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya,” sesungguhnya almarhum telah lebih dahulu menghidupkan ruh dari tema besar tersebut dalam perjalanan hidupnya. Beliau memang tidak sempat menyaksikan langsung muktamar itu, namun beliau sendiri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari aktualisasi pesan tersebut.
Beliau adalah ulama yang mencerdaskan umat dengan ilmu dan menerangi umat dengan akhlak. Sosok yang mungkin jarang terlihat di ruang-ruang popularitas, tetapi kehadirannya terasa dalam denyut pemikiran Muhammadiyah dan perjalanan dakwah Islam berkemajuan.
Di era ketika banyak orang berlomba tampil dan berbicara keras agar dianggap penting, kehadiran sosok seperti Prof. Hamim Ilyas justru mengingatkan bahwa pengaruh terbesar sering lahir dari keteduhan. Bahwa ilmu yang mendalam tidak selalu membutuhkan kegaduhan. Dan bahwa ulama sejati bukan hanya mereka yang pandai berbicara, tetapi mereka yang mampu menghadirkan ketenangan, pencerahan, dan harapan bagi umat.
Kepergian beliau menjadi kehilangan besar, tetapi juga meninggalkan pesan penting bagi Muhammadiyah agar terus melahirkan kader dan ulama yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teduh secara spiritual dan sosial. Sebab gerakan besar tidak cukup hanya dengan slogan, melainkan membutuhkan kedalaman ilmu, keluasan hati, dan keteladanan moral.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi turut menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di jannatun na’im.
Selamat jalan ulama pencerah. Cahaya teduh itu kini memang telah berpulang, tetapi sinarnya akan tetap hidup dalam perjalanan Muhammadiyah untuk mencerdaskan bangsa dan menerangi semesta. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

