Site icon TAJDID.ID

Aisyiyah Tak Lekang oleh Waktu di Tengah Tantangan Zaman Digital

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Milad ‘Aisyiyah ke-109 tahun ini terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena usia pengabdiannya yang telah melewati lebih dari satu abad, tetapi karena organisasi perempuan Muhammadiyah ini tetap mampu berdiri kokoh di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan penuh tantangan.

Seratus sembilan tahun bukan perjalanan pendek. Banyak organisasi lahir dengan gegap gempita lalu perlahan hilang ditelan waktu. Namun ‘Aisyiyah tetap hidup, tumbuh, dan bergerak bersama denyut kehidupan masyarakat. Dari masa kolonial, masa kemerdekaan, era pembangunan, hingga zaman digital hari ini, ‘Aisyiyah terus hadir membawa dakwah yang mencerahkan.

Kekuatan terbesar ‘Aisyiyah sesungguhnya terletak pada ketulusan perempuan-perempuan yang menggerakkannya. Mereka hadir sebagai ibu, pendidik, penggerak sosial, sekaligus penjaga nilai-nilai keluarga dan masyarakat. Tidak selalu tampil di panggung besar, tetapi kerja-kerja mereka nyata dirasakan umat.

Di tengah kehidupan modern sekarang, tantangan perempuan dan para ibu jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Jika dahulu tantangan lebih banyak berkaitan dengan akses pendidikan dan ruang sosial, maka hari ini tantangan datang dari berbagai arah sekaligus. Persoalan ekonomi keluarga, pendidikan anak, perubahan budaya, tekanan kehidupan perkotaan, hingga derasnya arus teknologi digital menjadi bagian dari ujian sehari-hari.

Teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Informasi menjadi cepat diperoleh, komunikasi menjadi mudah, dan peluang ekonomi semakin terbuka. Namun di sisi lain, dunia digital juga menghadirkan ancaman yang tidak ringan bagi keluarga dan generasi muda.

Hari ini banyak anak lebih akrab dengan layar telepon genggam dibanding percakapan dengan orang tua. Banyak remaja mendapatkan pelajaran kehidupan bukan dari guru dan keluarga, tetapi dari media sosial yang belum tentu benar arah nilainya. Bahkan tidak sedikit rumah tangga yang secara fisik berkumpul, tetapi secara batin sibuk dengan dunia masing-masing.

Di sinilah perempuan dan para ibu menghadapi tantangan besar. Mereka bukan hanya mengurus kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi benteng moral dan pendamping generasi digital. Tugas ini tentu tidak mudah, sebab teknologi bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan sebagian keluarga dalam mengawasinya.

Karena itu, perempuan masa kini tidak cukup hanya memiliki ketulusan, tetapi juga membutuhkan ilmu, literasi digital, dan kemampuan memahami perubahan zaman. Seorang ibu hari ini harus mampu menjadi pendidik, sahabat anak, sekaligus penuntun moral di tengah derasnya arus informasi yang kadang sulit dibendung.

Dalam situasi seperti inilah peran ‘Aisyiyah menjadi semakin penting. Gerakan perempuan Islam berkemajuan ini tidak boleh hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi harus terus memperkuat pendidikan keluarga, penguatan akhlak, literasi digital, kesehatan mental, hingga pemberdayaan ekonomi perempuan.

Dakwah hari ini juga tidak cukup hanya dilakukan di mimbar pengajian. Ruang digital telah menjadi medan dakwah baru yang harus diisi dengan nilai-nilai Islam yang menenangkan dan mencerdaskan. Jika ruang digital dibiarkan kosong dari nilai, maka generasi muda akan lebih mudah dipengaruhi oleh budaya instan, individualisme, bahkan krisis moral.

Karena itu, Milad ‘Aisyiyah ke-109 bukan sekadar perayaan usia organisasi. Ia adalah momentum refleksi tentang pentingnya membangun perempuan yang tangguh, cerdas, berakhlak, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan sejak awal telah meletakkan dasar bahwa perempuan harus memperoleh pendidikan dan kesempatan untuk memajukan masyarakat. Gagasan itu hari ini terasa semakin relevan. Sebab kemajuan bangsa sesungguhnya sangat ditentukan oleh kualitas perempuan dan para ibu dalam mendidik generasi.

Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi juga oleh keluarga yang sehat, ibu yang cerdas, dan generasi muda yang memiliki akhlak.

Dan selama perempuan-perempuan ‘Aisyiyah tetap bergerak dengan ilmu, ketulusan, dan pengabdian, maka cahaya gerakan ini insyaAllah akan terus hidup, tidak lekang oleh waktu. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version