Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Pagi ini saya kembali teringat pada satu fase penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, ketika Muhammadiyah dipimpin oleh AR Fakhruddin dan negara dipimpin oleh Soeharto. Dua tokoh ini hidup dalam zaman yang sama, tetapi berada pada posisi yang berbeda. Yang satu memimpin organisasi Islam besar, yang satu memimpin negara dengan kekuasaan yang sangat kuat selama Orde Baru.
Menariknya, hubungan keduanya tidak selalu digambarkan dalam suasana pertentangan, tetapi juga bukan hubungan tanpa jarak. Di situlah kebijaksanaan Pak AR terlihat. Beliau memahami bahwa Muhammadiyah harus tetap menjaga komunikasi dengan pemerintah demi kepentingan umat dan bangsa, tetapi pada saat yang sama Muhammadiyah tidak boleh kehilangan independensi moralnya.
Pak AR menjadi pemimpin Muhammadiyah bersamaan dengan kuatnya kekuasaan Orde Baru. Pada masa itu tidak mudah bagi organisasi masyarakat untuk menjaga sikap kritis. Banyak yang terlalu dekat dengan kekuasaan hingga kehilangan keberanian moral, tetapi ada pula yang memilih konfrontasi keras sehingga kehilangan ruang gerak. Pak AR memilih jalan tengah yang lebih bijaksana dan elegan.
Beliau menjaga jarak dengan pemerintah agar Muhammadiyah tetap mandiri, namun tetap menjaga hubungan baik demi kepentingan dakwah dan pembangunan umat. Yang paling penting, beliau tetap menjaga daya kritis Muhammadiyah dengan cara yang santun dan beradab. Kritik tidak disampaikan dengan kebencian, tetapi dengan hikmah. Ketegasan tidak diwujudkan dengan permusuhan, melainkan melalui sikap moral yang konsisten.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa Muhammadiyah bisa terus berkembang besar pada masa itu. Amal usaha pendidikan tumbuh, rumah sakit berkembang, dakwah meluas, dan kepercayaan masyarakat semakin kuat. Muhammadiyah tidak sibuk berebut kekuasaan, tetapi fokus membangun manusia. Dan negara saat itu juga melihat Muhammadiyah sebagai kekuatan moral dan sosial yang penting bagi bangsa.
Pak AR sendiri dikenal sebagai pribadi sederhana. Di tengah besarnya pengaruh Muhammadiyah, beliau tidak menampilkan kemewahan hidup. Bahkan kesederhanaannya sering menjadi cerita di kalangan warga Muhammadiyah. Beliau seakan ingin menunjukkan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari fasilitas dan kekuasaan, tetapi dari keikhlasan dan keteladanan.
Sementara Pak Harto dikenal sebagai sosok yang tegas dan sangat kuat dalam memegang kendali negara. Banyak kritik terhadap Orde Baru dalam sejarah reformasi, tetapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pada masa itu stabilitas politik dan pembangunan nasional menjadi orientasi utama pemerintah. Di antara dinamika itulah Muhammadiyah di bawah Pak AR berusaha tetap menjadi kekuatan umat yang tidak larut dalam arus kekuasaan.
Hari ini pelajaran itu terasa penting untuk direnungkan kembali. Organisasi keagamaan jangan kehilangan independensi hanya karena dekat dengan kekuasaan. Tetapi kekritisan juga tidak harus diwujudkan dalam kebisingan dan permusuhan. Ada cara yang lebih elegan, lebih dewasa, dan lebih beradab seperti yang dicontohkan Pak AR.
Karena sejarah tidak hanya mengingat siapa yang paling keras berbicara, tetapi juga siapa yang mampu menjaga moral, keikhlasan, dan keseimbangan di tengah godaan kekuasaan. Dan mungkin di situlah salah satu kekuatan terbesar Pak AR Fakhruddin, beliau lebih takut kehilangan keikhlasan daripada kehilangan jabatan. (*)

