Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Tebing Tinggi
Pagi Kamis 21 Mei 2026 ini awalnya saya ingin menulis tentang reformasi. Kamis 21 Mei adalah penanda 28 tahun sejak Presiden Soeharto menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998 dan kemudian digantikan oleh BJ Habibie. Sejak saat itu Indonesia memasuki babak baru yang disebut sebagai era reformasi, sebuah masa yang dahulu diharapkan membawa perubahan besar bagi demokrasi, kebebasan, dan kehidupan bangsa yang lebih baik.
Namun ketika pagi ini saya membuka media sosial, perhatian saya justru tertuju pada sebuah berita menarik tentang prestasi perguruan tinggi Muhammadiyah yang mendapatkan peringkat terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan kiprahnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Berita itu membuat saya sejenak meninggalkan pembahasan tentang reformasi, lalu memilih menulis tentang perguruan tinggi Muhammadiyah pagi ini.
Bagi saya, pendidikan juga merupakan bagian penting dari reformasi yang sesungguhnya. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pergantian kekuasaan dan perubahan politik, tetapi juga oleh kualitas ilmu pengetahuan, moralitas, dan kemampuan mencerdaskan masyarakatnya.
Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, hadirnya kampus-kampus Muhammadiyah dalam jajaran perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia tahun 2026 tentu menjadi kabar yang membanggakan. Ini bukan sekadar soal angka, ranking, atau reputasi akademik semata, tetapi tentang bagaimana gagasan Islam berkemajuan benar-benar hidup dalam dunia pendidikan, ilmu pengetahuan, pengabdian masyarakat, dan pembangunan peradaban bangsa.
Ketika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara berada di posisi teratas dalam daftar tersebut, disusul Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ahmad Dahlan, hingga Universitas Muhammadiyah Makassar, maka yang sesungguhnya sedang terlihat adalah buah panjang dari gerakan dakwah ilmu yang dibangun Muhammadiyah sejak lebih dari satu abad lalu.
Muhammadiyah sejak awal memang tidak hanya membangun masjid dan mimbar dakwah. Muhammadiyah membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan perguruan tinggi sebagai bagian dari gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena bagi Muhammadiyah, pendidikan adalah jalan peradaban. Pendidikan bukan hanya tempat memperoleh ijazah, tetapi tempat membentuk manusia yang tercerahkan akalnya, kuat moralnya, dan luas manfaatnya bagi masyarakat.
Tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” terasa sangat relevan dengan perkembangan kampus-kampus Muhammadiyah hari ini. Kampus Muhammadiyah tidak boleh hanya besar secara jumlah mahasiswa atau megah secara fisik bangunan, tetapi juga harus berdampak bagi kehidupan sosial, kemanusiaan, dan masa depan bangsa.
Kampus berkemajuan adalah kampus yang menghadirkan ilmu yang mencerahkan, bukan ilmu yang membuat manusia kehilangan nurani. Kampus yang melahirkan sarjana yang mampu berdialog dengan zaman, tetapi tetap memiliki akar moral dan spiritual yang kuat. Kampus yang tidak hanya mengejar akreditasi dan ranking, tetapi juga memikirkan nasib masyarakat kecil, keadilan sosial, lingkungan hidup, serta masa depan Indonesia.
Tantangan perguruan tinggi Muhammadiyah tentu semakin besar. Dunia berubah sangat cepat. Teknologi berkembang luar biasa. Kecerdasan buatan mulai mengubah pola kerja dan pola berpikir manusia. Media sosial menghadirkan banjir informasi sekaligus polarisasi. Sementara generasi muda menghadapi krisis identitas, budaya instan, dan melemahnya tradisi literasi.
Karena itu tugas intelektual, cendekiawan, dan akademisi Muhammadiyah ke depan semakin berat. Sebab tugas itu bukan hanya tugas administratif kampus atau sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi bagian dari misi besar Muhammadiyah dalam menjalankan amar makruf nahi munkar di tengah kehidupan bangsa yang terus berubah.
Kampus Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar gelar, jabatan akademik, publikasi, atau sekadar prestise intelektual. Lebih dari itu, perguruan tinggi Muhammadiyah harus menjadi ruang lahirnya keberanian moral dan keberanian berpikir. Sebab ilmu tanpa keberpihakan pada kebenaran hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Hari ini kita melihat ada kecenderungan sebagian intelektual dan akademisi memilih jalan aman. Tidak kritis terhadap ketidakadilan, takut bersuara terhadap penyimpangan, bahkan kadang lebih sibuk mengkultuskan simbol akademik daripada menghadirkan kebermanfaatan ilmu bagi masyarakat. Kampus akhirnya berisiko menjadi menara gading yang jauh dari denyut persoalan rakyat.
Padahal intelektual Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai kelompok pembaru yang berani berpikir maju, kritis, dan berpihak pada pencerahan umat. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa agama harus melahirkan tindakan sosial dan keberanian memperbaiki keadaan. Karena itu intelektual Muhammadiyah tidak cukup hanya pandai berbicara di ruang seminar, tetapi juga harus hadir memberi arah, solusi, dan keteladanan bagi persoalan bangsa.
Kampus dan intelektual yang berdampak adalah tugas peradaban. Kampus harus mampu melahirkan gagasan besar, membangun budaya membaca dan menulis, menjaga akal sehat publik, serta menjadi kekuatan moral di tengah pragmatisme politik, krisis etika, korupsi, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial.
Kampus Muhammadiyah juga telah banyak melahirkan guru besar, profesor, intelektual, dan akademisi yang tersebar di berbagai bidang ilmu. Tentu ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah besar bagi Muhammadiyah. Sebab gelar akademik yang tinggi sejatinya bukan hanya simbol keilmuan, tetapi juga tanggung jawab moral dan tanggung jawab peradaban.
Kita berharap para guru besar Muhammadiyah bukan hanya memiliki ilmu yang tinggi, tetapi juga berjiwa besar. Ilmunya melangit, tetapi tetap membumi. Dekat dengan masyarakat, peka terhadap persoalan umat, dan tidak kehilangan kesederhanaan serta keteladanan moral. Karena semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam pula kebijaksanaan dan kerendahan hatinya.
Muhammadiyah membutuhkan akademisi yang bukan sekadar hebat dalam ruang seminar dan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu menjaga nilai, marwah, dan martabat Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan gerakan pencerahan. Guru besar Muhammadiyah harus menjadi penjaga akal sehat publik, penjaga tradisi ilmu, sekaligus penjaga etika sosial di tengah kehidupan bangsa yang semakin kompleks.
Jangan sampai kampus hanya melahirkan orang pintar, tetapi miskin keberanian moral. Jangan sampai gelar akademik justru menjauhkan intelektual dari denyut kehidupan rakyat. Sebab ilmu yang besar seharusnya melahirkan pengabdian yang besar pula.
Di situlah pentingnya kampus Muhammadiyah terus merawat tradisi intelektual yang berakhlak. Tradisi ilmu yang tidak hanya mengejar prestasi administratif, tetapi juga menghadirkan keberanian berpikir, ketajaman analisis, dan ketulusan pengabdian. Karena tugas perguruan tinggi Muhammadiyah bukan hanya membangun gedung dan reputasi, tetapi membangun manusia yang mampu menjaga cahaya peradaban dan meneruskan cita-cita besar Muhammadiyah untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Sebab ketika kampus kehilangan daya kritisnya, maka bangsa perlahan kehilangan arah peradabannya. Dan ketika intelektual memilih diam demi kenyamanan, maka ruang publik akan dipenuhi kegaduhan tanpa kedalaman pemikiran. Karena itu tugas perguruan tinggi Muhammadiyah hari ini bukan hanya mencetak sarjana, tetapi menjaga cahaya akal sehat dan nurani bangsa agar tetap menyala.
Muhammadiyah telah membuktikan bahwa gerakan Islam mampu berjalan berdampingan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, modernitas, dan keterbukaan. Inilah wajah Islam berkemajuan yang sesungguhnya: religius tetapi rasional, modern tetapi tetap berakhlak, maju tetapi tetap membumi.
Semoga kampus-kampus Muhammadiyah terus menjadi pelita peradaban. Melahirkan generasi yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat integritasnya, dan luas pengabdiannya. Karena ketika ilmu dipadukan dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan, maka pendidikan bukan hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga membuat semesta menjadi lebih bercahaya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

