Oleh: Heri Isnaini
Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, masyarakat Nusantara telah mengenal cerita. Cerita hadir di balai adat, di beranda rumah, di ladang, di pesantren, di pelabuhan, bahkan di perjalanan panjang para pengembara. Orang-orang tua menuturkan hikayat, mantra, pantun, dongeng, mite, legenda, dan syair kepada generasi berikutnya. Tradisi itu hidup dari mulut ke mulut, berpindah dari satu ingatan ke ingatan lain. Inilah yang kemudian dikenal sebagai sastra lisan.
Sering kali sastra lisan dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang sekadar berfungsi sebagai hiburan rakyat. Padahal, di balik cerita-cerita itu tersimpan nilai budaya, pandangan hidup, dan identitas kolektif masyarakat.
Sastra lisan bukan hanya warisan estetika, melainkan juga ruang pembentukan kesadaran sosial. Bahkan, dalam konteks Indonesia, sastra lisan memiliki hubungan penting dengan lahirnya semangat nasionalisme.
Nasionalisme Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba pada awal abad ke-20. Kesadaran kebangsaan tumbuh dari pengalaman budaya yang panjang. Masyarakat Nusantara mungkin berbeda bahasa, adat, dan wilayah, tetapi mereka memiliki pola kebudayaan yang serupa, yaitu tradisi bertutur, penghormatan terhadap leluhur, semangat gotong royong, dan nilai kebersamaan. Sastra lisan menjadi salah satu medium yang menjaga nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah masyarakat.
Melalui legenda dan hikayat, masyarakat belajar tentang keberanian, pengorbanan, keadilan, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Cerita “Malin Kundang” mengajarkan pentingnya menghormati orang tua dan asal-usul.
“Legenda Sangkuriang” memperlihatkan hubungan manusia dengan alam dan identitas wilayahnya.
Kisah “Lutung Kasarung” menghadirkan nilai spiritual dan kepemimpinan yang bijaksana.
Di berbagai daerah Nusantara, cerita rakyat membentuk karakter masyarakat sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
Dalam masa penjajahan, sastra lisan juga menjadi ruang perlindungan identitas budaya. Ketika kolonialisme berusaha menguasai wilayah dan pikiran masyarakat, cerita rakyat tetap hidup sebagai bentuk perlawanan simbolik. Rakyat yang tidak memiliki akses pendidikan formal tetap dapat mewariskan nilai dan sejarah melalui tuturan. Sastra lisan menjaga ingatan kolektif agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya.
Di sinilah sastra lisan memiliki peran penting dalam pembentukan nasionalisme. Nasionalisme bukan hanya soal politik dan negara, tetapi juga tentang kesadaran budaya. Sebuah bangsa lahir ketika masyarakat merasa memiliki pengalaman, nilai, dan identitas bersama. Sastra lisan membantu membangun kesadaran itu karena cerita-cerita rakyat di berbagai daerah sesungguhnya memiliki semangat yang mirip, yaitu perjuangan melawan ketidakadilan, penghormatan terhadap leluhur, keberanian menghadapi tantangan, dan kecintaan pada tanah air.
Menariknya, sastra lisan juga memperlihatkan keberagaman Indonesia. Setiap daerah memiliki cerita yang berbeda, tetapi semuanya membentuk mosaik kebudayaan Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, sastra lisan memperlihatkan bahwa Indonesia dibangun dari banyak suara. Nasionalisme Indonesia bukan nasionalisme yang menghapus identitas lokal, melainkan nasionalisme yang tumbuh dari keberagaman budaya.
Ketika memasuki masa pergerakan nasional, semangat yang hidup dalam sastra lisan perlahan menemukan bentuk modernnya melalui bahasa Indonesia dan sastra tulis. Cerita-cerita rakyat mulai dikumpulkan, ditulis, dan dipublikasikan. Para intelektual menyadari bahwa kebudayaan lokal adalah fondasi penting bagi identitas nasional. Sastra lisan menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan sastra Indonesia modern.
Puisi, novel, dan drama Indonesia kemudian banyak mengambil unsur dari tradisi lisan. Bahkan hingga sekarang, karya-karya sastra modern masih sering memanfaatkan mitos, legenda, mantra, dan cerita rakyat sebagai bagian dari pencarian identitas bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa sastra lisan tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup dalam bentuk baru.
Di era digital saat ini, sastra lisan menghadapi tantangan besar. Tradisi bertutur mulai tergeser oleh budaya visual dan media sosial yang serba cepat. Banyak generasi muda mengenal cerita luar negeri, tetapi perlahan melupakan cerita dari daerahnya sendiri.
Jika keadaan ini terus berlangsung, bangsa Indonesia bukan hanya kehilangan cerita, tetapi juga kehilangan sebagian ingatan budayanya.
Karena itu, menjaga sastra lisan sesungguhnya adalah menjaga nasionalisme budaya. Cerita rakyat, pantun, mantra, dan hikayat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai yang dapat memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Pembelajaran sastra di sekolah juga perlu memberi ruang lebih besar bagi sastra lisan agar generasi muda memahami akar budayanya sendiri.
Pada akhirnya, nasionalisme tidak hanya dibangun melalui pidato politik atau simbol negara, tetapi juga melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sastra lisan mengajarkan bahwa bangsa Indonesia lahir dari tradisi bertutur yang panjang. Dari suara para pendongeng di kampung-kampung itulah tumbuh kesadaran tentang manusia, tanah air, dan kehidupan bersama. Sebab, bangsa yang mampu menjaga cerita-ceritanya adalah bangsa yang masih memiliki arah bagi masa depannya. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

