Site icon TAJDID.ID

Pengajian PRM Lubuk Pakam Pekan Bedah Sejarah dan Hikmah Kurban

TAJDID.ID~Lubuk Pakam 🔳  Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Lubuk Pakam Pekan kembali menggelar Pengajian Rutin yang berlangsung khidmat di Masjid Taqwa Lubuk Pakam, Selasa (19/5) malam. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus meneguhkan ideologi gerakan dakwah di kalangan warga Persyarikatan.

Pengajian malam ini dihadiri oleh jajaran pengurus, anggota, serta simpatisan PRM Lubuk Pakam Pekan yang tampak antusias mengikuti pengajian dari awal hingga selesai.

Bertindak sebagai shohibul bait (tuan rumah) pada pertemuan kali ini adalah Bapak Ade Bustami.

Meneladani Kurban: Dari Masa ke Masa

Adapun penceramah yang memberikan materi kajian adalah Ustadz Buya Mukhtar Hasan. Dalam tausiyahnya, beliau mengupas tuntas materi yang sangat relevan menjelang bulan Zulhijah, yakni “Sejarah dan Hikmah Ibadah Kurban”*.

Ustadz Buya Mukhtar Hasan membedah secara mendalam akar sejarah kurban yang terbagi dalam dua fase besar peradaban manusia:

Pertama, pada zaman Nabi Adam AS (Kisah Qabil dan Habil).

Beliau mengingatkan bahwa kurban pertama di bumi mengajarkan tentang ketulusan dan ketakwaan.

Allah SWT hanya menerima kurban dari hamba-Nya yang bertakwa (Habil), sementara kurban yang didasari rasa ketidakikhlasan dan kedengkian (Qabil) ajab ditolak oleh Allah SWT.

Kedua, zaman Nabi Ibrahim AS.

Ustadz Buya Mukhtar Hasan menuturkan, fase ini menjadi puncak syariat yang mendasari ummat Uskam mengamalan ibadah kurban hingga saat ini..

“Kisah ketundukan mutlak Nabi Ibrahim dan keikhlasan luar biasa Nabi Ismail AS saat menerima perintah Allah menjadi simbol pengorbanan tertinggi yang menghancurkan egoisme kemanusiaan,” jelas Ustadz Buya Mukhtar Hasan.

 

Refleksi Dakwah Muhammadiyah

Buya Mukhtar Hasan menegaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya. “Lebih dari itu, kurban adalah manifestasi dari kesalehan ritual yang harus berdampak pada kesalehan sosial,” tegasnya.

Bagi warga Muhammadiyah, hikmah kurban harus ditransformasikan ke dalam gerak nyata (amal saleh) untuk membantu sesama, mengikis sifat kikir, dan memperkuat pilar ekonomi umat.

“Semangat berkurban adalah jiwa dari dakwah amar makruf nahi munkar yang terus digaungkan oleh Muhammadiyah demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” jelasnya.

Pengajian ditutup dengan sesi tanya jawab antara jamaah dengan penceramah terkait seputar tema pengajian. (*)

Exit mobile version