Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Ada percakapan menarik beberapa waktu lalu. Seseorang bertanya kepada saya tentang siapa sebenarnya yang disebut kader Muhammadiyah. Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya penting, sebab masih ada yang memahami Muhammadiyah seolah hanya milik kelompok keluarga tertentu atau diwariskan secara turun-temurun.
Saya menjelaskan bahwa kader Muhammadiyah adalah mereka yang aktif, berkontribusi, memiliki komitmen, serta terlibat dalam gerakan Muhammadiyah. Kader bukan sekadar nama, bukan pula hanya pengakuan sosial, tetapi orang yang hidup bersama denyut perjuangan Muhammadiyah.
Lalu dia bertanya lagi, “Apakah karena orang tuanya Muhammadiyah?”
Saya menjawab, bukan orang tuanya, tetapi yang bersangkutan. Sebab Muhammadiyah bukan warisan keluarga. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, gerakan ilmu dan gerakan amal yang terbuka bagi siapa saja yang ingin berjuang di dalamnya.
Karena itu, meskipun orang tuanya bukan warga Muhammadiyah, bahkan bukan orang Islam sekalipun, jika seseorang kemudian menjadi warga Muhammadiyah, memiliki kartu anggota Muhammadiyah, aktif mengikuti pengkaderan, kegiatan organisasi, serta berkomitmen dalam perjuangan Muhammadiyah, maka secara organisasi ia adalah kader Muhammadiyah.
Namun sesungguhnya menjadi kader bukan semata soal memiliki kartu anggota Muhammadiyah, melainkan soal sikap, akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kartu anggota hanyalah tanda administratif, sementara nilai kader sejati terlihat dari bagaimana seseorang menjaga amanah, memperlakukan orang lain, menjaga integritas dan berjuang untuk kemaslahatan umat.
Inilah salah satu kekuatan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Gerakan ini tidak dibangun atas dasar darah dan keturunan, tetapi atas dasar nilai, pemikiran, pengabdian dan amal nyata. Muhammadiyah tidak bertanya siapa ayahmu, margamu atau keluargamu, tetapi apa kontribusimu bagi umat, bangsa dan kemanusiaan.
Di sinilah pentingnya melahirkan kader yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, spiritual dan kemanusiaan. Sebab cita-cita “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” bukan sekadar slogan indah, melainkan harapan agar kader Muhammadiyah mampu menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat, umat dan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya soal gelar dan ijazah, tetapi kemampuan menghadirkan solusi, keteladanan dan keberlanjutan perjuangan dalam kehidupan nyata.
Dia lalu melanjutkan pertanyaannya, “Apakah dia boleh menjadi pengelola Amal Usaha Muhammadiyah?”
Saya menjelaskan bahwa setiap kader Muhammadiyah pada dasarnya memiliki hak untuk mengelola Amal Usaha Muhammadiyah sesuai dengan ketentuan organisasi dan syarat yang berlaku. Sebab Amal Usaha Muhammadiyah bukanlah milik pribadi atau kelompok tertentu, melainkan alat perjuangan dakwah Muhammadiyah.
Tentu ada mekanisme, ada syarat, ada kompetensi dan ada amanah yang harus dijaga. Tetapi prinsip dasarnya tetap sama, bahwa kesempatan itu terbuka bagi kader yang memiliki loyalitas, kemampuan dan tanggung jawab terhadap Muhammadiyah.
Kader Muhammadiyah juga harus menjaga martabat pribadi dan martabat persyarikatan. Sebab Muhammadiyah bukan hanya berbicara soal organisasi, tetapi juga akhlak dan keteladanan. Karena itu kader Muhammadiyah harus berusaha menjauhi perjudian, korupsi, zina, penyalahgunaan jabatan, fitnah dan berbagai perbuatan lain yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebab sebesar apa pun jabatan seseorang di organisasi, jika akhlaknya rusak, maka yang tercoreng bukan hanya dirinya, tetapi juga nama baik persyarikatan.
Karena itu, menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar memakai atribut atau hadir dalam acara seremonial. Kader adalah mereka yang mau belajar, mau bergerak, mau menjaga organisasi dan mau berkhidmat untuk kepentingan umat.
Muhammadiyah sejak awal lahir bukan untuk membangun “trah organisasi”, tetapi membangun peradaban. Maka ukuran utamanya bukan garis keturunan, melainkan kesungguhan dalam perjuangan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

