Oleh: Ariati Dina Puspitasari
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah
Nasyiatul Aisyiyah kini memasuki usia ke-95 tahun. Usia yang matang bagi sebuah organisasi perempuan muda Islam untuk terus menata gerakan, memperkuat peran, serta menghadirkan kebermanfaatan bagi umat dan bangsa.
Dalam perjalanannya, Nasyiatul Aisyiyah terus bertumbuh dan berbenah. Berbagai program dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan jati diri sebagai organisasi kader putri Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Pada Milad ke-95 ini, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah mengusung tema “Srikandi Penjaga Arah Peradaban”. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa perempuan muda Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai, arah, dan masa depan peradaban.
Berdirinya Siswa Praja Wanita yang kemudian berkembang menjadi Nasyiatul Aisyiyah merupakan bukti nyata komitmen pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, terhadap pendidikan perempuan. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk membentuk perempuan yang mampu menjalankan peran secara ikhlas, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.
Pesan Kiai Dahlan kepada kader Muhammadiyah tetap relevan hingga hari ini. Ia mendorong generasi muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, menjadi profesional di berbagai bidang, namun tetap kembali dan berkhidmat untuk Muhammadiyah.
Kini, Muhammadiyah berkembang semakin pesat. Gerakan internasionalisasi Muhammadiyah telah menjadi kenyataan, dan dakwah Islam Berkemajuan terus diperkenalkan di panggung global. Karena itu, kader-kader Nasyiatul ‘Aisyiyah dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat keterampilan, serta mengambil bagian dalam memajukan organisasi.
Memajukan Nasyiatul ‘Aisyiyah sejatinya juga berarti memajukan Muhammadiyah. Semangat Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah menempatkan agama sebagai fondasi untuk membangun peradaban yang maju, berkeadaban, dan membawa kemaslahatan bagi semesta.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam tulisannya di Suara Muhammadiyah edisi awal tahun 2024 menyampaikan bahwa umat manusia kini hidup di era baru yang ditopang kemajuan teknologi canggih. Di tengah perkembangan tersebut, Muhammadiyah menawarkan paradigma pembangunan yang menyelamatkan, membawa kemanfaatan, dan menghadirkan kemaslahatan demi terwujudnya peradaban semesta yang rahmatan lil ‘alamin.
Pandangan tersebut sejalan dengan wasiat Kiai Dahlan tentang pentingnya akal budi, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus diiringi keberanian berpikir terbuka dan semangat saintifik, sehingga melahirkan manusia yang memiliki empati, simpati, serta kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar agama, budaya, maupun bangsa.
Tokoh ‘Aisyiyah, Siti Baroroh Baried, juga pernah menegaskan pentingnya perempuan muslim memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Perempuan, menurutnya, harus mampu menjawab tantangan zaman seiring meningkatnya kesadaran tentang hak, kewajiban, dan peran strategisnya dalam keluarga maupun masyarakat.
Meski demikian, perjuangan menghadirkan keadilan, kesetaraan akses, dan ruang yang bebas dari kekerasan bagi perempuan masih membutuhkan energi besar. Perjuangan itulah yang terus dihidupkan Nasyiatul ‘Aisyiyah dari masa ke masa.
Dengan semangat “Khoirunnas anfa’uhum linnas”, Nasyiatul Aisyiyah berikhtiar membentuk putri Islam yang berguna bagi keluarga, bangsa, dan agama. Semangat tersebut kini terus bergema di kalangan perempuan muda Indonesia yang mengimplementasikan nilai Al-Ma’un dalam kehidupan sosial, yakni membela kelompok tertindas, terpinggirkan, dan dilemahkan, baik secara personal, kultural, maupun struktural.
Tema Milad ke-95 “Srikandi Penjaga Arah Peradaban” setidaknya memuat tiga kata kunci utama.
Pertama, “peradaban”, yang menunjukkan perkembangan kehidupan manusia sekaligus berkaitan dengan nilai adab, akhlak, dan budi pekerti.
Kedua, “menjaga arah”, yang menunjukkan adanya tanggung jawab dan aktivitas untuk memastikan peradaban tetap berjalan pada nilai-nilai kebaikan.
Ketiga, “srikandi”, yang menunjukkan sosok perempuan sebagai aktor utama dalam menjaga arah tersebut.
Di era digital saat ini, peradaban manusia dibentuk oleh perkembangan teknologi dan perubahan ekologis yang bergerak sangat cepat. Perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus berbagai anomali sosial yang perlu direspons dengan bijaksana.
Dalam konteks itu, Siti ‘Aisyah pernah menegaskan bahwa keluarga yang adil, maju, dan bersifat tengahan merupakan fondasi terwujudnya masyarakat utama atau ummatan wasathan, yakni masyarakat yang maju, adil, makmur, dan bermartabat.
Karena itu, perempuan muda Muhammadiyah melalui Nasyiatul Aisyiyah diharapkan terus menjadi srikandi penjaga arah peradaban: menghadirkan ilmu, keteladanan, kepedulian sosial, serta semangat kemajuan dalam setiap lini kehidupan. (*)
Sumber: Muhammadiyah.or.id

