Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Jum’at siang, di sela-sela kegiatan Majelis Pendayagunaan Wakaf di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, saya berbincang hangat dengan Bapak H. Syaiful Hadi . Meski komunikasi sebelumnya cukup sering terjalin, baru kali itu percakapan kami mengalir lebih mendalam tentang banyak hal, terutama mengenai dunia jurnalistik dan pers yang telah lama beliau geluti.
Awalnya saya mengira beliau baru aktif menjadi wartawan setelah pensiun dari Telkom Indonesia pada tahun 2014. Namun dalam perbincangan itu terungkap bahwa dunia jurnalistik telah menjadi bagian hidup beliau sejak tahun 1974, bahkan jauh sebelum bekerja di Telkom. Mantan Humas Telkom Regional Sumatera itu bercerita bagaimana dirinya pernah menjadi kontributor di berbagai media besar seperti Kompas dan Waspada.
Ada semacam semangat idealisme yang terasa masih menyala ketika beliau menceritakan perjalanan panjang itu. Dunia pers bagi beliau bukan sekadar pekerjaan, tetapi ruang pengabdian. Setelah pensiun dari Telkom, hampir seluruh waktunya digunakan untuk aktif di media Muhammadiyah, baik di TVMu maupun media online InfoMu.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara ini juga memiliki semangat dan dedikasi besar untuk menjadikan majelis yang beliau pimpin sebagai corong informasi tentang Muhammadiyah. Bagi beliau, dakwah hari ini tidak cukup hanya dilakukan di mimbar-mimbar pengajian, tetapi juga harus hadir melalui media, berita, tulisan, video, dan ruang digital yang mampu menjangkau masyarakat luas. Karena itu beliau tampak begitu serius memperkuat media Muhammadiyah agar tetap hidup, aktif, dan mampu menjadi sumber informasi yang mencerahkan.
Percakapan siang itu juga sangat berkesan ketika kami berbicara tentang komitmen ber-Muhammadiyah. Beliau melihat Muhammadiyah bukan hanya organisasi besar dengan sejarah panjang, tetapi juga gerakan yang harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dalam pandangan beliau, Muhammadiyah harus dikelola dengan tata kelola modern, profesional, terbuka, dan mampu membaca perubahan sosial masyarakat. Sebagian besar pandangan itu saya sepakat.
Di tengah zaman ketika banyak orang mulai lelah berbicara tentang idealisme, saya justru melihat sosok seperti Pak Syaiful Hadi tetap memelihara harapan. Beliau adalah gambaran aktivis Muhammadiyah yang tidak sekadar menikmati romantisme masa lalu, tetapi ingin ikut menyaksikan masa depan Muhammadiyah yang lebih baik.
Semangat seperti inilah yang sesungguhnya perlu disambut oleh kader-kader muda Muhammadiyah. Sebab sebuah gerakan besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang tampil di panggung utama, tetapi juga oleh mereka yang tekun menjaga api di ruang-ruang sunyi: di meja redaksi, di ruang diskusi, di berita-berita kecil yang terus menghidupkan narasi tentang dakwah dan pencerahan.
Muhammadiyah membutuhkan generasi yang bukan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga bersedia mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hidupnya untuk merawat gerakan ini dengan kesungguhan. Dan dari percakapan sederhana di siang Jum’at itu, saya melihat api itu masih menyala pada diri Pak Syaiful Hadi. (*)

