Site icon TAJDID.ID

Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

Penulis dengan Maestro Sihaloho.

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Nama lengkapnya Muhammad Risfan Sihaloho. Namun bagi kawan-kawan lamanya, ia lebih akrab dipanggil Adek. Belakangan, banyak orang mengenalnya dengan nama Maestro Sihaloho, sebuah nama yang terasa pas menggambarkan perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan, jurnalistik, dan aktivisme organisasi.

Saya mengenal beliau sejak sama-sama menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Tamiang, Ujung Gading, Pasaman Barat. Waktu itu saya mengikuti pengkaderan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), yang sekarang dikenal sebagai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Saat itu Risfan sudah menjadi panitia kaderisasi. Dari situlah perkenalan kami bermula, lalu berlanjut menjadi rekan seperjuangan di Pimpinan Cabang IRM Tamiang hingga Pimpinan Daerah IRM Pasaman.

Risfan Sihaloho merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan lahir dari keluarga besar Muhammadiyah. Ayahandanya adalah almarhum Abdul Mukti Sihaloho, seorang guru Bahasa Arab dan Kemuhammadiyahan di sekolah kami. Selain menjadi pendidik, beliau juga dikenal sebagai mubaligh dan pernah menjadi Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pasaman pada masanya. Sementara ibunya merupakan seorang guru di sekolah dasar negeri. Saya masih ingat, sering kali beliau pulang membawa sesuatu dari luar rumah dan kami ikut menikmatinya bersama. Suasana sederhana itu justru menghadirkan kehangatan dan rasa kekeluargaan yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatan.

Dari lingkungan keluarga seperti itulah tampaknya semangat literasi, dakwah, dan organisasi tumbuh dalam diri Risfan.

Sejak muda, Risfan sudah dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia tulis-menulis. Ia menulis puisi, opini, dan berbagai catatan pemikiran. Saya masih ingat betul bagaimana ia mengetik menggunakan mesin tik tua dengan dua jari telunjuknya. Kami sering bercanda menyebutnya mengetik “sebelas jari”. Namun dari dua jari itulah lahir banyak tulisan yang menggambarkan kegelisahan, idealisme, dan semangat mudanya.

Selain aktif menulis, Risfan juga dikenal sebagai pemain sepak bola, mengikuti jejak abangnya, Ribhan Sihaloho. Di sekolah dan organisasi, ia bukan hanya dikenal sebagai aktivis, tetapi juga pribadi yang mudah bergaul dan penuh semangat.

Setelah tamat dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Tamiang, tanpa perjanjian khusus ternyata kami sama-sama merantau ke Medan. Seolah kota itu memang menjadi titik temu baru bagi anak-anak muda kampung yang ingin mencari jalan hidupnya sendiri. Ketika saya masuk Fakultas Agama Islam tahun 1996, Risfan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMSU. Setahun kemudian saya juga masuk FISIP UMSU sebelum akhirnya melanjutkan ke Fakultas Tarbiyah IAIN pada tahun 1998. Sementara Risfan tetap bertahan dan menyelesaikan kuliahnya di FISIP.

Perjalanan hidup kemudian membawa kami ke arah masing-masing. Komunikasi sempat terputus cukup lama. Ternyata Risfan pernah merantau ke Batam. Hingga akhirnya kami kembali bertemu ketika beliau aktif sebagai wartawan di lingkungan UMSU. Dari situlah saya melihat bahwa dunia jurnalistik memang seperti menemukan rumahnya sendiri dalam diri Risfan Sihaloho.

Bagi saya, Risfan adalah contoh bahwa perjalanan seorang penulis tidak selalu dimulai dari fasilitas yang mewah. Kadang ia lahir dari ruang-ruang sederhana, dari mesin tik tua, dari diskusi organisasi, dari kehidupan rantau, dan dari ketekunan yang terus dijaga bertahun-tahun.

Hari ini, ketika banyak orang mengenalnya sebagai Maestro Sihaloho, saya justru teringat sosok “Adek” yang duduk di depan mesin tik dengan dua jari telunjuknya. Sebab sering kali, kita mengenal seseorang bukan dimulai dari sorotan publik, tetapi dari ketekunan yang dilakukan diam-diam sejak muda. (*)

Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni

Exit mobile version