Site icon TAJDID.ID

Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

Oleh: Heri Isnaini

Humor sering dianggap sebagai sesuatu yang ringan dan sekadar hiburan. Padahal, di balik tawa terdapat persoalan bahasa, budaya, pendidikan, bahkan filsafat kehidupan manusia. Buku The Philosophy of Humour karya Paul McDonald menunjukkan bahwa humor bukan sekadar lelucon, melainkan bagian penting dari cara manusia memahami dunia. Humor membantu manusia menghadapi kenyataan, menyampaikan kritik, membangun relasi sosial, dan mengekspresikan kreativitas.

Dalam dunia sastra, humor memiliki fungsi yang jauh lebih dalam dibanding sekadar membuat pembaca tertawa. Humor menjadi medium kritik sosial, sindiran budaya, dan refleksi terhadap kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan pembahasan McDonald mengenai pemikiran Cicero yang melihat humor sebagai sarana retorika untuk menyampaikan kebenaran secara halus.

Banyak karya sastra justru terasa kuat karena mampu menghadirkan ironi dan kelucuan di tengah tragedi. Dalam tradisi sastra Indonesia, humor hadir melalui tokoh-tokoh seperti Kabayan atau cerita-cerita satire yang menertawakan realitas sosial. Humor dalam sastra membuat pembaca tidak hanya tertawa, tetapi juga berpikir.

Humor juga memiliki hubungan erat dengan bahasa. Dalam The Philosophy of Humour, dijelaskan bahwa humor sering muncul dari ketidaksesuaian atau incongruity, yakni benturan antara harapan dan kenyataan. Dalam bahasa Indonesia, hal ini tampak pada budaya plesetan, permainan kata, ambiguitas, hingga meme digital.

Kelucuan muncul ketika makna bahasa “dipelintir” dari ekspektasi awal. Misalnya, “Cinta itu buta, tapi tagihan listrik membuka mata.” Ungkapan sehari-hari yang dibalik logikanya dapat menghasilkan efek komikal yang spontan. Humor bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya menggunakan bahasa untuk komunikasi formal, tetapi juga sebagai ruang bermain kreativitas.

Di dunia digital, meme juga menjadi bentuk humor bahasa yang sangat populer. Gambar seorang siswa tertidur di kelas dengan tulisan “belajar sambil merem supaya ilmunya masuk lewat mimpi” adalah contoh humor yang lahir dari absurditas logika. Kelucuannya muncul karena pembaca memahami bahwa pernyataan tersebut tidak masuk akal, tetapi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Keragaman budaya Indonesia juga memengaruhi bentuk humor masyarakatnya. Humor Sunda cenderung spontan dan ringan, humor Jawa sering hadir dalam bentuk sindiran simbolik, sedangkan humor Betawi terkenal lugas dan egaliter.

Semua itu menunjukkan bahwa humor adalah cermin budaya. Bahasa menjadi medium yang memperlihatkan cara masyarakat memandang kehidupan, kekuasaan, dan relasi sosial.

Dalam pendidikan bahasa, humor memiliki fungsi pedagogis yang penting. Suasana belajar yang terlalu serius sering membuat peserta didik takut berbicara atau takut melakukan kesalahan. Humor mampu menciptakan ruang belajar yang lebih cair dan komunikatif. Ketika guru menggunakan cerita lucu, anekdot, atau permainan bahasa, siswa lebih mudah memahami materi sekaligus merasa dekat dengan proses pembelajaran.

Buku The Philosophy of Humour menjelaskan bahwa humor membantu manusia menjadi lebih terbuka terhadap gagasan baru dan lebih fleksibel dalam berpikir. Dalam pembelajaran bahasa, hal ini sangat penting karena bahasa bukan hanya soal tata bahasa, melainkan juga soal konteks sosial dan kemampuan memahami makna tersembunyi seperti ironi, sindiran, dan satire. Humor membantu siswa memahami bahwa bahasa hidup bersama masyarakatnya.

Namun, pembahasan paling menarik dalam buku tersebut adalah hubungan antara humor dan filsafat. Sejak zaman Yunani Kuno, humor telah menjadi perhatian para filsuf. Plato memandang tawa sebagai sesuatu yang berbahaya karena dapat merusak keseriusan manusia. Sebaliknya, Aristotle melihat humor sebagai bagian alami kehidupan sosial selama digunakan secara proporsional.

Kemudian, Thomas Hobbes menjelaskan bahwa manusia tertawa karena merasa lebih unggul dibanding orang lain. Dari sini lahir teori superioritas dalam humor. Sementara itu, teori incongruity melihat humor sebagai hasil benturan logika dan realitas yang tidak sesuai harapan.

Semua teori tersebut memperlihatkan bahwa tertawa sebenarnya adalah aktivitas intelektual: manusia tertawa karena mampu mengenali kontradiksi kehidupan.

Pada akhirnya, humor menunjukkan sisi paling manusiawi dari manusia. Ketika hidup terasa berat, humor menjadi cara untuk bertahan. Ketika kenyataan terasa absurd, humor menjadi cara untuk memahaminya. Karena itu, humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan bentuk lain dari kebijaksanaan.

Melalui humor, manusia belajar bahwa hidup tidak selalu harus dipahami dengan dahi berkerut; kadang-kadang, dunia justru lebih mudah dimengerti melalui senyuman dan tawa. (*)

 

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya.

Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Exit mobile version