Site icon TAJDID.ID

Dinamika Organisasi dan Organisasi Dinamika

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Sekilas kalimat itu terdengar sama. Hanya pertukaran letak kata. Tetapi dalam kenyataan organisasi, keduanya bisa melahirkan situasi yang sangat berbeda.

Dinamika organisasi adalah tanda kehidupan. Ia menunjukkan adanya gerak, diskusi, kritik, gagasan, kaderisasi, perbedaan pandangan, bahkan perdebatan yang sehat. Organisasi yang hidup memang tidak mungkin sunyi. Selalu ada energi. Selalu ada orang-orang yang berpikir, mengusulkan, mengoreksi, dan bergerak bersama untuk tujuan besar organisasi.

Muhammadiyah tentu diharapkan menjadi organisasi yang besar dan sehat. Karena itu dinamika organisasi pasti dan selalu ada. Dalam organisasi sebesar Muhammadiyah, yang memiliki amal usaha, kader, tokoh dan latar belakang pemikiran yang beragam, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang alamiah. Justru dari dinamika itulah lahir gagasan, pembaruan dan kekuatan gerakan. Yang penting adalah bagaimana seluruh dinamika itu tetap berada dalam koridor akhlak, ideologi dan tujuan perjuangan persyarikatan.

Gerak langkah Muhammadiyah sesungguhnya bisa dilihat dari dinamika organisasinya. Dari pengkaderannya, dari denyut amal usahanya, dari diskusi-diskusi intelektualnya, dari gerakan sosialnya, hingga dari keberanian moralnya dalam merespon persoalan bangsa. Karena itu Muhammadiyah bukanlah organisasi dinamika. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid yang hidup sepanjang waktu, bukan organisasi yang hanya ramai pada momentum tertentu.

Muktamar Muhammadiyah ke-49 dengan tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” mengisyaratkan bahwa dinamika adalah keniscayaan dalam organisasi besar. Ada perbedaan pandangan, ada kompetisi gagasan, ada proses musyawarah, dan ada pergantian kepemimpinan. Tetapi Muhammadiyah tidak boleh hanya sekadar menjadi organisasi dinamika, dimana orang datang dan pergi hanya saat event musyawarah dan pergantian kepemimpinan. Setelah itu organisasi kembali sunyi, aktivitas melemah, dan semangat perjuangan mengendur.

Dinamika dalam organisasi adalah keniscayaan dan sesuatu yang wajar. Bahkan sering menjadi tanda bahwa organisasi itu hidup dan bergerak. Tetapi ketika organisasi hanya dijadikan sekadar dinamika, tanpa arah perjuangan yang jelas, tanpa kerja nyata, tanpa pengabdian yang berkelanjutan, maka organisasi itu tentu tidak akan bertahan lama. Ia hanya akan menjadi arena keramaian sesaat yang perlahan kehilangan ruh dan kepercayaan.

Dalam dinamika organisasi, yang menjadi pusat tetaplah organisasi. Nilai, ideologi, visi dan tujuan tetap menjadi panglima. Perbedaan hadir untuk memperkuat arah perjuangan, bukan untuk membesarkan ego pribadi. Karena itu organisasi yang sehat biasanya tidak anti kritik, tidak alergi terhadap masukan, dan tidak takut melahirkan kader-kader yang cerdas serta mandiri.

Sebaliknya, organisasi dinamika sering menjadi tanda bergesernya orientasi. Organisasi bukan lagi alat perjuangan, tetapi sekadar panggung perebutan pengaruh. Yang dibesarkan bukan gagasan, melainkan kegaduhan. Yang dipelihara bukan nilai, tetapi kelompok. Akibatnya energi organisasi habis untuk mengurus konflik kecil, drama internal, pertarungan posisi, bahkan persaingan yang kadang tidak substantif.

Organisasi akhirnya sibuk dengan “dinamika” yang diciptakannya sendiri. Rapat banyak, gaduh dimana-mana, pertemuan rutin berlangsung, tetapi arah perjuangan kabur. Suara organisasi kehilangan bobot moral dan intelektual karena terlalu banyak terseret dalam pusaran kepentingan sesaat.

Padahal organisasi besar lahir bukan karena minim perbedaan, tetapi karena mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Di situlah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin bukan sekadar mampu menjaga semua tetap tenang, tetapi mampu memastikan bahwa seluruh dinamika tetap berada dalam rel cita-cita organisasi.

Kadang organisasi tidak hancur karena serangan dari luar. Ia melemah justru karena kehilangan orientasi dari dalam. Terlalu sibuk memainkan irama dinamika, tetapi lupa memperkuat fondasi perjuangan.

Karena itu penting menjaga agar organisasi tetap memiliki dinamika organisasi, bukan berubah menjadi organisasi dinamika. Sebab organisasi yang sehat akan melahirkan gerakan, pemikiran dan karya. Sementara organisasi yang hanya sibuk dengan dinamikanya sendiri perlahan akan kehilangan wibawa, arah dan relevansi di tengah masyarakat. (*)

Exit mobile version