Site icon TAJDID.ID

Dari Tebing Tinggi Menjaga Api Dakwah

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Sore hari ini Kamis 27 Zulqaidah 1447 H / 14 Mei 2026 M berlangsung kegiatan Training Of Trainers (TOT) Mubaligh/Mubalighat Batch 3 Tingkat Wilayah Sumatera Utara yang diselenggarakan oleh Korbid Majelis Tabligh PWM Sumatera Utara. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Ketua PWM Sumatera Utara Prof. Dr. Ali Imran Sinaga itu berlangsung di Gedung SMP Swasta Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi. Sebuah kegiatan yang mungkin terlihat sederhana, namun sesungguhnya memiliki makna besar dalam menjaga keberlangsungan dakwah dan kaderisasi umat di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Di ruangan itu para peserta hadir bukan untuk mencari popularitas, tetapi membawa semangat untuk terus menyalakan api dakwah agar tetap hidup di tengah masyarakat yang sedang menghadapi banyak kegelisahan sosial, moral, dan komunikasi.

Hadir pada kegiatan itu Wakil Ketua PWM Sumatera Utara Prof. Dr. Ali Imran Sinaga, Ketua Majelis Tabligh PWM Sumatera Utara Dr. Sabri, Ketua Korp Mubalig Dr. Salamat Muis Pohan, Wakil Ketua Majelis Tabligh Prof. Dr. Munawir Pasaribu, Sekretaris Dr. Junaidi, Dr. dr. Zaldi, dan Drs. Tanwir Siagian. Acara juga dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi, PDA Aisyiyah, seluruh organisasi otonom tingkat daerah, serta PCM se-Kota Tebing Tinggi.

Peserta TOT ini berasal dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan jumlah 42 peserta. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat kaderisasi Muhammadiyah tetap hidup dan bergerak sampai ke daerah-daerah. Ada yang datang dari jauh dengan perjalanan panjang, meninggalkan pekerjaan dan keluarga, demi satu tujuan: menjaga dakwah agar tetap tercerahkan dan mencerahkan.

Kegiatan ini sesungguhnya bukan hanya pelatihan biasa. Ini juga merupakan bagian dari gerakan Islam Berkemajuan yang terus diteguhkan Muhammadiyah. Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan dakwah yang cerdas, teduh, berilmu, dan mampu menjawab tantangan zaman. Semangat itu sejalan dengan tema besar Muhammadiyah tentang “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya”, sebuah cita-cita agar dakwah tidak hanya menguatkan spiritualitas, tetapi juga mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Hari ini tantangan dakwah memang berbeda. Dahulu orang datang ke masjid untuk mendengar ceramah. Sekarang ceramah bersaing dengan TikTok, YouTube, podcast, bahkan dengan konten receh yang kadang lebih cepat menarik perhatian masyarakat. Dahulu mubaligh cukup menguasai kitab dan mimbar. Sekarang ia juga dituntut memahami psikologi masyarakat, media sosial, komunikasi publik, bahkan cara menghadapi fitnah digital.

Karena itulah pelatihan seperti ini menjadi penting. Training Of Trainers bukan sekadar kegiatan rutin organisasi. Ia adalah proses menyiapkan manusia-manusia yang kelak menjadi penjaga akal sehat umat.

Kita sering lupa bahwa bangsa ini sebenarnya sedang mengalami krisis keteladanan. Banyak orang pandai bicara, tetapi sedikit yang mampu menenangkan masyarakat. Banyak yang tampil religius di media sosial, tetapi minim kedalaman ilmu dan akhlak. Tidak sedikit yang menjadikan agama sekadar alat mencari pengaruh dan tepuk tangan.

Di tengah situasi itu, Muhammadiyah sejak lama memilih jalan sunyi: mendidik manusia. Tidak selalu viral, tetapi nyata. Tidak selalu ramai dibicarakan, tetapi terus bekerja.

Kaderisasi dalam Muhammadiyah sesungguhnya bukan sekadar melahirkan penceramah. Yang ingin dibangun adalah manusia yang mampu menjadi peneduh masyarakat. Mubaligh yang tidak hanya pandai menyampaikan dalil, tetapi juga memahami penderitaan rakyat kecil. Yang mengerti bahwa dakwah bukan hanya bicara surga dan neraka, tetapi juga bicara kejujuran, pendidikan, kemiskinan, keadilan sosial, bahkan etika bermedia sosial.

Sebab hari ini kerusakan masyarakat bukan hanya datang dari kebodohan, tetapi juga dari hilangnya adab dalam komunikasi. Orang mudah menghina, mudah memfitnah, mudah mengkafirkan, bahkan mudah memproduksi kebencian hanya demi lalu lintas konten.

Media sosial telah menjadi “mimbar” baru. Masalahnya, tidak semua yang memegang mimbar memiliki ilmu dan tanggung jawab moral. Karena itu umat membutuhkan lebih banyak pendakwah yang teduh, cerdas, dan mampu menjadi penjernih suasana.

Pelatihan di Tebing Tinggi ini mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Tetapi sejarah sering lahir dari ruang-ruang sederhana. Banyak gagasan besar bangsa ini dahulu lahir dari surau, sekolah kecil, ruang diskusi sempit, dan pertemuan kader yang tidak diliput media.

Dari tempat-tempat seperti inilah biasanya lahir orang-orang yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka mengajar di desa, mengisi pengajian kecil, mendidik anak muda, mengurus masjid, menyelesaikan konflik masyarakat, dan menjaga umat agar tidak mudah terseret arus kebencian.

Bangsa ini sebenarnya masih memiliki harapan selama kaderisasi tetap hidup. Selama masih ada orang-orang yang mau meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya pribadi demi mendidik generasi penerus.

Karena peradaban tidak dijaga oleh orang yang hanya pandai mengkritik. Peradaban dijaga oleh mereka yang mau mendidik manusia. (*)

 

Exit mobile version