Site icon TAJDID.ID

Menjadi Daerah Penyangga, Menggembirakan Muktamar

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Setelah kuliah umum bersama Direktur Cyber Polda Sumatera Utara, kami diajak ke ruangan podcast Fakultas Hukum UMSU untuk melanjutkan bincang santai seputar Muktamar 48 Muhammadiyah. Suasananya hangat, cair, dan penuh semangat kebersamaan.

Ada percakapan yang tidak sekadar berhenti sebagai obrolan. Ia tumbuh menjadi niat, lalu berubah menjadi komitmen. Begitulah suasana bincang santai kami bersama Dr. Zainuddin Gayo Gayo di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Percakapan itu mengalir tenang, ringan, namun terasa hangat dan menggembirakan—sehangat semangat menyongsong Muktamar 49 Muhammadiyah.

Dalam suasana akademik yang teduh, kami berbincang bukan hanya tentang agenda organisasi, tetapi tentang masa depan, tentang peran daerah, dan tentang bagaimana sebuah muktamar dapat menjadi peristiwa peradaban.

Saya bersama Ketua PDM Serdang Bedagai, Pak Akhyar, menyatakan kesiapan untuk menjadi daerah penyangga Muktamar. Serdang Bedagai dan Kota Tebing Tinggi memiliki kedekatan geografis dengan Medan, tetapi yang lebih penting, kami ingin menunjukkan kedekatan hati dan komitmen. Kedekatan itu bukan sekadar jarak tempuh, melainkan jarak tekad.

Kami juga menegaskan bahwa muktamar jangan hanya dijadikan sebagai momentum suksesi kepemimpinan, tetapi juga sebagai forum evaluasi masa lalu dan menata masa depan. Lebih dari itu, muktamar adalah forum silaturahmi besar antara kader Muhammadiyah dari seluruh Indonesia bahkan dunia.

Menjadi daerah penyangga bukan soal posisi di peta. Ia adalah sikap. Sikap untuk menyambut tamu dengan kegembiraan. Sikap untuk mengambil bagian dalam sejarah. Sikap untuk ikut memikul amanah besar sebuah perhelatan Muhammadiyah.

Muktamar bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan. Ia adalah momentum konsolidasi gagasan, pertemuan kader lintas generasi, dan perayaan kerja panjang gerakan pencerahan. Karena itu, menggembirakan muktamar berarti menggembirakan masa depan.

Tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” terasa sangat hidup dalam percakapan kami. Cerdas bangsa berarti menyiapkan manusia yang berpikir jernih, berilmu, dan berakhlak. Semesta bercahaya berarti dampak kecerdasan itu tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi memancar ke masyarakat, bangsa, bahkan kemanusiaan.

Di sinilah peran daerah penyangga menjadi penting. Muktamar tidak hanya berlangsung di ruang sidang. Ia hidup di jalan-jalan kota, di masjid-masjid, di kampus-kampus, di rumah-rumah warga, dan di wajah-wajah yang menyambut dengan senyum.

Kami ingin Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi menjadi bagian dari wajah itu—wajah yang ramah, siap, dan berbahagia menyambut tamu dari seluruh penjuru negeri.

Sebab pada akhirnya, muktamar adalah tentang kebersamaan. Tentang bagaimana setiap daerah merasa menjadi tuan rumah. Tentang bagaimana setiap kader merasa menjadi bagian dari perjalanan besar Muhammadiyah.

Dan dari bincang santai yang sederhana itu, tumbuh sebuah keyakinan: ketika niat baik berkumpul, maka muktamar tidak hanya sukses terselenggara, tetapi juga sukses menggembirakan.

Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari cahaya besar yang ingin kita nyalakan bersama.
Cerdas bangsa, semesta pun bercahaya. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version