TAJDID.ID || Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) terus berinovasi dalam mentransformasi pengelolaan kurban dan dam haji agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi instrumen kesejahteraan sosial yang nyata.
Dalam diskusi bertajuk “Qurbanmu Membahagiakan Sesama” yang digelar TVMu pada Selasa (12/05), terungkap berbagai strategi baru untuk menjawab ketimpangan distribusi daging di Indonesia.
1. Memecah Penumpukan Daging di Perkotaan
Direktur Penghimpunan Lazismu Pusat, Mochammad Sholeh Farabi, menyoroti fenomena “banjir daging” di kota-kota besar yang sering kali tidak tepat sasaran. Sementara di kota besar daging menumpuk hingga berisiko rusak, banyak wilayah di pelosok seperti NTT dan beberapa desa di Yogyakarta justru jarang menyentuh daging kurban.
Untuk mengatasi hal ini, Lazismu mengusung program “Kurbanmu” dengan dua solusi utama:
- Kurban Kemasan (Rendang Kaleng): Daging olahan yang tahan hingga dua tahun, memudahkan pengiriman ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) serta daerah bencana.
- Sedekah Daging: Program inklusif bagi masyarakat yang belum mampu berkurban secara penuh, di mana mereka bisa mulai berdonasi hanya dengan Rp10.000.
2. Syariat dan Edukasi sebagai Fondasi
Dari sisi keilmuan, Asep Sholahudin dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa inovasi tetap harus berpijak pada syariat. Ia menegaskan:
- Penyembelihan dam yang dialihkan ke tanah air wajib dilakukan pada hari Tasyrik (10-13 Zulhijah).
- Distribusi kurban tidak harus kaku dalam pembagian sepertiga, melainkan harus mengutamakan fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.
- Panitia kurban perlu dibekali ilmu yang cukup, bukan sekadar urusan teknis penyembelihan.
3. Gerakan Kurban Ramah Lingkungan
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam, Lazismu berkomitmen meninggalkan plastik sekali pakai. Sejak 2022, distribusi daging mulai beralih menggunakan besek bambu. Meski biayanya lebih tinggi, langkah ini dinilai penting untuk mengurangi sampah sekaligus memberdayakan pengrajin lokal di daerah.
4. Transparansi dan Keadilan Sosial
Diskusi ini juga menekankan bahwa kurban adalah alat redistribusi pangan nasional. Pemred Tirto.id, Rochmaddin Ismail, menyatakan bahwa akses terhadap daging merah adalah hak gizi yang harus merata hingga ke pelosok.
Untuk menjaga kepercayaan pekurban, Wakil Ketua Lazismu Pusat, Fauzan Amar, mendorong transparansi total melalui laporan detail dan dokumentasi proses penyembelihan secara langsung. Strategi ke depan akan menggunakan pola sentralisasi kebijakan namun desentralisasi eksekusi, sehingga kantor Lazismu di daerah dapat bergerak lebih lincah sesuai kondisi lokal.
Melalui profesionalisme dan inovasi teknologi pangan, Muhammadiyah berupaya memastikan bahwa setiap hewan kurban benar-benar membawa manfaat ekonomi, perbaikan gizi, dan kelestarian lingkungan bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)

