Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Hari ini di aula megah UMSU, cahaya layar besar memantulkan warna biru yang terasa begitu digital. Kata “CyberCrime” terpampang besar di depan ruangan, seolah mengingatkan bahwa dunia sedang berubah terlalu cepat. Teknologi berkembang tanpa menunggu siapa pun siap atau tidak siap. Dan di tengah perubahan itu, manusia sering terlambat memahami bahwa setiap kemajuan selalu membawa bayang-bayangnya sendiri.
Hari ini Direktur Cyber Crime Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Dr. Bayu Wicaksono menyampaikan kuliah umum di aula Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dalam acara yang dibuka oleh Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim dan dihadiri oleh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara tersebut, rektor UMSU menyampaikan apresiasi serta mengatakan bahwa kemajuan dunia digital dan teknologi informasi harus menjadi perhatian serius bagi kita semua. Seiring dengan itu, Kejahatan digital sekarang semakin meningkat pula dan harus menjadi kewaspadaan kita, baik keluarga maupun dilembaga pendidikan dan perguruan tinggi, termasuk dalam lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah melalui UMSU ikut berada di garda terdepan dalam upaya meningkatkan literasi dunia digital agar masyarakat menyadari bahwa ada konsekuensi hukum atas apa yang dilakukan di dunia maya. Dalam kesempatan itu Direktur Cyber Crime Polda Sumatera Utara juga mengajak mahasiswa dan masyarakat pada umumnya agar cerdas menggunakan media sosial, sekaligus waspada terhadap perkembangan modus penyalahgunaan media sosial dan digital, seperti judi online, penipuan, penggunaan rekayasa konten melalui AI, dan berbagai bentuk kejahatan digital lainnya.
Ada satu kalimat yang menarik perhatian saya dalam kuliah umum itu.
“Crime is the shadow of civilization.” Kejahatan adalah bayangan dari peradaban.
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam. Semakin maju sebuah peradaban, semakin kompleks pula kejahatan yang mengiringinya. Dahulu orang mencuri dengan membobol rumah. Sekarang orang bisa mencuri hanya lewat layar telepon genggam. Dahulu fitnah dilakukan dari mulut ke mulut. Kini karakter seseorang bisa dihancurkan hanya dalam hitungan menit lewat media sosial.
Teknologi memang membawa kemudahan luar biasa. Ekonomi digital tumbuh cepat. Pendidikan makin terbuka. Informasi melintasi batas negara hanya dalam hitungan detik. Bahkan pelayanan publik menjadi lebih efisien. Dunia terasa semakin kecil dan dekat.
Namun pada saat yang sama, ruang digital juga melahirkan ancaman baru yang kadang tidak terlihat.
Penipuan online berkembang semakin canggih. Data pribadi diperjualbelikan. Judi online menyasar masyarakat kecil. Anak-anak terpapar konten tanpa batas. Kebencian diproduksi massal lewat algoritma. Hoaks menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi. Bahkan kadang manusia tidak lagi sadar bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh teknologi yang setiap hari ia gunakan.
Kini ancamannya bahkan semakin rumit. Teknologi artificial intelligence yang seharusnya membantu manusia, juga mulai disalahgunakan untuk membuat manipulasi suara, gambar, hingga video palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. Orang bisa difitnah dengan wajah dan suara yang sebenarnya tidak pernah ia ucapkan. Di titik inilah masyarakat membutuhkan literasi digital, bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan bijaksana.
Ironisnya, banyak orang merasa aman karena ancaman itu tidak berbentuk fisik. Padahal kerusakan akibat kejahatan siber sering jauh lebih luas dibanding kejahatan konvensional. Satu kebocoran data bisa menghancurkan hidup banyak orang. Satu fitnah digital bisa membunuh karakter seseorang. Satu manipulasi informasi bisa memecah belah bangsa.
Karena itu persoalan cyber crime bukan sekadar urusan polisi, hacker, atau ahli teknologi. Ini adalah persoalan moral, pendidikan, budaya, bahkan peradaban manusia modern.
Kita hidup di zaman ketika kecerdasan teknologi berkembang lebih cepat dibanding kedewasaan manusia menggunakannya.
Manusia mampu menciptakan artificial intelligence, tetapi belum tentu mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Manusia mampu membuat sistem digital yang rumit, tetapi kadang gagal menjaga etika sederhana. Teknologi akhirnya menjadi pisau bermata dua. Di tangan yang baik ia menjadi alat kemajuan. Di tangan yang salah ia berubah menjadi alat kehancuran.
Saya teringat suasana aula tadi. Mahasiswa, dosen, aparat, dan peserta kuliah umum duduk mendengarkan pembahasan tentang ancaman siber. Itu pertanda bahwa bangsa ini mulai sadar bahwa masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh kekuatan data, informasi, dan literasi digital.
Bangsa yang tidak siap menghadapi era digital bisa tertinggal. Tetapi bangsa yang kehilangan moral dalam era digital bisa hancur dari dalam.
Mungkin itulah tantangan terbesar zaman ini. Bukan sekadar bagaimana membuat teknologi semakin canggih, tetapi bagaimana memastikan manusia tetap memiliki nurani ketika teknologi berada di tangannya.
Karena pada akhirnya, kemajuan tanpa moral hanya akan melahirkan peradaban yang modern di luar, tetapi rapuh di dalam.
Dan bisa jadi, di era digital hari ini, musuh terbesar manusia bukan lagi keterbelakangan teknologi, melainkan hilangnya kebijaksanaan dalam menggunakannya. (*)
Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

