Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Kemaren Kamis malam Jum’at di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rektor menyampaikan sesuatu yang sebenarnya terdengar sederhana, tetapi menyimpan tantangan nyata dalam proses pembangunan infrastruktur Muktamar 49 Muhammadiyah-Aisyiyah 2027 dengan tema besarnya, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”
Di tengah semangat besar menyambut agenda akbar Muhammadiyah itu, Prof. Akrim mengingatkan bahwa situasi ekonomi global, tekanan fiskal, dan kenaikan harga bahan bangunan sedang menjadi kenyataan yang harus dihadapi bersama. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya urusan teknis pembangunan, tetapi sesungguhnya di balik angka-angka kenaikan material itu tersimpan gambaran tentang kondisi masyarakat dan tantangan zaman yang sedang tidak baik-baik saja, seperti kata Prof .Akrim .
Kekhawatiran yang disampaikan oleh Akrim terasa sangat realistis. Kenaikan harga bahan bangunan antara 10 hingga 20 persen, bahkan ada yang mencapai 40 persen, tentu bukan persoalan kecil dalam pembangunan berskala besar. Semua harus dihitung ulang. Estimasi anggaran harus disesuaikan kembali. Perencanaan pembangunan harus lebih cermat agar cita-cita besar pelaksanaan muktamar tetap berjalan di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Apa yang disampaikan oleh Prof. Akrim itu bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan, tetapi situasi langsung yang sedang dihadapi masyarakat hari ini. Jika harga bahan bangunan saja mengalami kenaikan cukup tinggi, tentu itu juga menjadi gambaran tentang kondisi ekonomi masyarakat secara umum. Sebab ketika harga semen, besi, pasir, kayu, hingga biaya transportasi meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh proyek pembangunan besar, tetapi juga oleh masyarakat kecil yang sedang membangun rumah, memperbaiki dapur, atau sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada akhirnya, kenaikan harga material sering menjadi cermin dari tekanan ekonomi yang lebih luas.
Situasi yang disampaikan oleh Prof. Akrim ini setidaknya menjadi tantangan tersendiri bagi Muhammadiyah dalam menjalankan cita-cita besar mencerdaskan bangsa dan mencerahkan semesta di tengah keadaan yang tidak ideal. Sebab membangun peradaban tidak pernah berlangsung di ruang yang sepenuhnya nyaman. Selalu ada tekanan ekonomi, perubahan sosial, hingga ketidakpastian global yang harus dihadapi bersama. Namun justru di situlah ketangguhan sebuah gerakan diuji, apakah mampu tetap menghadirkan harapan ketika keadaan sedang sulit.
Bahkan kondisi seperti ini seharusnya menjadi pembuka mata bagi pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk melihat secara lebih jernih fakta dan kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat. Bahwa di balik megahnya pembangunan dan besarnya agenda organisasi, ada rakyat kecil yang setiap hari harus berhadapan dengan naiknya harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, dan tekanan ekonomi yang semakin terasa. Jangan sampai organisasi terlalu sibuk melihat keberhasilan internal, tetapi perlahan kehilangan sensitivitas terhadap denyut kehidupan masyarakat di bawah.
Lebih jauh lagi, keadaan ini juga seharusnya menjadi masukan penting bagi para pemegang kekuasaan dan pembuat kebijakan. Situasi ekonomi yang berat tidak cukup hanya dijawab dengan pidato optimisme atau angka statistik pertumbuhan. Dibutuhkan kerja yang lebih keras, keberpihakan yang nyata, serta kejujuran kepada masyarakat tentang keadaan yang sebenarnya sedang dihadapi bangsa ini. Sebab masyarakat hari ini tidak hanya membutuhkan janji, tetapi juga keteladanan, empati, dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Namun kehidupan memang selalu berjalan di antara harapan dan kecemasan. Tidak ada perjuangan besar yang lahir tanpa tantangan. Bahkan dalam sejarah panjang bangsa ini, banyak perubahan justru lahir ketika keadaan sedang sulit. Kesulitan sering menjadi ujian tentang seberapa kuat keyakinan, seberapa panjang napas perjuangan, dan seberapa besar kemampuan manusia menjaga optimisme.
Optimisme bukan berarti menutup mata dari kenyataan. Optimisme adalah kemampuan melihat kemungkinan baik di tengah situasi yang tidak baik. Ia bukan sekadar kata-kata penyemangat, tetapi energi batin yang membuat seseorang tetap berjalan walaupun langkah terasa berat. Sebab jika manusia hanya bergerak ketika keadaan nyaman, maka tidak akan pernah lahir peradaban besar.
Muhammadiyah sendiri tumbuh bukan dari kemewahan. Sejarahnya dibangun oleh kesederhanaan, keikhlasan, dan ketekunan. Banyak amal usaha berdiri dari infak kecil masyarakat yang dikumpulkan dengan penuh kepercayaan. Ada kekuatan moral yang membuat orang yakin bahwa setiap bantuan yang diberikan kepada Muhammadiyah akan berkembang menjadi manfaat besar bagi umat. Dari situlah lahir sekolah, rumah sakit, kampus, masjid, hingga gerakan sosial yang terus hidup lintas generasi.
Karena itu, tantangan pembangunan menjelang muktamar sesungguhnya bukan hanya soal material bangunan yang naik harga. Lebih dari itu, ini adalah ujian tentang kemampuan menjaga keberlanjutan gerakan di tengah perubahan zaman. Dunia sedang mengalami ketidakpastian geopolitik, krisis ekonomi global, perubahan sosial digital, hingga tekanan fiskal di banyak negara. Semua organisasi pasti ikut terkena dampaknya. Tidak ada yang benar-benar kebal dari situasi dunia hari ini.
Tetapi organisasi besar tidak diukur dari seberapa sedikit masalah yang dihadapinya. Organisasi besar justru terlihat dari cara mereka bertahan dan mencari jalan keluar ketika masalah datang bersamaan. Dalam keadaan seperti itu, dibutuhkan ketenangan berpikir, kedewasaan sikap, dan kemampuan menjaga semangat bersama agar tidak runtuh oleh kecemasan.
Kadang manusia terlalu fokus menghitung apa yang kurang, sampai lupa melihat apa yang masih dimiliki. Padahal sering kali kekuatan terbesar bukan berada pada angka-angka, melainkan pada kepercayaan dan solidaritas. Selama masih ada orang-orang yang ikhlas bekerja, masih ada yang mau membantu, masih ada doa yang dipanjatkan, maka harapan sebenarnya belum pernah hilang.
Mungkin itulah pelajaran penting yang bisa diambil dari berbagai dinamika pembangunan hari ini. Bahwa menjaga optimisme adalah bagian dari menjaga keberlanjutan. Sebab pembangunan fisik bisa saja melambat, tetapi semangat tidak boleh ikut runtuh. Harga material boleh naik, tetapi harapan tidak boleh turun. Situasi boleh mencemaskan, tetapi keyakinan harus tetap dipertahankan.
Sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang hidup dalam keadaan mudah. Sejarah justru lebih sering dikenang dari mereka yang mampu bertahan, menjaga harapan, dan terus berjalan meski keadaan sedang tidak baik-baik saja. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

