TAJDID.ID 🔳 Sesi Sharing Session: Pelibatan Para Pihak – Praktik Baik Implementasi Program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak dan Ternate menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana kerja-kerja lintas iman dan pelestarian lingkungan dibangun dari bawah, melalui pendekatan yang sederhana, konsisten, dan penuh kesabaran.
Sesi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Octavia Shinta Aryani dari Pontianak – Kalimantan Barat, dan Usman Mansur dari Ternate – Maluku Utara, yang menceritakan perjalanan mereka mengeola program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) Eco Bhinneka Muhammadiyah di daerah masing-masing. Pengantar sesi disampaikan oleh Ahsan Jamet Hamidi, Kepala Sekolah Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Dalam pengantarnya, Ahsan menjelaskan bahwa pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketika program dimulai pada 2021, kerja-kerja lintas iman dan isu lingkungan tidak selalu mudah dijalankan, meskipun secara kelembagaan sudah ada dasar dan perhatian terhadap isu tersebut.
Ia menyoroti bagaimana proses yang dijalani Shinta dan Usman memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi, membangun kepercayaan, dan melibatkan anak muda secara langsung. “Dua cerita ini menunjukkan bahwa kerja bersama itu prosesnya panjang, tapi bisa berjalan kalau kita konsisten dan mau membuka diri,” ujarnya.
Karena itu, menurut Ahsan, pengalaman Pontianak dan Ternate penting dipelajari karena menunjukkan bahwa perubahan bisa dibangun melalui pendekatan yang pelan, konsisten, dan berbasis relasi.
Sesi ini dilaksanakan dalam rangkaian acara Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, pada 1 Mei 2026, di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Diplomasi Kuliner dan Silaturahmi di Pontianak
Octavia Shinta Aryani membagikan bagaimana ia memulai program Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak hanya bersama satu staf, tanpa jaringan yang kuat dan tanpa pengalaman sebelumnya di organisasi lintas iman.
Sebagai kader Nasyiatul ‘Aisyiyah dan guru sekolah dasar, Shinta memilih memulai dengan audiensi dan membangun kedekatan personal. Ia menggunakan pendekatan sederhana yang ia sebut sebagai “diplomasi kuliner” dengan mengundang tokoh-tokoh agama makan bersama untuk memperkenalkan program Eco Bhinneka Muhammadiyah.
“Silaturahmi adalah kata kunci yang sangat penting. Bukan hanya saat ada kegiatan, tapi juga ketika tidak ada agenda apa pun,” ujarnya.
Dari pertemuan-pertemuan kecil tersebut, lahirlah jejaring anak muda lintas iman yang kemudian berkembang menjadi komunitas Sahabat Eco Bhinneka (SEKA). Mereka bersama-sama menginisiasi berbagai kegiatan, mulai dari Cycling to Religious Sites, youth camp lintas iman, podcast lingkungan, hingga kampanye lingkungan di ruang publik.
Shinta menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada kegiatan, tetapi juga membangun rasa memiliki dan kedekatan antaranggota. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan live in dan youth camp agar peserta dari berbagai agama dapat saling mengenal lebih dekat.
Seiring waktu, jejaring yang dibangun semakin luas. Eco Bhinneka Muhammadiyah Pontianak mulai dipercaya oleh pemerintah daerah, sekolah, organisasi lintas agama, hingga komunitas masyarakat. Bahkan beberapa kader muda SEKA kini telah menjadi fasilitator dan penggerak kegiatan secara mandiri.
Dari Kebingungan Menjadi Gerakan Anak Muda di Ternate
Sementara itu, Usman Mansur menceritakan bahwa perjalanan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Ternate dimulai dari situasi yang tidak mudah. Pada awalnya, ia mengaku belum memahami isu keberagaman maupun hubungan antara kerukunan dan lingkungan.
“Jangankan mengerti, bingung pun tidak,” candanya disambut tawa peserta.
Usman bercerita bahwa pada awal program berjalan, banyak kegiatan tersendat karena keterbatasan kapasitas, tantangan administrasi, hingga resistensi internal. Pada tahap awal, pelaksanaan program ini di Ternate menjadi proses penyesuaian pendekatan kerja lintas isu, terutama dalam menghubungkan agenda lingkungan dan kerukunan di tingkat implementasi.
Namun perlahan, pendekatan dialog dan keterbukaan mulai membangun kepercayaan. Bersama tokoh agama dan komunitas anak muda lintas iman, mereka mulai mengadakan aksi bersih pantai, pembagian takjil lintas agama, pengamanan perayaan Natal dan Idulfitri, hingga pendampingan desa.
“Kerusakan lingkungan berdampak ke semua orang, jadi penyelesaiannya juga harus dikerjakan bersama,” kata Usman.
Ia juga menyoroti bahwa pengalaman konflik sosial di Maluku Utara membuat kerja-kerja lintas iman menjadi penting, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, banyak trauma dan prasangka yang diwariskan antargenerasi dan perlu diputus melalui ruang perjumpaan yang sehat.
Dalam praktiknya, Eco Bhinneka Muhammadiyah Ternate tidak hanya membangun hubungan dengan komunitas agama, tetapi juga aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga lembaga pendidikan. Pendekatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dukungan pemerintah kota terhadap agenda lingkungan dan kegiatan lintas komunitas.
Refleksi Utama Sesi
Sesi ini menunjukkan bahwa membangun gerakan lintas iman tidak selalu dimulai dari program besar, melainkan dari relasi yang dirawat secara konsisten melalui silaturahmi, kehadiran, dan kerja bersama. Pengalaman Pontianak dan Ternate juga memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang, mencairkan sekat identitas, dan menumbuhkan rasa saling percaya.
Di saat yang sama, peserta belajar bahwa perubahan sosial membutuhkan proses panjang, kesabaran, keberanian menghadapi penolakan, serta komitmen untuk terus membangun ruang dialog dan kolaborasi di tengah keberagaman.
—-
Tentang Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah
Eco Bhinneka Muhammadiyah memiliki pengalaman dalam menumbuhkan dan mempraktikkan gagasan warga untuk mewujudkan kerukunan melalui kehidupan yang lebih lestari, yang telah dikembangkan selama empat tahun di Ternate, Pontianak, Solo, dan Banyuwangi.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah dikembangkan sebagai upaya memperluas gerakan dari berbasis wilayah menjadi berbasis individu, dengan tujuan membekali kader muda lintas iman agar memiliki kepekaan terhadap isu kerukunan dan lingkungan, serta kemampuan merancang dan menjalankan aksi nyata di komunitasnya.
Melalui akademi ini, diharapkan lahir kader muda yang tangguh, berjiwa sosial, dan mampu menjadi agen perubahan, sekaligus membangun jejaring lintas daerah dan lintas iman yang saling mendukung dalam memperkuat keberlanjutan lingkungan dan kerukunan di Indonesia. Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah berlangsung pada 1-3 Mei 2026 di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta. (*)
✍️ Farah

