Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Tema Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara akhirnya telah ditetapkan—sebagaimana telah saya singgung dalam beberapa tulisan terdahulu—yakni “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”. Sebuah tema yang tidak sekadar terdengar indah, tetapi memuat arah gerak yang dalam: menghubungkan kecerdasan sebagai fondasi peradaban dengan cahaya sebagai simbol kebermanfaatan yang meluas. Dalam konteks Muhammadiyah, tema ini bukan hanya seruan, tetapi penegasan jalan.
Menariknya, Sumatera Utara sendiri bukan sekadar lokasi penyelenggaraan. Ia adalah narasi hidup dari tema itu. Sumatera Utara adalah contoh konkret dari keberagaman yang bertemu dalam kebersamaan. Di sana, nilai-nilai lokal seperti Dalihan Na Tolu hidup dan mempengaruhi cara masyarakat menjaga relasi, menghormati peran, dan merawat harmoni. Prinsip ini berjalan berdampingan dengan kearifan budaya Melayu serta ragam budaya lain yang tumbuh bersama. Bahkan Medan dan sekitarnya dapat kita lihat sebagai miniatur nyata keindonesiaan—tempat perbedaan tidak dihapus, tetapi dirangkul menjadi kekuatan.
Saya selalu percaya, kecerdasan yang dimaksud di sini bukan semata soal angka, gelar, atau prestasi yang mudah dipamerkan. Ia lebih dalam—tentang kemampuan membaca zaman, memahami perubahan, dan tetap teguh pada nilai. Bangsa yang cerdas bukan hanya yang mampu bersaing, tetapi yang tahu arah. Tidak mudah terbawa arus, tidak mudah pula kehilangan pijakan.
Namun kecerdasan saja tidak cukup. Ia harus berbuah cahaya. Dan cahaya itu hanya lahir dari kebermanfaatan. Dari kerja-kerja yang mungkin tidak terlihat, dari pengabdian yang seringkali tidak disebut, dari niat yang sunyi tetapi terus dijaga. Di sinilah letak keindahan gerakan—ketika yang kecil dikerjakan dengan sungguh-sungguh, lalu perlahan memberi dampak yang besar.
Dalam pengalaman berorganisasi, kita sering menemukan bahwa tantangan terbesar bukan pada luar, tetapi pada dalam diri sendiri. Rasa lelah, ingin diakui, atau bahkan kecewa karena tidak dihargai. Di titik itu, tema ini seperti mengingatkan kembali: apakah yang kita cari sekadar pengakuan, ataukah cahaya yang lebih luas?
Mengurus organisasi, apalagi sebesar Muhammadiyah, bukan tentang siapa paling terlihat, tetapi siapa paling bertahan. Bukan siapa paling lantang, tetapi siapa paling konsisten. Karena sesungguhnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sesekali hebat, tetapi oleh mereka yang terus berjalan, meski perlahan.
Kerja tim menjadi kunci. Tidak ada cahaya besar yang lahir dari satu sumber saja. Ia adalah hasil dari banyak titik kecil yang menyala bersama. Maka belajar berbagi peran, saling menguatkan, dan tidak merasa paling penting adalah bagian dari kecerdasan itu sendiri.
Di sisi lain, menjaga keseimbangan hidup juga menjadi ujian. Banyak yang ingin memberi segalanya untuk organisasi, tetapi lupa bahwa keluarga, pekerjaan, dan diri sendiri juga bagian dari amanah. Kecerdasan sejati justru terlihat dari kemampuan menempatkan semuanya secara proporsional.
Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada satu kesadaran sederhana: bahwa semua ini berakar pada spiritualitas. Tanpa itu, gerakan akan terasa kering. Tanpa itu, langkah akan mudah goyah. Tetapi dengan hati yang terjaga, bahkan kerja yang berat pun terasa ringan.
Dari pemaparan ini, kita dapat menarik satu benang merah yang kuat: bahwa tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” bukan hanya cita-cita besar, tetapi juga cermin dari realitas yang sudah hidup di tengah masyarakat—khususnya di Sumatera Utara. Keberagaman yang terkelola dengan nilai, kebersamaan yang dijaga dengan kearifan lokal seperti Dalihan Na Tolu, serta dinamika sosial di Medan menjadi bukti bahwa cahaya itu bukan sesuatu yang jauh, tetapi sesuatu yang sudah menyala, tinggal bagaimana kita merawat dan memperluasnya.
Maka, tugas kita bukan lagi sekadar memahami tema ini, tetapi menerjemahkannya dalam tindakan nyata. Menjadi pribadi yang cerdas dalam berpikir, matang dalam bersikap, dan luas dalam memberi manfaat. Sebab pada akhirnya, cahaya tidak lahir dari wacana, tetapi dari kerja nyata yang konsisten dan bernilai.
Dan jika setiap kita mampu menjadi titik cahaya kecil di tempat masing-masing, maka bukan hal yang mustahil, semesta itu benar-benar akan bercahaya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

