Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat, kita sering lupa bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan kekuasaan, tetapi juga pada ketahanan keluarga dan kualitas manusianya. Di sinilah peran perempuan menemukan makna paling dalam—bukan sekadar pelengkap, tetapi penentu arah peradaban.
Sejak awal berdirinya, Aisyiyah telah menegaskan bahwa dakwah tidak cukup hanya disampaikan dari mimbar ke mimbar. Dakwah harus hidup, menyatu dalam tindakan nyata—di sekolah, di layanan kesehatan, hingga di tengah denyut kehidupan masyarakat.
Pesan mendalam dari Nyai Ahmad Dahlan seakan menjadi kompas moral gerakan ini:
“Kalau Muhammadiyah dipandang kurang baik, janganlah hanya dicela. Dan kalau dipandang baik, janganlah hanya dipuji, tetapi bantulah dan suburkanlah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.”
Pesan ini sederhana, tetapi tajam. Ia menegur kecenderungan kita yang sering berhenti pada penilaian—mengkritik tanpa kontribusi, atau memuji tanpa keterlibatan. Padahal, membangun peradaban membutuhkan partisipasi, bukan sekadar opini.
Peran perempuan, terutama kader Aisyiyah, sangat strategis dalam membangun keluarga yang kuat dan masyarakat yang sejahtera. Dari tangan-tangan mereka lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Mereka mendidik dengan kasih, menguatkan dengan keteladanan, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.
Dalam relasinya dengan Muhammadiyah, Aisyiyah bukan sekadar pelengkap, melainkan tiang penyangga yang kokoh. Jika Muhammadiyah membangun struktur besar pergerakan, maka Aisyiyah menguatkan fondasi terdalamnya: keluarga, pendidikan perempuan, dan nilai kemanusiaan.
Aisyiyah telah menjadi pelita peradaban melalui berbagai bidang—pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Amal usaha yang dirintis bukan sekadar institusi, tetapi menjadi ruang pengabdian yang menghadirkan solusi nyata bagi umat. Ini adalah bukti bahwa dakwah tidak berhenti pada kata-kata, tetapi hadir dalam tindakan yang menyentuh kehidupan.
Tema Milad ke-109 tahun ini, “Memperkokoh Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak hanya untuk dirinya sendiri atau kelompoknya, tetapi untuk kemanusiaan yang lebih luas. Perdamaian tidak lahir dari retorika, melainkan dari keadilan, kepedulian, dan keberanian untuk merawat sesama.
Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik dan polarisasi, perempuan berkemajuan hadir sebagai penjaga nurani. Mereka menenun harmoni dalam diam, menguatkan kehidupan tanpa banyak sorotan. Ketika perempuan kuat, keluarga akan kokoh. Ketika keluarga kokoh, masyarakat akan stabil. Dan ketika masyarakat stabil, negara akan berdiri dengan tegak.
Maka, memperkuat Aisyiyah berarti memperkuat peradaban.
Memberdayakan perempuan berarti membangun masa depan bangsa.
Selamat Milad ke-109 Aisyiyah. Teruslah menjadi cahaya—yang tidak hanya menerangi, tetapi juga menghidupkan. (*)
#milad109Aisyiyah
#Aisyiyah
#PerempuanBerkemajuan

