Site icon TAJDID.ID

Amanah Peradaban: Ketika Muhammadiyah Menjaga Arah Pendidikan Bangsa

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Masih dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, kita menyaksikan sebuah momentum yang tidak sekadar seremonial. Di saat yang sama, kader-kader Muhammadiyah tengah menempati posisi strategis yang diamanahkan negara, sebagai menteri pendidikan dasar dan menengah, serta menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Ini bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang amanah peradaban yang sejalan dengan denyut awal kelahiran Muhammadiyah: mencerdaskan kehidupan umat melalui pendidikan yang mencerahkan.

Sejak dirintis oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah meletakkan fondasi bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Bukan sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi sebagai sarana untuk memerdekakan manusia dari kebodohan dan ketertinggalan. Pendidikan dimaknai sebagai proses panjang yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai kehidupan.

Muhammadiyah sangat konsen pada peningkatan sumber daya manusia. Karena itulah sejak awal, gerakan ini berusaha mengangkat derajat kaum marjinal agar keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan, utamanya melalui pendidikan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak lahir untuk membangun sekat sosial, tetapi untuk meruntuhkan batas-batas ketidakadilan. Ia hadir untuk mereka yang sering kali tak mendapat tempat, agar memiliki peluang yang sama untuk tumbuh dan bermakna.

Namun pendidikan yang dibangun Muhammadiyah tidak berhenti pada ruang kelas. Ia adalah pendidikan yang hidup, yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan arah nilai. Inilah makna pendidikan berkelanjutan: belajar tidak pernah selesai. Di tengah dunia yang terus berubah, manusia dituntut untuk terus memperbarui diri, memperluas wawasan, dan memperdalam kebijaksanaan.

Di era digital hari ini, tantangan pendidikan justru semakin kompleks. Informasi datang tanpa jeda, tetapi tidak semuanya membawa kebenaran. Kita menyaksikan bagaimana ruang publik dipenuhi oleh komunikasi yang serba cepat, reaktif, bahkan terkadang kehilangan etika. Pola komunikasi ala “buzzer” yang lebih mengedepankan pencitraan daripada substansi perlahan merembes ke berbagai lini, termasuk dunia pendidikan. Ini menjadi ujian serius: apakah pendidikan masih mampu melahirkan kejernihan berpikir, atau justru ikut larut dalam arus kebisingan?

Di sisi lain, realitas pendidikan kita juga masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kecil. Persoalan kesejahteraan guru, terutama guru honorer, yang belum sepenuhnya mendapat perhatian yang layak, menjadi ironi di tengah tuntutan profesionalisme. Infrastruktur sekolah yang masih minim, khususnya di daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan belum sepenuhnya terwujud. Belum lagi soal penempatan pimpinan di satuan pendidikan yang kerap dipengaruhi kepentingan politik, sehingga rekrutmen kepala sekolah tidak selalu berbasis kapasitas kepemimpinan dan intelektual, tetapi terkadang oleh faktor-faktor lain yang jauh dari semangat pendidikan itu sendiri.

Di titik inilah peran Muhammadiyah kembali diuji. Pendidikan berkemajuan tidak cukup hanya dengan gedung dan kurikulum, tetapi harus menghadirkan nilai dan keberpihakan. Lembaga pendidikan harus menjadi ruang dialog yang jujur dan mencerahkan, sekaligus menjadi contoh praktik baik dalam tata kelola yang profesional dan berintegritas. Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Kehadiran kader-kader Muhammadiyah di lingkar kekuasaan, khususnya di sektor pendidikan, tentu membawa harapan besar. Namun harapan itu tidak boleh berhenti pada simbol. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada kualitas manusia, pada kesejahteraan guru, pada pemerataan akses pendidikan, serta pada sistem rekrutmen dan kepemimpinan yang bersih dari intervensi kepentingan sempit.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi tentang nilai apa yang diwariskan. Dan Muhammadiyah, dengan seluruh perjalanan dan pengalamannya, telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah jalan panjang untuk merawat cahaya peradaban.

Selama cahaya itu dijaga, melalui ilmu, melalui akal sehat, dan melalui hati yang jernih, maka harapan akan masa depan bangsa tidak akan pernah benar-benar padam. (*)

Exit mobile version