Site icon TAJDID.ID

Indonesia: Gelap atau Terang?

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Potret Indonesia hari ini layaknya sebuah lukisan abstrak yang terpajang di galeri nasional: tergantung siapa yang melihat dan seberapa jauh mereka berdiri dari objeknya.

Bagi elemen rakyat tuna kuasa yang sehari-hari “bergelut di lumpur,” potret itu tampak buram, berdebu, dan mungkin mendekati gelap gulita. Namun, bagi mereka yang duduk manis di singgasana kekuasaan, Indonesia adalah taman bunga yang bersinar terang benderang—mungkin karena silau oleh lampu kristal istana.

Sepertinya, kita sedang terjebak dalam perang sudut pandang yang melelahkan. Di satu sisi, ada kelompok rakyat kritis-pesimistik yang dituduh hobi menyebar “narasi kegelapan.” Di sisi lain, ada kubu rezim penguasa-optimistik yang sering memandang kritik sebagai polusi suara yang harus segera dibersihkan.

 

Tantrum Politik

Pertanyaannya sederhana: mengapa penguasa kita belakangan ini tampak kerap begitu emosional, bahkan seringkali terlihat “tantrum” saat menghadapi kritik?

Seharusnya, kekuasaan yang kokoh itu tenang, setenang samudera. Namun, yang kita saksikan justru sebaliknya. Kritik—yang dalam demokrasi dianggap sebagai vitamin—justru direspons dengan kemarahan meledak-ledak. Reaksi emosional ini sebenarnya adalah pengakuan implisit bahwa argumen mereka sedang keropos. Saat logika tak lagi mampu membungkam fakta, maka emosi menjadi benteng terakhir.

Kekuasaan yang sehat tidak butuh urat leher yang tegang; hanya kekuasaan yang merasa terancam yang akan menyerang balik secara personal.

 

Dari Yaman ke Yordania

Puncak dari komedi satir ini adalah saran yang sangat “visioner”: menyuruh para pengkritik yang bersuara lantang tentang “Indonesia Gelap” untuk kabur ke Yaman. Sebuah solusi yang luar biasa praktis, bukan? Jika tidak suka dengan kegelapan di sini, silakan pindah ke tempat yang (menurut mereka) jauh lebih gelap.

Namun, netizen kita memang jago dalam hal membalikkan logika. Jawaban mereka telak: “Kenapa tidak ke Yordania saja?”

Ini bukan sekadar saran lokasi wisata Timur Tengah. Ini adalah sindiran tajam bin pedas. Yordania, dalam memori kolektif politik kita, sering diasosiasikan sebagai tempat “pelarian” atau pengasingan tokoh tertentu di masa lalu saat ia kehilangan panggung kekuasaan. Netizen ingin mengingatkan bahwa roda itu berputar. Hari ini Anda menyuruh orang ke Yaman, bisa jadi esok atau lusa, giliran Anda yang harus mengemas koper menuju Yordania karena tak lagi punya tempat di hati rakyat.

 

Kejujuran yang Tergadai

Mari kita jujur: bangsa ini sedang tidak baik-baik saja jika perbedaan sudut pandang dianggap sebagai pengkhianatan. Memaksakan narasi “Indonesia Terang” di tengah pemadaman akal sehat dan keadilan adalah bentuk manipulasi visual yang jahat.

Kritik bukan berarti membenci negara; justru kritik adalah cara mencintai negara agar tidak jatuh ke jurang. Jika penguasa terus-menerus memelihara watak tantrum dan hobi “mengusir” rakyatnya sendiri secara verbal, maka sebenarnya merekalah yang sedang memadamkan lampu harapan bangsa ini.

Jadi, Indonesia ini gelap atau terang? Jawabannya ada pada nurani kita masing-masing, bukan pada pidato-pidato yang ditulis oleh mereka yang takut akan bayangannya sendiri. (*)

 

Exit mobile version