Site icon TAJDID.ID

Ditantang Mundur dari ASN Jika Ingin Kritik Pemerintah, Begini Jawaban Feri Amsari

TAJDID.ID~Medan 🔳 Sebuah tantangan dari akun X @Silvy_2021
bernama Silvy Riau memicu perbincangan di media sosial. Ia menantang pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari untuk mengundurkan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) jika ingin secara terbuka mengkritik pemerintah, agar kritik tersebut terlihat lebih idealis.

Silvy bahkan menyarankan Feri meniru Ustadz Abdul Somad (UAS) yang diklaim mundur dari status ASN-nya.Dalam cuitannya pada Minggu (19/4/2026), Silvy menulis:

“Pak @feriamsari saran gw nih : kalo lu mau fight kritik pemerintah dan terlihat betul2 perjuangkan idealisme, lu bisa contoh UAS. Mundur ASN dulu.. Berani kagak?? Coba runding dl sama Bohirnya, kalo lai balabo ; gasskeun per.. Lai Talok per?? “

Feri Amsari, dosen Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) yang juga dikenal sebagai pengkritik kebijakan pemerintah, merespons tantangan tersebut dengan nada sarkastik dan edukatif.

Dalam balasannya yang viral, ia menyatakan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan hak dasar warga negara, termasuk bagi ASN, selama tidak melanggar aturan yang berlaku.

“Kalo ngak ngerti konsep bernegara, presiden dan ASN saran saya ambil tali, ikat dikepala trus goyangkan 3x siapa tau berguna utk stabilitas pikiran. Ada 8 jt org di US demo, jutaan diantaranya ASN. Mreka tak mundur krn mengeritik pemerintah itu hak, kecuali di zaman babu n batu,” tulis Feri Amsari di akun @feriamsari .

Tangkapan layar cuitan Feri Amsari di lsman X.

Respons Feri merujuk pada demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat yang melibatkan jutaan ASN tanpa mereka harus mengundurkan diri. Ia menekankan bahwa era “babu dan batu” — yang diasosiasikan dengan zaman otoriter di mana pegawai negeri hanya boleh patuh tanpa bersuara — sudah tidak relevan lagi di negara demokrasi modern.

Latar Belakang Kontroversi

Diketahui, selama ini Feri Amsari sering tampil di media nasional membahas isu konstitusi, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah saat ini. Sebagai ASN di lingkungan perguruan tinggi negeri, statusnya kerap menjadi sorotan pihak yang tidak sepakat dengan pandangannya.

Sementara itu, Silvy Riau dikenal aktif di platform X dengan komentar-komentar bernada realistis dan sering mendukung pemerintah.

Perdebatan ini mencerminkan ketegangan yang kerap muncul di Indonesia antara kebebasan berpendapat dan netralitas ASN. Menurut

Hingga berita ini diturunkan, baik Silvy maupun Feri belum memberikan tanggapan lanjutan atas interaksi tersebut.

Cuitan Feri telah mendapat ribuan likes dan repost, menunjukkan dukungan signifikan dari netizen yang sepakat bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi.

Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya pemahaman konsep bernegara di era digital, di mana perdebatan publik sering berlangsung dengan nada santai namun sarat makna. (*)

Exit mobile version