Site icon TAJDID.ID

Teater “Gaslighting” di Panggung Kekuasaan

Foto ilustrasi Gaslighting Politik.

Oleh: M. Risfan Sihaloho

 

Selamat datang di era di mana ingatan Anda adalah musuh terbesar Anda. Jika Anda merasa ada yang salah dengan kondisi bangsa hari ini, kemungkinan besar bukan negaranya yang sedang rusak, melainkan—menurut narasi penguasa—kewarasan Anda yang sedang terganggu.

Di Indonesia hari ini, gaslighting bukan lagi sekadar istilah psikologi dalam hubungan toksik sepasang kekasih; ia telah berevolusi menjadi instrumen kebijakan publik yang paling efisien.

 

Kebenaran yang “Diedit” Secara Real-Time

Bayangkan skenarionya: Kita melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana konstitusi ditekuk di siang bolong demi kepentingan dinasti, namun melalui pengeras suara kekuasaan, kita diberitahu bahwa itu adalah “demi keberlanjutan” dan “penghormatan terhadap proses hukum”.

Inilah esensi gaslighting politik. Ketika fakta berbicara A, rezim akan berteriak B dengan bantuan paduan suara pendengung (buzzer) yang militan. Tujuannya sederhana namun mematikan: membuat publik meragukan akal sehatnya sendiri.

Ada beberapa bentuk intrik gaslighting yang galib dipraktikkan.

Pertama, penyangkalan fakta: Jika harga pangan naik, mereka akan bilang itu “fluktuasi wajar” atau justru menyalahkan pola makan rakyat yang kurang variatif.

Kedua, narasi palsu: misalnya, jika ada yang menyebut kehidupan demokrasi merosot, maka mereka akan menyodorkan indeks-indeks buatan yang mengeklaim kita sedang dalam kondisi “baik-baik saja”.

Ketiga, serangan kredibilitas: Siapa pun yang berani menyodorkan data tandingan akan dicap sebagai “barisan sakit hati”, “anti-pembangunan”, “antek asing” atau yang paling klasik: “terpapar radikalisme”.

 

Membangun Halusinasi Kolektif

Dalam kajian psikologi, pelaku gaslighting ingin korbannya merasa tidak kompeten. Dalam konteks bernegara, rezim sedang memposisikan rakyat sebagai “anak kecil yang tidak tahu apa-apa”.

Setiap kritik dibalas dengan senyuman santun namun kosong, atau lebih buruk lagi, dengan pernyataan yang memutarbalikkan logika. Kita dipaksa percaya bahwa korupsi yang merajalela adalah “musibah administratif” dan pelemahan lembaga pengawas adalah “penguatan koordinasi”.

“Teknik ini sukses menciptakan keletihan mental kolektif. Rakyat akhirnya memilih diam bukan karena setuju, tapi karena lelah meyakinkan orang tuli bahwa suara ledakan itu nyata.”

 

Satir di Atas Luka

Ironisnya, di tengah kepungan gaslighting ini, kita diminta untuk tetap optimis. Kita disuguhi pembangunan fisik yang megah—beton yang menjulang dan aspal yang mengkilap—sebagai bukti keberhasilan. Namun, apa gunanya jalan tol yang mulus jika itu dibangun di atas tanah hukum yang retak dan akal sehat yang dikebiri?

Rezim hari ini sedang memainkan peran sebagai pasangan yang kasar: mereka memukul hak-hak kita, lalu membawakan bunga berupa bansos sambil berkata; “Jangan dengarkan mereka, hanya aku yang peduli padamu.”

 

Melawan Amnesia Paksaan

Gaslighting politik hanya akan berhasil jika kita setuju untuk lupa. Kekuasaan sangat membenci catatan sejarah yang rapi dan ingatan yang tajam.

Mereka lebih suka jika kita menderita amnesia jangka pendek yang akut, sehingga setiap kebohongan baru bisa diterima sebagai kebenaran yang segar.

Jika hari ini Anda merasa sedang “digas” oleh retorika-retorika manis bin ajaib dari singgasana kekuasaan, jangan periksakan diri ke psikiater. Periksalah catatan sejarah dan data empiris. Sebab, musuh terbesar dari sebuah rezim yang manipulatif bukanlah oposisi yang berisik, melainkan rakyat yang menolak untuk menjadi gila dan tetap memegang teguh kewarasannya di tengah sirkus narasi palsu.

Ingat, Anda tidak sedang berhalusinasi. Mereka memang sedang berbohong. (*)

 

Exit mobile version