Site icon TAJDID.ID

Flexing Relegius: Ketika Ibadah Jadi Konten

Foto ilustrasi Flexing Relegius.

Oleh: Heri Isnaini

Beberapa tahun lalu, orang memamerkan liburan. Lalu bergeser ke kopi mahal, outfit, dan gaya hidup. Sekarang, yang mulai sering kita lihat justru hal yang dulu dianggap paling personal, yaitu ibadah.

Di media sosial, kita menemukan potongan-potongan kesalehan yang ditampilkan dengan rapi. Seseorang membaca kitab suci dengan pencahayaan yang estetik. Ada yang membagikan momen sedekah dengan narasi yang menyentuh. Bahkan, tidak sedikit yang memperlihatkan tangisan dalam doa tentu saja lengkap dengan musik latar yang membuatnya terasa semakin khusyuk.

Sekilas, semua itu tampak baik. Bahkan sangat baik. Namun justru karena itulah, ia perlu dibaca lebih hati-hati.

Media sosial tidak netral. Ia bekerja dengan logika visibilitas, yakni apa yang terlihat akan lebih diingat, lebih dihargai, dan lebih dianggap “ada”. Laporan We Are Social (studi tahunan komprehensif mengenai tren digital, internet, dan media sosial global serta lokal.) menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial. Artinya, sebagian besar pengalaman kita [termasuk pengalaman keagamaan] tidak lagi hanya terjadi, tetapi juga berpotensi ditampilkan di media sosial.

Di sinilah ibadah mulai berhadapan dengan sistem yang berbeda. Ibadah, yang sejak awal bersifat personal dan tidak membutuhkan penonton, kini masuk ke ruang yang justru menuntut sebaliknya, “keterlihatan”. Akibatnya, terjadi pergeseran, yaitu ritual ibadah tidak hanya dilakukan, tetapi juga dikomunikasikan, dikemas, dan kadang dipertunjukkan.

Jika dulu yang dipamerkan adalah simbol-simbol duniawi, kini yang dipamerkan mulai bergeser ke simbol-simbol religius.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia sejalan dengan perubahan budaya digital yang lebih luas.

Dalam kajian sosiologi, Erving Goffman, menjelaskan bahwa kehidupan sosial sering kali menyerupai panggung, tempat individu menampilkan diri sesuai dengan ekspektasi audiens. Media sosial memperluas panggung itu dan memperbesar tekanan untuk tampil.

Dalam konteks ini, kesalehan menjadi bagian dari “peran” yang bisa dimainkan. Kita melihat: ibadah yang terdokumentasi; sedekah yang divisualkan; dan pengalaman spiritual yang dikurasi.

Secara permukaan, ini tampak seperti pergeseran ke arah yang lebih baik. Namun secara struktural, yang terjadi sebenarnya adalah adaptasi dari logika lama ke bentuk baru. Dari pamer harta, menjadi pamer nilai. Dari menunjukkan kekayaan, menjadi menunjukkan kesalehan.

Fenomena ini bisa dipahami lebih jauh melalui konsep kapital simbolik yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, tidak semua bentuk kekuasaan bersifat material. Ada juga kekuasaan yang berasal dari pengakuan sosial status, kehormatan, dan legitimasi.

Dalam konteks digital, kesalehan yang terlihat bisa menjadi bentuk kapitalisasi tersebut. Orang yang tampak religius akan memiliki dampak: lebih mudah dipercaya, lebih dihormati, dan lebih memiliki otoritas moral. Ini menjelaskan mengapa konten religius sering mendapatkan respons yang tinggi. Ia tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga memperkuat posisi sosial pembuatnya. Dengan kata lain, ibadah tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga beroperasi dalam ekonomi perhatian.

Pendukung praktik ini sering menyebutnya sebagai bagian dari dakwah. Dan memang, tidak bisa dipungkiri bahwa konten religius dapat menginspirasi, mengingatkan, bahkan menggerakkan perubahan.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada fungsi. Ketika sebuah ibadah mulai dipikirkan dari sisi estetika, disesuaikan dengan algoritma, dan diproduksi agar “menyentuh” maka kita tidak lagi berhadapan dengan ibadah itu sendiri, melainkan dengan representasi ibadah.

Dalam istilah Jean Baudrillard, ini mendekati konsep simulacra, yakni representasi tidak lagi sekadar menggambarkan realitas, tetapi menggantikannya. Ada realitas semu (hyperrealitas) dan simulasi (simulation). Jadi, yang kita lihat bukan lagi pengalaman spiritual, tetapi versi yang telah dipilih, diedit, dan disusun untuk dilihat.

Fenomena ini juga menghasilkan efek yang tidak selalu disadari, yakni tekanan kesalehan. Sebuah studi dari Pew Research Center menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi persepsi diri, terutama dalam hal perbandingan sosial.
Ketika seseorang terus-menerus melihat orang lain tampak lebih rajin ibadah, lebih dermawan, dan lebih “dekat” dengan Tuhan maka muncul perasaan kurang, merasa tertinggal, dan bahkan tidak layak. Karena, spiritualitas yang seharusnya bersifat personal berubah menjadi arena kompetisi yang tidak terlihat.

Dalam banyak tradisi spiritual, ada penekanan kuat pada yang tersembunyi. Dalam Islam, misalnya, konsep keikhlasan (ikhlas) sering dikaitkan dengan amal yang tidak diketahui orang lain. Bahkan, ada hadis yang menyebutkan keutamaan sedekah yang dilakukan secara diam-diam.

Namun, dalam budaya digital, yang tersembunyi cenderung kehilangan nilai sosialnya. Ia tidak terlihat, tidak diapresiasi, dan tidak masuk dalam arus perhatian. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menampilkan apa yang seharusnya disimpan. Dan di sinilah kita mulai kehilangan sesuatu yang penting, yaitu ruang sunyi. Padahal, justru di ruang itulah banyak orang menemukan kejujuran spiritualnya.

Pada akhirnya, fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari, “Apakah kita beribadah untuk menjadi, atau untuk terlihat menjadi?” Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Karena dalam praktiknya, keduanya sering bercampur.

Namun, kesadaran atas perbedaan ini menjadi penting karena tanpa disadari, kita bisa tetap beribadah, tetapi orientasinya telah bergeser. Dari relasi dengan Tuhan, menjadi relasi dengan audiens.

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk tampil, mungkin yang paling sulit justru adalah menahan diri untuk tidak tampil. Menjaga sebagian dari diri tetap tersembunyi. Menjaga sebagian dari ibadah tetap sunyi. Bukan karena takut dilihat, tetapi karena sadar bahwa tidak semua hal perlu disaksikan. Karena bisa jadi, justru di ruang yang tidak terlihat itu, ibadah menemukan bentuknya yang paling jujur tanpa kamera, tanpa algoritma, tanpa kebutuhan untuk diakui. (*)

Bandung, 18 April 2026

 

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya.

Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI..

Exit mobile version