Site icon TAJDID.ID

Medan 1939: Ketika Mimbar Dakwah Bertemu Panggung Kepemimpinan

Buya Hamka

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Sejarah sering bergerak pelan, tetapi pada momen tertentu ia tiba-tiba melompat jauh. Tahun 1939 di Medan adalah salah satu lompatan itu. Di sebuah kota perkebunan yang hiruk-pikuk oleh mesin kolonial, berlangsung Kongres ke-28 Muhammadiyah. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya peristiwa organisasi. Namun bagi perjalanan Hamka, ia adalah titik balik yang mengubah mimbar dakwah menjadi panggung kepemimpinan regional.

Medan pada akhir 1930-an bukan kota biasa. Ia adalah simpul ekonomi kolonial, kota perkebunan yang dihuni buruh, pedagang, intelektual, dan elite birokrasi. Di ruang sosial seperti itu, dakwah tidak cukup hanya menjadi ceramah. Ia harus menjadi gagasan, gerakan, sekaligus keberanian. Dan di sinilah Hamka menemukan panggilannya.

Sebelum kongres itu digelar, Hamka telah menempuh perjalanan dakwah yang panjang: dari Makassar, Padang Panjang, hingga Medan. Ia bukan sekadar mubalig yang berpindah kota, melainkan penggerak yang membangun sekolah, menghidupkan majalah, dan menyalakan semangat pembaruan. Ia menulis, berbicara, dan mengorganisasi. Dakwah baginya bukan sekadar menyampaikan, tetapi menghidupkan.

Kongres Muhammadiyah ke-28 menjadi panggung tempat semua perjalanan itu menemukan muaranya. Tidak lama setelah kongres berlangsung, Hamka terpilih menjadi Konsul Muhammadiyah Sumatera Timur. Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural; ia adalah amanah untuk memimpin gerakan di wilayah yang menjadi jantung ekonomi kolonial.

Di sinilah kita melihat wajah lain dari dakwah: dakwah sebagai kepemimpinan. Sebab memimpin gerakan Islam di wilayah perkebunan bukan perkara ringan. Ia berhadapan dengan realitas sosial yang keras: ketimpangan ekonomi, pluralitas masyarakat, tekanan politik kolonial, dan kebutuhan pendidikan umat yang mendesak. Jabatan itu menuntut keberanian, visi, sekaligus kemampuan komunikasi lintas golongan.

Menariknya, perjalanan Hamka memperlihatkan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak lahir dari jabatan, tetapi dari kerja panjang yang sunyi. Ia tidak tiba-tiba menjadi pemimpin; ia menjadi pemimpin karena telah lama bekerja. Ia telah menulis sebelum diminta memimpin. Ia telah berdakwah sebelum diberi jabatan. Ia telah membangun sebelum diberi mandat.

Kongres Medan 1939 seakan menegaskan satu hal penting: organisasi hanya mempercayakan kepemimpinan kepada mereka yang telah membuktikan diri di lapangan. Dan Hamka adalah bukti bahwa kerja intelektual, dakwah, dan organisasi bisa menyatu dalam satu sosok.

Namun ada pelajaran yang lebih dalam dari peristiwa ini. Dakwah yang kuat selalu membutuhkan ruang organisasi. Ide yang besar membutuhkan struktur agar dapat bertahan lama. Tanpa organisasi, gagasan mudah hilang. Tanpa gagasan, organisasi kehilangan arah. Hamka berada di persimpangan keduanya: ia adalah ulama yang menulis, penulis yang berdakwah, dan mubalig yang memimpin.

Medan 1939 menjadi simbol pertemuan tiga hal: kota kolonial, gerakan pembaruan, dan lahirnya kepemimpinan baru. Dari sana, perjalanan Hamka memasuki fase yang lebih berat—fase memimpin di tengah badai sejarah yang segera datang: pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, dan perubahan besar bangsa.

Sejarah kadang tidak menuliskan suara tepuk tangan. Ia hanya mencatat tanggal dan peristiwa. Tetapi di balik Kongres Muhammadiyah 1939 di Medan, ada kisah tentang kerja keras, kepercayaan, dan keberanian mengambil amanah.

Dan dari mimbar dakwah, Hamka melangkah ke panggung kepemimpinan. Bukan untuk mencari kuasa, tetapi untuk memperluas makna pengabdian.(*)

 

Silaturahmi Kolaborasi sinergi Harmoni

Exit mobile version