Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Setiap kali berbicara tentang masa depan Muhammadiyah, saya selalu kembali pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah gerakan yang lahir lebih dari satu abad lalu tetap terasa relevan hari ini, dan bahkan tampak siap menghadapi masa depan?
Jawabannya, bagi saya, ada pada dua kata kunci: berkemajuan dan berkelanjutan.
Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tidak pernah membayangkan dirinya sebagai organisasi yang berhenti pada zamannya. Muhammadiyah sejak awal adalah gerakan pembaruan. Gerakan yang memahami bahwa agama harus hadir menjawab perubahan zaman, bukan sekadar mengenang masa lalu.
Karena itu, Muhammadiyah tidak hanya membangun masjid. Ia membangun sekolah. Ia membangun universitas. Ia membangun rumah sakit. Ia membangun panti asuhan. Ia membangun tradisi berpikir.
Dari rahim gerakan pendidikan inilah lahir begitu banyak tokoh bangsa dengan jalan pengabdian yang berbeda-beda.
Kita mengenang Soekarno yang bertemu gagasan modernisme Islam di masa muda. Kita mengenang Sudirman, kader Muhammadiyah yang menjelma menjadi Panglima Besar dengan integritas yang menjadi teladan sepanjang zaman. Kita juga mencatat Soeharto, yang tumbuh dalam orbit sosial Muhammadiyah dan kemudian memimpin Indonesia selama puluhan tahun.
Bahkan sejarah mencatat kisah yang berbeda arah, seperti Dipa Nusantara Aidit, yang berasal dari keluarga Muhammadiyah tetapi kemudian memilih jalan ideologi yang bertolak belakang. Kisah ini sering membuat kita berhenti sejenak untuk merenung. Dan justru di situlah pelajaran penting tentang keberlanjutan itu berada.
Muhammadiyah tidak pernah membangun “pengikut”. Muhammadiyah membangun manusia.
Manusia yang berpikir. Manusia yang mandiri. Manusia yang merasa punya tanggung jawab kepada umat dan bangsa.
Sebagian dari mereka kelak menjadi pemimpin bangsa. Sebagian menjadi pendidik. Sebagian menjadi dokter. Sebagian menjadi aktivis sosial. Sebagian menjadi birokrat. Dan sebagian memilih jalan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Namun satu hal yang tetap: Muhammadiyah terus menyalakan mata air kaderisasi.
Inilah makna Muhammadiyah Berkemajuan. Bukan sekadar modern. Bukan sekadar mengikuti zaman. Tetapi berani berada di depan zaman, dengan ilmu, dengan amal, dengan keberanian berpikir.
Dan di saat yang sama, Muhammadiyah juga menjadi Muhammadiyah Berkelanjutan. Gerakan yang tidak bergantung pada satu tokoh, satu generasi, atau satu momentum sejarah. Ia hidup dari sistem pendidikan, amal usaha, dan tradisi kaderisasi yang terus berputar dari generasi ke generasi.
Di titik inilah, saya merasa kita semua memiliki tanggung jawab yang sama: menjaga, merawat, dan memastikan Muhammadiyah terus berkontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Tidak cukup hanya bangga pada sejarahnya, tetapi juga ikut menjadi bagian dari ikhtiar panjangnya.
Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Ia hidup dari partisipasi warganya, dari keikhlasan kadernya, dari kepedulian generasinya.
Karena Muhammadiyah percaya, masa depan bangsa tidak dibangun dalam satu periode pemerintahan. Masa depan bangsa dibangun dalam rentang generasi.
Dan selama mata air pendidikan itu terus mengalir, selama semangat tajdid terus menyala, selama amal usaha terus hidup—Muhammadiyah tidak hanya berkemajuan. Ia berkelanjutan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
sekarang. Foto horizontal untuk web

