Site icon TAJDID.ID

Persaudaraan yang Menguatkan Langkah menuju Muktamar Berkemajuan

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Tebing Tinggi

 

Ada momen yang terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Dalam sebuah syukuran kecil-kecilan yang diadakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Sumatera Utara atas capaian Guru Besar Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, suasana hangat penuh tawa dan kebersamaan terasa begitu hidup. Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Agussani, berdiri di samping Prof. Hasrat, disambut tepuk tangan para hadirin. Suasana itu terasa bukan sekadar seremoni, melainkan perjumpaan dua perjalanan panjang kader Muhammadiyah yang bertemu dalam ruang pengabdian yang sama.

Momen tersebut seperti simbol kuatnya ikatan senior dan junior dalam Muhammadiyah. Dua pribadi dengan karakter berbeda, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama pada Persyarikatan. Prof. Agussani dikenal sebagai sosok yang tenang, terukur, dan strategis. Ia jarang berbicara meledak-ledak, namun langkah dan keputusannya sering kali tepat sasaran. Kepemimpinannya di UMSU menjadi gambaran bagaimana ketenangan dapat melahirkan keberhasilan yang nyata.

Di sisi lain, Prof. Hasrat Efendi Samosir dikenal sebagai komunikator yang lugas, ekspresif, dan penuh semangat. Cara bicaranya kadang meledak-ledak, tetapi selalu dibungkus humor yang membuat jamaah betah mendengar ceramahnya. Dua gaya yang kontras, namun justru tampak saling melengkapi—seperti dua warna berbeda yang menyatu dalam satu lukisan besar bernama Muhammadiyah.

Sebagaimana hubungan senior dan junior pada umumnya, perjalanan mereka tentu tidak selalu berada pada garis yang sama. Perbedaan cara dan pendekatan adalah hal yang wajar dalam organisasi besar. Namun pada hakikatnya, keduanya memiliki cinta yang sama kepada Muhammadiyah. Prof. Hasrat pernah bercerita bagaimana dahulu Prof. Agussani mendorongnya melanjutkan studi S2 dan memberi motivasi yang hingga kini tetap diingat. Kisah sederhana yang menunjukkan bahwa kaderisasi sering tumbuh dari dorongan personal yang tulus.

Kebersamaan itu seolah menjadi pesan penting : perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan energi untuk saling menguatkan. Muhammadiyah sejak lama hidup dari tradisi dialog, perbedaan pendapat, dan semangat kolektif untuk terus bergerak maju.

Harapan itu kini menemukan momentumnya ketika Sumatera Utara dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-49. Sebuah amanah besar yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga strategis. Dalam momentum ini, Prof. Agussani mendapat tugas penting sebagai Ketua Panitia Muktamar yang bertanggung jawab mempersiapkan sarana dan prasarana penyelenggaraan. Tugas ini bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari kerja kolektif untuk memastikan perhelatan akbar Persyarikatan berlangsung sukses dan bermakna.

Muktamar Muhammadiyah bukan hanya agenda lima tahunan. Ia adalah ruang kaderisasi terbesar, tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan harapan dari seluruh penjuru negeri. Di sanalah arah gerakan dirumuskan, strategi masa depan disusun, dan semangat berkemajuan diperkuat. Muktamar adalah momentum konsolidasi—menguatkan barisan, mempererat ukhuwah, sekaligus menegaskan kembali peran Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman.

Karena itu, kebersamaan para pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Utara, wilayah, daerah, cabang, ranting, hingga amal usaha, menjadi kunci utama. Dukungan dan sinergi semua pihak akan menentukan keberhasilan perhelatan besar ini.

Foto kebersamaan itu tentunya bukan sekadar dokumentasi acara. Ia menjadi simbol kekompakan dalam menyongsong muktamar, sekaligus pengingat bahwa kader Muhammadiyah dipersiapkan untuk umat dan bangsa. Sebab di balik kebersamaan yang hangat, tersimpan keyakinan besar: Muhammadiyah terus melangkah menatap masa depan yang berkemajuan dan berkelanjutan. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version