TAJDID.ID~Solo || Peta jalan masa depan sekolah berkeunggulan dan berkemajuan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah Sri Sayekti.
Pernyataan itu disampaikan saat memberi pengantar pada acara perdana kegiatan PMO (Project Manajemen Office) Sekolah Model PM-K (Pembelajaran Mendalam-Koding) di Aula Sekolah Sehat Jalan Kartini Barat Pura Mangkunegaran, Jumat (10/4/2026).
Acara dimulai pukul 13.00 WIB. Dalam PMO kali ini, Sri Sayekti menjelaskan bahwa pada bulan April 2026 dengan adanya pembuatan rencana tindak lanjut (RTL) dan diskusi komunitas belajar dengan fasilitator kepala sekolah maupun guru.
“Pekan 1-2 Mei 2026 dengan coaching dan supervisi pembelajaran dengan fasilitator kepala sekolah. Dan akhirnya sampai bulan Juni dengan kegiatan workshop intensif pembelajaran berdiferensiasi di kelas,” ujarnya.
Menurutnya, masa depan SD Muhammmadiyah 1 Ketelan yang berdiri sejak 1935 ini akan sukses gemilang ketika memadukan kearifan kurikulum Ismbua dengan kekuatan analitis pembelajaran mendalam, AI, dan koding.
Solusi komprehensif untuk menjembatani kesenjangan kompetensi menuju era AI. “Belajar teori AI/Koding di PMM, mempraktikkannya dalam Lesson Study bersama kombel, dan menyempurnakannya melalui coaching oleh kepala sekolah,” urainya.
Ia menekankan, mari bersama-sama mengawal implementasi RTL melalui komunitas belajar.
Sayekti juga berharap pertama menciptakan ekosistem di mana teknologi tidak menggantikan guru, melainkan memberdayakan merekan. Yang kedua menjawab tantangan Rapor Pendidikan dengan metode interaktif yang terukur.
“Yang ketiga mengokohkan posisi sebagai sekolah rujukan dan berbudaya mutu di tingkat nasional,” harapnya.
Namun, Sayekti mengatakan, Solusi taktis dari lesson study dan komunitas belajar bisa diawali dengan perencananaan bersama. Memaksimalkan peran kelompok belajar di setiap rombel untuk merancang modul ajar yang mengintegrasikan Koding sederhana dan pemanfaatan AI.
Lalu, hadirnya observasi terjadwal dengan melakukan lesson study secara bergantian. Guru tidak belajar sendiri, melainkan saling mengamati penerapan metode pembelajaran interaktif.
“Jurus selanjutnya dengan refleksi praktik baik dengan cara berbagi strategi tentang cara mengakomodasi gaya belajar baik dari sisi audio, visual, kinestetik melalui perangkat digital,” pungkasnya, sambil tersenyum. (*)
Kontributor: Dwi Jatmiko

