Site icon TAJDID.ID

Peran Kebangsaan Muhammadiyah Melintasi Zaman, Bukan Pelayan Rezim

Gambar ilustrasi.

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Dalam perjalanan panjang bangsa ini, ada satu prinsip yang selalu relevan: negara boleh berganti pemimpin, tetapi komitmen terhadap bangsa tidak boleh ikut berubah. Di titik inilah Muhammadiyah berdiri, bukan sebagai pelayan rezim, melainkan sebagai penjaga arah perjalanan bangsa.

Sejak sebelum kemerdekaan, Muhammadiyah telah menempatkan diri sebagai kekuatan moral dan intelektual yang bekerja untuk kepentingan umat dan negara. Ia hadir bukan sebagai organisasi yang mengejar kekuasaan, tetapi sebagai gerakan yang menjaga nilai. Maka ketika rezim datang dan pergi, Muhammadiyah tetap berada di tempat yang sama: di sisi rakyat, di jalur konstitusi, dan di ruang akal sehat.

 

Melintasi Zaman, Menjaga Arah

Sejarah Indonesia dipenuhi fase perubahan: kolonialisme, kemerdekaan, demokrasi parlementer, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga era digital. Banyak kelompok lahir dan tenggelam mengikuti arus kekuasaan. Namun Muhammadiyah memilih jalan berbeda—jalan panjang yang tidak bergantung pada siapa yang memegang kursi pemerintahan.

Sikap ini lahir dari kesadaran bahwa: Kekuasaan bersifat sementara. Sementara nilai kebangsaan bersifat abadi. Dan kepentingan rakyat harus selalu menjadi kompas.

Karena itu, Muhammadiyah tidak menempatkan diri sebagai oposisi permanen, tetapi juga tidak pernah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Ia berdiri sebagai mitra kritis: mendukung ketika kebijakan berpihak pada rakyat, mengingatkan ketika kekuasaan mulai melenceng.

 

Dialog dengan Semua, Tunduk pada Nilai

Peran kebangsaan Muhammadiyah meniscayakan dialog dengan semua pihak: eksekutif, legislatif, yudikatif, akademisi, hingga masyarakat sipil. Dialog ini bukan tanda kedekatan politik, melainkan tanggung jawab kebangsaan.

Bagi Muhammadiyah, hadir di ruang dialog berarti: Mengawal arah kebijakan publik. Menyuarakan kepentingan umat dan rakyat. Menjaga persatuan dalam keberagaman. Ini adalah peran moral, bukan peran kekuasaan.

 

Bukan Pelayan Rezim

Menjadi pelayan rezim berarti menyesuaikan sikap dengan kepentingan penguasa. Muhammadiyah tidak dibangun untuk itu. Ia dibangun untuk melayani umat dan bangsa.

Karena itulah Muhammadiyah bisa tetap dihormati di setiap masa. Ia tidak ikut tenggelam saat rezim jatuh, karena ia tidak pernah menggantungkan diri pada kekuasaan.

 

Menjadi Penjaga Kompas Bangsa

Bangsa yang besar membutuhkan kekuatan moral yang berdiri di atas kepentingan politik jangka pendek. Muhammadiyah berusaha memainkan peran itu: menjaga kompas agar bangsa tidak kehilangan arah.

Peran ini mungkin tidak selalu terlihat dramatis, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia bekerja melalui pendidikan, kesehatan, dakwah, pemberdayaan sosial, dan pemikiran kebangsaan, membangun fondasi yang lebih tahan lama daripada sekadar kekuasaan.

Rezim boleh berganti. Zaman boleh berubah. Tetapi komitmen untuk menjaga bangsa tetap berada di jalan yang benar, itulah peran kebangsaan Muhammadiyah yang melintasi zaman. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

 

Exit mobile version