Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Dalam dua hari perbincangan yang hangat bersama pihak Polda Sumatera Utara dan Bank Danamon Syariah, terselip satu topik yang mungkin tidak menjadi agenda utama, tetapi justru menyentuh inti dari kehidupan berbangsa: sikap kritis warga Muhammadiyah. Sebuah topik yang sederhana, namun memiliki kedalaman makna yang luas.
Dalam pembicaraan itu, salah satu isu yang turut mengemuka adalah program makan bergizi gratis (MBG) yang juga sebagian dikelola oleh Muhammadiyah. Sebuah peran yang menunjukkan kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar. Namun menariknya, keterlibatan tersebut tidak serta-merta membuat Pimpinan dan warga Muhammadiyah kehilangan daya kritisnya. Justru sebaliknya, sikap kritis itu tetap dijaga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial-politik kebangsaan Muhammadiyah, bahwa keterlibatan bukan berarti kehilangan independensi, dan pengabdian tidak identik dengan pembenaran tanpa batas.
Kita sering kali keliru memahami kritik. Ia dianggap sebagai perlawanan, bahkan ancaman. Padahal dalam tradisi civil society, kritik adalah tanda kehidupan. Ia adalah denyut nadi yang menunjukkan bahwa masyarakat tidak kehilangan akal sehatnya, tidak kehilangan kepeduliannya, dan tidak kehilangan keberaniannya untuk menjaga arah.
Muhammadiyah, sejak awal berdirinya, tidak hanya memposisikan diri sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai gerakan ilmu. Dari rahim keilmuan itulah lahir sikap kritis yang terdidik—bukan emosional, bukan pula reaktif. Kritik dalam Muhammadiyah bukanlah suara gaduh tanpa arah, melainkan suara jernih yang lahir dari tradisi membaca, meneliti, dan memahami realitas.
Di sinilah Muhammadiyah mengambil peran penting sebagai bagian dari civil society. Ia bukan bagian dari kekuasaan, tetapi juga bukan musuh kekuasaan. Ia berdiri di tengah—menjadi jembatan antara negara dan rakyat. Ketika negara berjalan terlalu cepat tanpa kontrol, ia mengingatkan. Ketika masyarakat mulai kehilangan arah, ia membimbing.
Peran sebagai mitra kritis dan strategis bagi pemerintah bukanlah posisi yang mudah. Dibutuhkan keberanian untuk berbicara, sekaligus kebijaksanaan untuk memilih cara berbicara. Kritik yang disampaikan bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memperbaiki. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan.
Dalam konteks era siber hari ini, di mana informasi bertebaran tanpa batas dan kebenaran sering kali dikaburkan oleh kepentingan, sikap kritis menjadi semakin penting. Tanpa kritik yang sehat, masyarakat mudah terseret arus hoaks, propaganda, dan polarisasi. Di titik ini, warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penjernih—bukan penambah keruh.
Menjadi bagian dari civil society berarti menerima bahwa mencintai negeri ini tidak selalu berarti menyetujui semua hal. Ada saatnya cinta itu hadir dalam bentuk dukungan, tetapi ada kalanya ia hadir dalam bentuk koreksi. Dan keduanya, jika dilakukan dengan niat yang lurus, adalah bagian dari pengabdian.
Akhirnya, kita belajar bahwa kritik bukanlah tanda permusuhan. Ia adalah tanda kepedulian. Ia adalah cara lain untuk mengatakan: negeri ini terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan tanpa arah. Dan dalam peran itulah Muhammadiyah terus berdiri—sebagai gerakan dakwah, gerakan ilmu, dan bagian penting dari civil society yang menjaga nurani bangsa tetap hidup. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

