Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Salah satu kebahagiaan menjadi warga Persyarikatan Muhammadiyah adalah merasakan persaudaraan yang hidup dan nyata di mana pun berada. Sekat formal yang biasanya membatasi relasi sosial seolah menipis bahkan hilang ketika sesama kader bertemu. Mereka yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat dengan cepat menemukan kedekatan yang hangat. Itulah yang saya rasakan pada akhir Ramadhan lalu di Tebing Tinggi, yang kemudian berlanjut di ruang kerja Direktur Siber Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Dr. Bayu Wicaksono. Percakapan mengalir hangat meski baru dua kali berjumpa, seakan ada ikatan yang sudah lama terbangun.
Pertemuan seperti ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah pertemuan nilai, pertemuan visi, dan pertemuan tanggung jawab. Dalam Muhammadiyah, silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga menjadi ruang berbagi perspektif dan memperkaya pemahaman tentang peran masing-masing dalam kehidupan berbangsa.
Dakwah Muhammadiyah sejak awal memang tidak dibangun dalam ruang sempit. Ia hadir sebagai gerakan yang memahami bahwa perubahan masyarakat membutuhkan keterlibatan di berbagai sektor kehidupan. Dalam percakapan kami, mengemuka satu kesadaran penting: dakwah membutuhkan banyak peran. Kader Muhammadiyah harus hadir di semua lini kehidupan—di pemerintahan, TNI/Polri, dunia politik, dunia usaha, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan bidang-bidang strategis lainnya.
Di sinilah Muhammadiyah dapat dipahami sebagai investor bangsa. Ia menanam nilai, menyiapkan sumber daya manusia, dan membangun peradaban melalui pendidikan, pelayanan sosial, serta penguatan moral masyarakat. Investasi ini bukan berbentuk materi semata, melainkan investasi jangka panjang berupa manusia berintegritas yang kelak mengisi berbagai posisi penting dalam kehidupan bernegara.
Karena itu, warga Muhammadiyah tidak boleh merasa rendah diri. Tidak ada alasan untuk merasa kecil di tengah kompleksitas kehidupan modern. Justru sebaliknya, kader Muhammadiyah harus percaya diri, berperan aktif, serta mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan seluruh komponen bangsa. Dakwah tidak dapat berjalan sendiri; ia membutuhkan kerja bersama, saling menghargai, dan kesediaan untuk membangun kebersamaan demi menjaga dan memelihara Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saya bersama sahabat saya, Akhyar, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Serdang Bedagai, tentu merasa bangga dan berdoa semoga semakin banyak kader Muhammadiyah hadir di semua lini kehidupan, termasuk di Kepolisian Republik Indonesia. Kehadiran kader di berbagai institusi negara bukan untuk mencari identitas kelompok, melainkan untuk memperluas kontribusi nilai, integritas, dan pengabdian kepada bangsa.
Muhammadiyah tidak pernah bercita-cita menjadi eksklusif. Sejak awal, ia hadir sebagai gerakan yang inklusif, terbuka, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Karena itu, kehadiran kader di berbagai sektor bukan untuk membangun dominasi, melainkan untuk memperkuat kontribusi. Kehadiran itu harus menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi solusi, bukan sekadar simbol.
Pertemuan singkat yang hangat itu mengingatkan kembali bahwa kekuatan Muhammadiyah bukan hanya pada amal usaha dan struktur organisasinya, tetapi pada jalinan persaudaraan yang tulus. Dari persaudaraan inilah lahir kepercayaan, kolaborasi, dan semangat untuk terus memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
Pada akhirnya, menjadi kader Muhammadiyah berarti siap berada di mana saja, bekerja dengan siapa saja, dan memberi manfaat bagi siapa saja. Karena dakwah tidak mengenal batas ruang, dan pengabdian tidak mengenal sekat profesi. Di situlah Muhammadiyah terus menanam, merawat, dan memanen harapan bagi masa depan Indonesia. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

