No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Pajak dan Nyinyir Tanpa Solusi?

29 Maret 2026
in Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

✍️ Farid Wajdi

Pajak tidak pernah netral. Setiap rupiah yang dipungut selalu membawa pertanyaan: kembali dalam bentuk apa. Jalan rusak, layanan publik tersendat, harga kebutuhan melonjak, sementara setoran pajak terus ditagih tanpa jeda.

Dalam situasi seperti itu, kritik bukan sekadar pilihan. Kritik menjadi reaksi yang nyaris tak terhindarkan.
Lalu muncul label: nyinyir tanpa solusi. Sebuah cap yang terdengar sederhana, namun menyimpan nada meremehkan. Seolah kritik publik tidak lebih dari keluhan kosong. Seolah persoalan selesai ketika kritik dipaksa berubah menjadi proposal kebijakan.

Pernyataan semacam ini menguat setelah sejumlah elite melontarkan sindiran. Prabowo Subianto menyinggung kelompok yang gemar mengkritik tanpa menawarkan jalan keluar. Kritik diposisikan sebagai sesuatu yang kurang berguna bila tidak disertai solusi konkret.

Di sisi lain, Joko Widodo pernah mengundang kritik sebagai bagian dari demokrasi. Dua nada berbeda, satu mengundang, satu menantang.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang keliru?

Menuntut setiap kritik harus berisi solusi terdengar ideal, namun berbahaya. Tidak semua warga memiliki akses terhadap data, tidak semua memahami kompleksitas kebijakan, tidak semua berada dalam posisi merancang solusi teknis. Warga merasakan dampak, bukan merumuskan anggaran. Warga mengalami, bukan mengelola. Kritik lahir dari pengalaman tersebut.

Karl Popper (1945) menempatkan kritik sebagai inti masyarakat terbuka. Tanpa kritik, kekuasaan bergerak tanpa koreksi. Kritik tidak selalu datang dalam bentuk rapi. Sering kali hadir dalam bentuk kemarahan, sindiran, bahkan ejekan. Mengharuskan kritik tampil elegan justru berisiko membungkam suara yang paling jujur.

Namun, publik juga tidak sepenuhnya tanpa cela. Kritik yang berhenti pada cemoohan memang tidak membawa perubahan. Media sosial penuh dengan potongan kalimat, meme, dan komentar singkat yang lebih cepat menyulut emosi daripada memperdalam pemahaman. Kritik berubah menjadi hiburan, bukan alat kontrol.

 

Pajak, Kontrak Sosial

Di titik ini, masalahnya bukan sekadar siapa yang benar atau salah. Masalahnya terletak pada relasi yang timpang antara negara dan warga. Pajak seharusnya menjadi kontrak sosial. Warga membayar, negara melayani. Ketika pelayanan tidak sebanding dengan beban, kepercayaan retak. Ketika kepercayaan retak, kritik mengeras.

Joseph Schumpeter (1918) menyebut pajak sebagai jantung negara. Namun jantung tidak hanya memompa, jantung juga menjaga kehidupan. Ketika pajak hanya terasa sebagai beban tanpa manfaat yang jelas, fungsi tersebut kehilangan makna.

Label nyinyir tanpa solusi sering kali menjadi cara cepat untuk menghindari substansi. Kritik dibungkam bukan dengan jawaban, melainkan dengan delegitimasi. Kritik dianggap tidak valid karena tidak lengkap. Padahal, tidak semua kritik harus menyelesaikan masalah. Kritik cukup membuka luka agar terlihat.

BACA JUGA

PUSKASI UMSU dan PHUSEP Jalin Kerjasama Penelitian Bidang Energi dan Pertambangan

UMSU dan UNMUHA Jalin Kerjasama Strategis

Islamofobia: Antara Kepentingan Politik dan Kebencian

Ukurannya Sudah Pas

Pengemudi Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Content Writer: Bentuk Extrajudicial Killing

Demokrasi yang Bau Bangkai

Di sisi lain, pemerintah kerap terjebak dalam bahasa teknokratis. Data disajikan, grafik dipamerkan, angka ditumpuk. Namun publik tidak hidup dalam angka. Publik hidup dalam pengalaman. Ketika harga naik, grafik pertumbuhan tidak menghibur. Ketika layanan lambat, presentasi panjang tidak menenangkan.

Jurgen Habermas (1984) menekankan pentingnya komunikasi yang setara. Komunikasi bukan sekadar menyampaikan, melainkan juga mendengar. Tanpa mendengar, yang tersisa hanyalah monolog kekuasaan. Dalam monolog seperti itu, kritik akan selalu terdengar sebagai gangguan.

Fenomena ini semakin kompleks dalam era digital. Manuel Castells (2012) melihat ruang digital sebagai medan baru pertarungan wacana. Kritik menyebar cepat, namun juga mudah terdistorsi. Satu kalimat dapat menggantikan analisis panjang. Sindiran lebih cepat viral dibanding argumen.

Dalam kondisi seperti ini, pajak menjadi simbol yang mudah diserang. Setiap ketidakpuasan diarahkan ke sana. Pajak tidak lagi dilihat sebagai instrumen pembangunan, melainkan sebagai beban yang dipaksakan. Ketika simbol ini rusak, legitimasi ikut goyah.

Lalu kembali ke pertanyaan awal: siapa yang keliru?

Keliru muncul di dua sisi. Pemerintah keliru ketika menutup telinga dan lebih sibuk mengklasifikasi kritik daripada menjawabnya. Publik keliru ketika membiarkan kritik tenggelam dalam ejekan tanpa arah. Namun kesalahan tidak berada pada posisi yang setara. Kekuasaan selalu memikul tanggung jawab lebih besar.

 

Pajak, Ujian Kepercayaan

Amartya Sen (1999) mengingatkan pembangunan tidak hanya soal pertumbuhan, tetapi juga soal keadilan yang dirasakan. Rasa keadilan tidak lahir dari laporan, melainkan dari pengalaman nyata. Ketika pengalaman tersebut buruk, kritik menjadi tajam. Bukan karena publik ingin menyerang, melainkan karena tidak ada cara lain untuk didengar.

Label nyinyir tanpa solusi seharusnya dibaca sebagai cermin. Bukan untuk menyalahkan publik, melainkan untuk menilai kualitas respons kekuasaan.

Jika kritik terasa berisik, mungkin karena saluran formal tidak berfungsi.

Jika kritik terasa kasar, mungkin karena bahasa halus tidak lagi mempan.

Pajak tidak hanya soal kewajiban. Pajak adalah ujian kepercayaan. Setiap rupiah yang dibayar mengandung harapan.

Ketika harapan itu tidak kembali, kritik akan terus datang, dengan atau tanpa solusi.

Menyederhanakan kritik sebagai nyinyir hanya akan memperburuk keadaan. Kritik yang diabaikan tidak hilang. Kritik akan berubah bentuk, menjadi lebih keras, lebih sinis, lebih sulit dikendalikan. Sejarah menunjukkan hal tersebut berulang kali.

Yang dibutuhkan bukan membungkam kritik, melainkan memperbaiki alasan munculnya kritik. Transparansi, akuntabilitas, dan empati bukan sekadar jargon. Tanpa itu, pajak akan terus dipertanyakan, dan kritik akan terus terdengar seperti serangan. Demokrasi tidak pernah nyaman. Kritik selalu terasa mengganggu.

Namun gangguan tersebut justru tanda kehidupan. Tanpa kritik, kekuasaan kehilangan cermin. Tanpa cermin, kesalahan tidak terlihat.

Jadi, siapa yang keliru?
Jawabannya tidak hitam putih.

Namun satu hal jelas: selama kritik lebih sering dijawab dengan sindiran daripada perbaikan, selama pajak lebih terasa sebagai beban daripada manfaat, selama itu pula tudingan nyinyir tanpa solusi hanya akan mempertegas satu hal, masalahnya bukan pada kritik, melainkan pada sesuatu yang lebih mendasar. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Tags: kritikPajak
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Sentimen versus Argumen
Nasional

Sentimen versus Argumen

by Mujaddid
3 Juni 2026
95
Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia
Nasional

Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia

by Mujaddid
30 Mei 2026
115
Ditantang Mundur dari ASN Jika Ingin Kritik Pemerintah, Begini Jawaban Feri Amsari
Nasional

Ditantang Mundur dari ASN Jika Ingin Kritik Pemerintah, Begini Jawaban Feri Amsari

by Mujaddid
20 April 2026
190
Kriminalisasi Suara Kritis
Nasional

Kriminalisasi Suara Kritis

by Mujaddid
18 April 2026
167
Kritik Gratis, Jembatan Tidak Jadi
Nasional

Kritik Gratis, Jembatan Tidak Jadi

by Mujaddid
9 April 2026
91
Ethics of Care: OTT KPK di Sumut Cuma Sirene Darurat, Bukan Pencegahan!
Nasional

Ethics of Care: Pajak Dipungut, Keadilan Menyusut

by Mujaddid
10 Agustus 2025
90
Nasional

Kasus Rafael Arun, Azmi: KPK Harus Perluas Penyidikan

by Mujaddid
10 Maret 2023
185
DJP Sumut Gelar Pembekalan Relawan Pajak UMKM
Daerah

DJP Sumut Gelar Pembekalan Relawan Pajak UMKM

by Mujaddid
30 September 2021
128
Pajak Jabatan
Nasional

Pajak Jabatan

by Mujaddid
14 Juni 2021
119
Nasional

Survei Komnas HAM: Ketakutan Warga Negara Mengkritik Pemerintah Cukup Tinggi

by Mujaddid
4 Januari 2021
220

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai
  • Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
  • Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
  • Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari
AUM

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.