No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Dari Rahim Aisyiyah: Perempuan yang Menguatkan Para Tokoh Bangsa

11 Maret 2026
in 'Aisyiyah, Jufri Daily, Muhammadiyah, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Dalam perjalanan sejarah bangsa, sering kali kita mengenang tokoh-tokoh besar yang berdiri di panggung depan sejarah. Nama-nama seperti Ahmad Dahlan, Soekarno, dan Soedirman tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan Indonesia. Mereka adalah tokoh yang memberikan arah bagi umat, bangsa, dan negara.

Namun sejarah sering kali lupa menengok ruang yang lebih sunyi, ruang di mana kekuatan itu sesungguhnya dipelihara. Di balik tokoh-tokoh besar itu, ada perempuan-perempuan tangguh yang menjadi penopang, penguat, dan peneduh dalam perjalanan mereka. Perempuan-perempuan itu lahir dari rahim gerakan perempuan yang tercerahkan, yaitu Aisyiyah.

Gerakan perempuan yang didirikan oleh Ahmad Dahlan bersama istrinya Siti Walidah pada tahun 1917 ini bukan sekadar organisasi perempuan biasa. Sejak awal, Aisyiyah telah menanamkan kesadaran bahwa perempuan bukan hanya pelengkap dalam kehidupan sosial, tetapi juga penopang utama dalam membangun peradaban.

Nyai Siti Walidah sendiri adalah contoh nyata bagaimana seorang perempuan menjadi kekuatan moral bagi suaminya. Dalam banyak kisah tentang dakwah Ahmad Dahlan, kita menemukan bahwa keberanian dan keteguhan sang pendiri Muhammadiyah tidak berdiri sendirian. Ia didampingi oleh seorang perempuan yang memiliki visi yang sama tentang Islam yang mencerahkan.

Jejak itu kemudian tampak pula dalam perjalanan bangsa. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam perjalanan hidupnya didampingi oleh Fatmawati, seorang perempuan tangguh yang dikenal luas sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih—bendera yang pertama kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Peran ini bukan sekadar simbolik. Ia menunjukkan bahwa dalam detik-detik kelahiran bangsa, tangan seorang perempuan ikut menjahit harapan dan kemerdekaan.

Hal yang sama dapat kita lihat pada Panglima Besar Soedirman. Dalam perjuangannya yang penuh pengorbanan, ia didampingi oleh istrinya, Alfiah Soedirman, seorang perempuan yang juga tumbuh dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah yang dekat dengan tradisi gerakan perempuan Aisyiyah. Keteguhan, kesederhanaan, dan kekuatan moral yang dikenal dari sosok Jenderal Soedirman tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga yang membentuknya.

Di sinilah kita melihat satu pelajaran penting dari sejarah: bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh tokoh yang berdiri di mimbar atau memimpin pasukan. Peradaban juga dibangun oleh perempuan-perempuan yang mendidik, menguatkan, dan menanamkan nilai di dalam rumah, keluarga, dan masyarakat.

BACA JUGA

Diprotes Muhammadiyah, Akhirnya Pemerintah Batal Larang Peredaran Minyak Curah

Webinar Ngaji Olahraga LPO PP Muhammadiyah Hadirkan Desainer Jersey Timnas Indonesia

Fordek FH PTM Apresiasi Langkah Progresif MK dalam Menegakkan Konstitusi dan HAM Warga Negara

Dahlan Rais: Pretasi dan Kemajuan UMSU Harumkan Nama Sumatera Utara

Sowan ke PW Muhammadiyah DIY, Anies Diskusi Soal Indonesia Berkemajuan

Mahasiswa TMU Gelar Trauma Healing untuk Anak-anak Penyintas Tanah Bergerak di Padasari

Aisyiyah memahami hal itu sejak awal. Karena itu, gerakan ini tidak hanya mendirikan sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial, tetapi juga membangun kesadaran perempuan tentang pentingnya ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Dari ruang-ruang pendidikan dan pengajian yang sederhana itulah lahir generasi perempuan yang mampu menjadi penopang lahirnya tokoh-tokoh besar bangsa.

Namun perjalanan sejarah tidak pernah berhenti. Setiap zaman menghadirkan tantangannya sendiri. Menjelang Muktamar Aisyiyah ke-49, Aisyiyah dihadapkan pada berbagai persoalan baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa awal berdirinya.

Bagaimanapun, peranan perempuan di zaman sekarang semakin kompleks. Perempuan tidak lagi hanya berperan dalam ruang domestik, tetapi juga hadir dalam ruang pendidikan, ekonomi, sosial, bahkan politik. Mereka menjadi pendidik dalam keluarga, penggerak ekonomi rumah tangga, aktivis sosial di masyarakat, sekaligus penjaga nilai dalam kehidupan publik.

Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi, arus informasi yang tidak terbendung, serta tantangan moral generasi muda menuntut perempuan memiliki kesiapan intelektual, spiritual, dan sosial yang lebih kuat. Di sinilah peran gerakan seperti Aisyiyah menjadi semakin strategis: memperkuat perempuan agar mampu menjalankan peran-peran yang semakin kompleks itu tanpa kehilangan arah nilai.

Karena itu, muktamar bukan sekadar forum organisasi. Ia adalah ruang muhasabah gerakan—tempat Aisyiyah menilai kembali perjalanan panjangnya, sekaligus merumuskan langkah-langkah baru untuk menjawab tantangan zaman.

Sejarah bangsa ini sesungguhnya tidak hanya ditulis oleh para pemimpin yang tampil di depan. Ia juga ditulis oleh tangan-tangan perempuan yang bekerja dengan kesabaran dan ketulusan.

Maka ketika kita berbicara tentang kontribusi Aisyiyah bagi bangsa, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah gerakan yang melahirkan kekuatan sunyi. Kekuatan yang tidak selalu terlihat, tetapi justru menjadi fondasi dari lahirnya para pemimpin besar.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari gerakan perempuan ini: Aisyiyah bukan sekadar organisasi perempuan, tetapi rahim peradaban, tempat nilai, keberanian, dan keteguhan dilahirkan untuk menguatkan perjalanan umat, bangsa, dan masa depan Indonesia. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Aisyiyah
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Aisyiyah, LATIN, Eco Bhinneka Muhammadiyah Inisiasi Hutan Wakaf SITI KANAYA di Jatim
'Aisyiyah

Aisyiyah, LATIN, Eco Bhinneka Muhammadiyah Inisiasi Hutan Wakaf SITI KANAYA di Jatim

by Mujaddid
2 September 2026
54
Sinergi MPKSDI, Lazismu, dan GKBI, 356 Kader Muhammadiyah Terima Beasiswa 2026
'Aisyiyah

Sinergi MPKSDI, Lazismu, dan GKBI, 356 Kader Muhammadiyah Terima Beasiswa 2026

by Mujaddid
21 Agustus 2026
54
Aisyiyah: Tiang Utama Peradaban, Penguat Negara
'Aisyiyah

Aisyiyah: Tiang Utama Peradaban, Penguat Negara

by Mujaddid
7 Mei 2026
145
Halal Bihalal 1447 H, PP Aisyiyah Teguhkan Ukhuwah dan Dorong Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
'Aisyiyah

Halal Bihalal 1447 H, PP Aisyiyah Teguhkan Ukhuwah dan Dorong Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini

by Mujaddid
8 April 2026
90
Aisyiyah: Pilar Penyangga Utama Gerakan Muhammadiyah
'Aisyiyah

Aisyiyah: Pilar Penyangga Utama Gerakan Muhammadiyah

by Mujaddid
20 Januari 2026
104
Eksistensi Aisyiyah Bukti Nyata Kepemimpinan Perempuan yang Berkemajuan
'Aisyiyah

Eksistensi Aisyiyah Bukti Nyata Kepemimpinan Perempuan yang Berkemajuan

by Mujaddid
26 Juli 2025
96
PWA NTT Bangun Komunikasi dan Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah
'Aisyiyah

PWA NTT Bangun Komunikasi dan Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah

by Mujaddid
26 Juni 2025
92
Salmah Orbayyinah: Perkuat dan Sinergi untuk Meningkatkan Kebermanfaatan bagi Masyarakat
'Aisyiyah

Salmah Orbayyinah: Perkuat dan Sinergi untuk Meningkatkan Kebermanfaatan bagi Masyarakat

by Mujaddid
16 Januari 2025
100
Praktik Baik Dakwah ‘Aisyiyah Bukti Nyata Kontribusi Perempuan untuk Indonesia Berkeadilan
'Aisyiyah

Praktik Baik Dakwah ‘Aisyiyah Bukti Nyata Kontribusi Perempuan untuk Indonesia Berkeadilan

by Mujaddid
30 Desember 2024
101
Gelar Musyran Serentak, 3 PRA di Bumiayu Brebes Hasilkan 3 Nakhoda Baru
'Aisyiyah

Gelar Musyran Serentak, 3 PRA di Bumiayu Brebes Hasilkan 3 Nakhoda Baru

by Mujaddid
24 Oktober 2023
176

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Kaji Industri Komunikasi Hadapi Disrupsi, UMY dan UMJT Gelar Seminar di Madiun
  • Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
  • SMeCK Hooligan Apresiasi League Cup, Siap Jadikan Medan Tuan Rumah yang Ramah
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.