Site icon TAJDID.ID

Ber-Muhammadiyah: Sabar, Lapang Dada, dan Tetap Menjadi Mitra Kritis Bangsa

✍️ Jufri

Ketua PDM Kota Tebing Tinggi

 

Ber-Muhammadiyah itu mesti berlapang dada dan sabar. Sebab tidak semua dakwah dan ide pembaharuan dapat diterima secara cepat oleh masyarakat.

Sejarah panjang Muhammadiyah menunjukkan bahwa setiap gagasan tajdid selalu membutuhkan waktu: waktu untuk dipahami, waktu untuk diterima, dan waktu untuk menjadi kebiasaan. Apa yang hari ini terasa asing, sering kali esok justru menjadi arus utama.

Karena itu, jalan dakwah pembaharuan bukanlah jalan yang penuh tepuk tangan. Ia adalah jalan panjang yang menuntut keteguhan, kesabaran, dan keluasan hati.

Ber-Muhammadiyah berarti siap berjalan dalam irama waktu: menanam hari ini, merawat esok, lalu memetik hasilnya mungkin pada generasi berikutnya.

 

Dakwah Pembaharuan Memang Tidak Selalu Nyaman

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah hadir membawa semangat pemurnian akidah, pembaharuan pemikiran, dan modernisasi pendidikan umat. Banyak gagasan yang pada masa awal dianggap asing, bahkan ditolak.

Namun waktu membuktikan: Sekolah modern, rumah sakit Islam, manajemen organisasi, gerakan filantropi terstruktur—semuanya dahulu adalah gagasan pembaharuan yang tidak langsung diterima.

Di sinilah makna kesabaran dalam ber-Muhammadiyah: tidak tergesa-gesa menuntut penerimaan, tetapi konsisten menghadirkan pencerahan dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Tugas kader bukan memaksa orang setuju, melainkan menghadirkan cahaya. Dan cahaya tidak perlu berteriak; ia cukup menyala.

 

Kritis Tanpa Kehilangan Adab

Dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, Muhammadiyah memiliki posisi yang unik: bukan oposisi, bukan pula pendukung tanpa kritik.

Muhammadiyah adalah mitra kritis pemerintah.

Di Muhammadiyah, orang yang berada dalam pemerintahan dihargai.
Orang yang berada di luar pemerintahan dengan sikap kritis juga dihargai.

Keduanya memiliki fungsi yang sama: menjaga marwah kebangsaan dan persyarikatan.

Namun ada satu garis yang tidak boleh dilanggar: kritik harus tetap beradab.

Sebaliknya, sikap menjilat kekuasaan juga bukan karakter gerakan ini.

Di Muhammadiyah, yang tidak disukai adalah dua ekstrem sekaligus:
keras tanpa adab dan loyal tanpa integritas. Di sinilah tampak keseimbangan Islam berkemajuan dalam praktik berbangsa.

 

Jalan Tengah yang Tidak Selalu Populer

Sikap moderat sering disalahpahami sebagai sikap tidak tegas. Padahal justru sebaliknya: menjaga keseimbangan jauh lebih sulit daripada memilih ekstrem.

Muhammadiyah memilih jalan tengah: mendukung yang benar, mengingatkan yang keliru dan menjaga negara tanpa kehilangan daya kritis.

Sikap seperti ini memang tidak selalu populer. Tidak selalu memuaskan semua pihak. Tetapi justru di situlah kedewasaan organisasi diuji.

 

Kesabaran sebagai Karakter Gerakan

Ber-Muhammadiyah berarti menerima satu kenyataan penting: perubahan sosial tidak terjadi dalam semalam.

Gerakan ini bekerja dalam horizon panjang. Ia tidak dibangun untuk viral hari ini, tetapi untuk bertahan lintas generasi.

Maka sikap yang diperlukan adalah: sabar dalam dakwah, lapang dada dalam perbedaan, dan konsisten dalam perjuangan.

Tidak semua orang akan langsung sepakat, dan itu wajar.

Tidak semua gagasan akan langsung diterima, dan itu bagian dari sunnatullah perubahan.

Tugas kita hanya satu: tetap berjalan. Tetap berdakwah tanpa lelah.
Tetap bersabar tanpa kecewa. Tetap kritis tanpa kehilangan adab.

Itulah salah satu makna ber-Muhammadiyah. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
.

Exit mobile version