Site icon TAJDID.ID

Menjaga Marwah, Menyambung Estafet

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Pagi itu kami berbincang santai, tetapi arah pembicaraan membawa kami pada tema yang tidak ringan: masa depan gerakan, keberlanjutan kepemimpinan, dan harga diri organisasi. Percakapan sederhana itu terasa seperti potongan kecil dari dinamika besar yang sedang bergerak di tubuh sebuah gerakan dakwah yang telah lama berkhidmat untuk umat.

Dari obrolan tersebut muncul satu kesadaran penting: keberlanjutan bukan sekadar soal siapa memimpin, tetapi bagaimana memastikan api perjuangan tetap menyala.

 

Kepemimpinan dan Kebutuhan Akan Keberlanjutan

Kami sepakat bahwa keberlanjutan kepemimpinan di sebuah institusi pendidikan besar bukanlah soal individu. Ini adalah soal kesinambungan, dan kepentingan kolektif.

Sebuah institusi tidak dibangun dalam satu masa kepemimpinan. Ia tumbuh melalui konsistensi visi, stabilitas kebijakan, dan kesinambungan arah gerak. Ketika sebuah amal usaha telah mencapai momentum pertumbuhan yang baik, maka kesinambungan menjadi kebutuhan agar ritme pembangunan tidak terputus di tengah jalan.

Namun di sisi lain, tradisi kaderisasi tetap menjadi ruh yang tidak boleh ditinggalkan. Estafet perjuangan harus disiapkan dengan matang, agar pergantian kepemimpinan kelak benar-benar menjadi kelanjutan perjalanan, bukan sekadar pergantian posisi.

Inilah wajah kaderisasi yang sehat: bukan perebutan jabatan, melainkan kesinambungan misi.

 

Ketika Kekuasaan Bersentuhan dengan Organisasi

Percakapan kami kemudian memasuki wilayah yang lebih sensitif. Ada cerita tentang keinginan pihak tertentu untuk memengaruhi urusan internal organisasi karena dinamika hubungan dengan kekuasaan daerah.

Di sinilah muncul kalimat tegas yang patut dicatat: organisasi tidak boleh dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

Pernyataan ini bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan penegasan batas yang sehat antara kekuasaan dan organisasi masyarakat. Sejak awal berdiri, gerakan ini memilih jalan mandiri: tidak bergantung pada kekuasaan, tetapi tetap siap bekerja sama dengan kekuasaan.

Kerja sama — iya.
Intervensi — tidak.

 

Mandiri Tanpa Bermusuhan

Sikap yang menarik adalah tetap adanya komitmen untuk mendukung pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Ini menunjukkan kedewasaan yang tidak mudah dijaga: mampu membedakan antara hubungan kebangsaan dengan kemandirian organisasi.

Gerakan masyarakat tidak harus menjadi oposisi pemerintah. Namun juga tidak boleh menjadi subordinasi kekuasaan. Ia harus menjadi mitra kritis, siap bekerja sama, tetapi tetap berdiri tegak.

Jika pemerintah membantu, itu disyukuri. Jika tidak, organisasi tetap berjalan dengan kekuatan sendiri.

Sejarah panjang gerakan muhammadiyah membuktikan bahwa amal usaha dapat tumbuh besar karena kekuatan jamaah, bukan semata karena fasilitas negara.

 

Menjaga Kepentingan Persyarikatan di Atas Segalanya

Sepatutnya kita menjaga Muhammadiyah, karena menjadi dosa bagi kita jika kepentingan apa pun diletakkan lebih tinggi daripada kepentingan persyarikatan. Banyak orang tidak mampu membaca hal ini dalam perjuangan. Rasa tidak suka harus tetap objektif, dan rasa suka tidak boleh membuat kita menjual diri.

Di sinilah integritas kader diuji: mampu menjaga jarak dari kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan, ketika kepentingan organisasi sedang dipertaruhkan.

 

Tugas Kader: Menjaga Harga Diri Persyarikatan

Kalimat paling kuat dari percakapan pagi itu adalah: Tugas kader adalah menjaga harga diri dan martabat Muhammadiyah .

Harga diri organisasi tidak diukur dari kedekatannya dengan kekuasaan, tetapi dari kemampuannya menjaga kemandirian. Anggota organisasi boleh berada di pemerintahan, boleh menjadi pejabat, boleh menjadi mitra strategis negara. Tetapi ketika menyangkut urusan internal organisasi, garisnya harus jelas: tidak boleh ada yang mengatur dari luar.

Inilah keseimbangan yang harus terus dijaga: loyal sebagai warga negara, mandiri sebagai gerakan sosial keagamaan.

Menyambung Estafet, Menjaga Api

Dari percakapan sederhana itu, tersirat pesan besar: keberlanjutan dan kemandirian harus berjalan beriringan. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi nilai tidak boleh berubah. Estafet boleh berpindah, tetapi arah perjuangan tidak boleh bergeser.

Api perjuangan sudah menyala. Kaderisasi adalah bahan bakarnya. Kemandirian adalah pelindungnya.

Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan api itu tidak pernah padam, demi umat, demi generasi mendatang, dan demi masa depan gerakan yang tetap bermartabat. (*)

Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni

 

Exit mobile version