Site icon TAJDID.ID

Ahmad Rasyid Sutan Mansur: Penakluk Hati dari Ranah Minang untuk Nusantara

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Nama Ahmad Rasyid Sutan Mansur mungkin tidak sepopuler tokoh nasional lain di buku sejarah arus utama, tetapi di lingkungan dakwah dan gerakan Islam Indonesia, beliau adalah figur besar yang jejaknya membentang dari Ranah Minang hingga pelosok Nusantara. Ia bukan hanya ulama, melainkan organisator, diplomat dakwah, sekaligus pemimpin yang mampu menaklukkan hati banyak orang dengan kelembutan pendekatannya.

 

Akar Minangkabau yang Membentuk Karakter

Sutan Mansur lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 15 Desember 1895, dalam keluarga ulama yang kuat tradisi keilmuannya. Pendidikan agama yang kokoh sejak kecil membentuk fondasi karakter yang teguh, kritis, sekaligus berani mengambil sikap.

Ketika pemerintah kolonial Belanda menawarkan beasiswa ke Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi—sebuah jalan cepat menuju status sosial dan jabatan guru pemerintah—ia menolaknya. Pilihan itu bukan keputusan mudah. Namun sejak muda ia memandang penjajahan sebagai penghalang kebebasan dakwah dan kemerdekaan umat.

Sikap ini terlihat jelas saat ia menentang “Guru Ordonansi” Belanda tahun 1928, regulasi yang membatasi guru agama mengajar tanpa izin pemerintah. Baginya, aturan itu bukan sekadar administrasi, tetapi upaya membungkam ulama independen.

Murid Haji Rasul dan Ikatan dengan Keluarga Ulama Besar

Perjalanan intelektualnya semakin matang ketika ia belajar kepada Haji Rasul, tokoh pembaharu Islam Minangkabau. Hubungan guru–murid ini kemudian menjadi hubungan keluarga ketika ia menikahi Fatimah, putri sulung sang ulama.

Dari sinilah ia dikenal luas dengan gelar kehormatan “Sutan Mansur” dan menjadi bagian dari lingkaran keluarga ulama besar Minang, termasuk iparnya, Buya HAMKA.

Bertemu Muhammadiyah dan Titik Balik Perjuangan

Titik balik hidupnya terjadi ketika merantau ke Pekalongan. Di kota perdagangan itu ia sering menghadiri pengajian K.H. Ahmad Dahlan.

Ia menemukan sesuatu yang berbeda. Islam yang diajarkan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung diwujudkan dalam aksi sosial nyata. Ia terkesan melihat praktik kurban yang langsung dibagikan kepada fakir miskin. Dakwah tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir di tengah masyarakat.

Sejak saat itu ia bergabung dengan Muhammadiyah dan mendirikan cabang Muhammadiyah Pekalongan pada 1923.

Diplomasi Dakwah: Lembut namun Tegas

Pada pertengahan 1920-an, Muhammadiyah di Sumatera Barat menghadapi ketegangan dengan kelompok komunis. Sutan Mansur diutus kembali ke tanah kelahirannya untuk menata organisasi.

Pendekatan yang ia gunakan bukan konfrontasi, melainkan dialog dengan tokoh adat dan masyarakat. Ia membuktikan bahwa pembaruan agama tidak harus memutus tradisi lokal. Hasilnya, Muhammadiyah diterima luas dan berkembang pesat di Ranah Minang.

Inilah ciri khas kepemimpinannya: tegas dalam prinsip, lembut dalam pendekatan.

Dakwah Menyusuri Nusantara

Antara 1926–1929, ia melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah, termasuk Aceh dan Kalimantan. Kisahnya yang menyamar sebagai montir untuk mendekati raja-raja di Aceh menjadi legenda. Cara kreatif ini menunjukkan fleksibilitas strategi dakwahnya—ia memahami bahwa pintu dakwah kadang harus dibuka dengan cara yang tidak biasa.

Kemampuan membangun relasi membuatnya dipercaya sebagai Konsul Besar Muhammadiyah untuk seluruh Sumatera.

 

Puncak Amanah: Ketua Pusat Muhammadiyah

Kepercayaan terhadap integritasnya mencapai puncak ketika ia terpilih sebagai Ketua Pusat Muhammadiyah periode 1956–1959. Jabatan tertinggi itu ia jalankan dengan dedikasi penuh hingga akhir hayat.

 

Warisan Kepemimpinan yang Relevan Hingga Kini

Sutan Mansur meninggalkan teladan penting bagi gerakan sosial dan dakwah Indonesia: Prinsip kuat tidak harus keras dalam pendekatan. Dakwah harus hadir dalam tindakan nyata. Pembaruan bisa berjalan berdampingan dengan kearifan lokal. Kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan menaklukkan hati, bukan memaksa kehendak.

Ia mungkin bukan tokoh yang sering muncul di panggung sejarah populer, tetapi jejaknya hidup dalam jaringan Muhammadiyah dan dalam tradisi dakwah yang merangkul, bukan memukul. Tokoh Minang ini benar-benar telah menorehkan pengaruh di seluruh Nusantara. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version