✍️ Nashrul Mu’minin
Bus malam menurunkan aku di perempatan pasar, lalu aku menyeberang ke gang ujung kampung. Dari Jogja ke Lamongan, tujuh jam terasa ringan karena ada alamat rindu yang jelas: rumah beratap genting, pagar bambu, dan pohon jambu yang dulu jadi pos rahasia waktu main petak umpet.
Gerimis baru saja lewat. Bau tanah basah mengikatku pada sore masa kecil, saat aku pulang dengan lutut lecet dan ibu memarahi sambil menyiapkan obat merah. Kampung menyambu tanpa banyak kata—cukup dengan angin yang masuk dari celah daun pisang.
Malam pertama, kami duduk di tikar ruang tengah. Mamaku menyuguh teh terlalu manis, bapaku berkomentar soal berita di TV, dan mbakku mengunci momen dengan video pendek. Kami tertawa untuk hal remeh; haru datang sendiri, mengisi sela sendok beradu piring.
Lebaran kami sederhana: ketupat, opor yang diperbaiki garamnya pagi-pagi, dan kipas angin yang bunyinya seperti mesin jahit nenek. Tapi di ruang sempit itu, aku merasa utuh. Rumah, aku paham lagi, bukan soal ukuran. Ia soal siapa yang mengenali diam kita.
Pagi raya, aku mencium punggung tangan mamaku, menempelkan dahi ke tangan bapak yang mulai keriput. Mbakku merangkum semua jadi bingkai foto dadakan. Di sana, semua jarak menguap—tenggat di Jogja, kiriman uang bulanan, kelelahan yang kusembunyikan lewat telepon.
Kami main ke tetangga, mengunjungi makam kakek, kembali dengan kaki berdebu. Setiap kali aku membantu mamaku menata piring atau menemani bapak mengantar beras ke warung, aku merasa sedang membayar utang yang tak pernah disebut angkanya.
Malam takbir, anak-anak kampung menyalakan petasan di lapangan. Aku duduk di teras, mendengarkan bunyi yang lomba-lomba dengan jangkrik. Fitrah, pikirku, bukan hanya bersih secara ritual; ia juga rasa kembali jadi anak yang tahu letak gelas tanpa bertanya.
Hari-hari setelahnya melambat. Aku mengantar mbakku ke tempat arisan, duduk bengong di pos ronda, memperbaiki engsel pintu yang berderit. Di celah-celah itu sabar dan ikhlas belajar tanpa kuliah: lewat menunggu nasi matang, lewat antre gas, lewat memaafkan salah paham kecil.
Tapi waktu tidak bisa dibujuk. Tanggal 29 tumbuh di kalender, grup kelas berbunyi notif tugas, dan draft tulisanku tidur di laptop. Berat meninggalkan rumah bukan metafora—aku menimbang barang bawaan, mencoba menyisakan ruang untuk oleh-oleh meski yang paling ingin kubawa justru rasa aman yang tak muat di tas.
Malam sebelum berangkat, mamaku membereskan ransel. Bapak menambah uang saku diam-diam; mbakku menyelipkan koyak tiket bus lama “biar ingat jalan pulang”. Kalimat mereka pendek, tapi bagi perantau ia bekal: fonem doa yang hidup lebih lama dari rangkaian nasihat.
Pagi itu aku pamit di depan pintu. Tangan mamaku menggenggam sebentar, bapak mengangguk, mbakku melambaikan tangan sambil menahan senyum. Aku melangkah, menahan keinginan menoleh terlalu sering.
Di stasiun, aku duduk menghadap barat. Kereta datang, pelan awalnya, lalu konstan. Rumah menjauh bersama pohon jambu yang makin kecil hingga hilang di tikungan rel.
Jogja menanti dengan kelas dan revisi. Tapi aku membawa sesuatu: ingatan akan dapur yang hangat, tawa yang gampang pecah, dan ajaran bahwa cinta paling jujur muncul dalam tindakan kecil—teh yang disiapkan, pintu yang dibetulkan, tangan yang menunggu di daun pintu.
Setiap kali perantauan terasa terlalu bising, aku akan mengingat jalan pulang. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menyentuh alasan kenapa aku bisa pergi: karena ada tempat yang tetap.
Sejauh apa pun langkahku, aku pergi dengan satu keyakinan sederhana. Ada alamat yang tidak pernah berubah, dan itu cukup untuk membuat pergi terasa bukan sepenuhnya pergi. (*)

