- ✍️ Mujahiddin
Amerika Serikat tidak selamanya menjadi satu negara yang digdaya atau bahkan super power. Pada catatan sejarah perang, tidak selamanya negara tersebut memenangkan pertempuran.
Perang Vietnam (1955-1975) menjadi satu catatan kunci atas kekalahan Amerika Serikat. Keunggulan teknologi, senjata canggih, dan kekuatan udara massif yang dimiliki oleh Amerika Serikat tidak mampu melawan pasukan gerilya Vietnam Utara (PAVN) dan Viet Cong. Penguasaan pengetahuan atas medan perang dan dukungan rakyat menjadi modal besar yang dimiliki oleh Vietnam Utara untuk menaklukkan invasi Amerika Serikat.
Perang ini bukan sebatas perang antar Amerika Serikat dengan Vietnam Utara saja, tetapi perang ini merupakan perang dua idiologi besar yang terjadi di era perang dingin. Amerika Serikat berkepentingan untuk mengalahkan Vietnam Utara agar idiologi komunisme tidak membesar di kawasan ASEAN (Asia Tenggara). Mengingat pada waktu itu, Vietnam Utara berafliasi dengan negara-negara komunis seperti Uni Soviet, China, Korea Utara, dan Kuba. Sedangkan Vietnam Selatan berafliasi dengan negara yang ada di blok barat seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia dan sekutu lainnya.
Namun pada 30 April 1975, Saigon (sekarang disebut Ho Chi Minh City) yang dulu berstatus sebagai Ibu Kota Vietnam Selatan berhasil jatuh ke tangan Vietnam Utara. Kejatuhan itu menjadi tanda berakhirnya perang dua idiologi di kawasan Vietanam. Setahun setelah itu, kedua wilayah Vietnam tersebut bersatu menjadi negara komunis.
*Counter Discourse*
Meski secara faktual Amerika Serikat dan sekutunya telah kalah dalam perang Vietnam, namun negeri ‘paman sam’ tersebut tidak ingin mengakuinya. Mereka membuat counter discourse yang menarik melalui Film Rambo. Film ini dirilis pada masa Presiden Ronald Reagan (1980an), dengan setidaknya tiga sekuel yaitu First Blood (1982), Rambo II (1985), dan Rambo III (1988).
Konstruksi utama yang diinginkan dalam film ini adalah menghapus “Vietnam Syndrome” yaitu rasa enggan Amerika Serikat untuk terlibat perang luar negeri setelah kalah di Vietnam. Kehadiran sosok Rambo pada film tersebut, merepresentasikan kebijakan luar negara Amerika Serikat yang agresif dan percaya diri untuk kembali menjadi polisi dunia.
Tidak hanya itu, Film Rambo ini juga menjadi upaya Amerika Serikat untuk mengubah veteran dari ‘korban’ menjadi ‘pahlawan’. Hal ini bisa dilihat dari sekuel pertama yaitu First Blood yang menceritakan John Rambo sebagai veteran yang trauma dan tidak diterima negara sendiri (korban sistem).
Dan pada sekuel kedua dan ketiga, Rambo berubah menjadi ikon patriotik, mesin pembunuh yang loyal, dan simbol kembalinya supremasi militer Amerika Serikat. Pada poin inilah terdapat upaya merestorasi harga diri militer Amerika yang sudah hancur dengan mengkonstruksi Rambo sebagai prajurit super yang sangat terampil (gerilya) yang mampu mengalahkan Vietcong dan Soviet sendirian, menutupi fakta kekalahan militer konvensional Amerika Serikat di Vietnam.
Pada akhirnya, Counter Discourse yang dibangun Amerika Serikat tersebut melekat sebagai penyemangat melawan trauma kekalahan perang. Film Rambo berhasil menjadi alat budaya yang efektif untuk merevisi sejarah bagi publik Amerika Serikat. Ia mengubah narasi dari “Amerika kalah perang” menjadi “Prajurit Amerika difitnah dan dikhianati”.
*Exit Way*
Sejarah menjadi bagian dari pengetahuan empiris yang dapat digunakan untuk merencanakan masa depan dengan melihat atau mempelajari pola, kesalahan, dan keberhasilan terdahulu. Melalui hal tersebut, keputusan dapat dibuat guna menghindari kesalahan yang sama, serta membangun kembali identitas satu bangsa.
Amerika Serikat sepertinya berupaya untuk mengulang hal tersebut pada kasus Perang Iran kali ini. Harus diakui secara subtansial Amerika Serikat telah salah langkah dan strategi dalam menghadapi Iran.
Menaklukkan Iran ternyata tidak semudah yang diperkirakan; ada banyak wacana yang dibangun oleh Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Iran dengan memposisikan Amerika Serikat sudah menang. Namun hingga kini (bahkan sudah memasuki pekan keempat yang dijanjikan) Iran tidak juga goyah bahkan terus mengirimkan rudal-rudalnya ke wilayah Israel dan Pangkalan Militer Amerika Serikat di Kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat kini dalam tekanan yang luar biasa, dari dalam negari mulai terjadi protes secara politik. Sedangkan dari luar negeri, Amerika Serikat tidak mendapatkan dukungan dari sekutu-sekutunya di NATO.
Jika kita menggunakan analisis wacana kritis, sebenarnya Presiden Trump telah memberikan isyarat keinginan untuk menghentikan operasi dengan sering kali mengeklaim bahwa target telah tercapai dan perang akan segera berakhir.
Namun pola komunikasi tersebut berubah-ubah dan tidak konsisten. Di satu sisi ia menyebut perang bisa berakhir cepat, namun di sisi lain ia menegaskan akan terus menyerang sampai Iran benar-benar melemah.
Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa pihak Washington atau Amerika Serikat kekurang strategi keluar yang jelas (no clear exit strategy). Sehingga menimbulkan inkonsistensi dalam wacana perang. Sebab, jika berhenti akan berisiko dianggap gagal. Namun jika dilanjutkan, ekonomi Amerika dan stabilitas regional dapat terancam.
Dilema Presiden Trump ada di poin ini sehingga steatment yang dikeluarkannya sering inkonsistensi.
Pada akhirnya, perang tidak lagi menjadi urusan tentara dan peralatan militer. Terkadang strategi wacana juga diperlukan di dalam situasi perang. Apalagi di era informasi saat ini, perang telah memasuki ruang hibrida (hybrid). Pertempuran tidak lagi hanya terjadi di ruang fisik melainkan juga di ruang kognitif manusia.
Di titik ini, strategi wacana menjadi krusial; dan hanya sekelas John Rambo yang bisa memenangkannya. Mungkinkah itu akan terulang? (*)
Penulis adalah Associate Professor pada Bidang Studi Pembangunan di FISIP UMSU & Direktur Eksekutif di MuhRaz Institut

