Site icon TAJDID.ID

Lebaran yang Ramai, Ramadhan yang Sunyi

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Ada hal yang saya perhatikan, dan bahkan saya introspeksi ke dalam diri saya sendiri, setiap kali menyaksikan datangnya Ramadhan dan tibanya Idulfitri dari tahun ke tahun. Ada semacam kegelisahan yang pelan-pelan tumbuh: apakah kita benar-benar menjalani Ramadhan, atau sekadar melewatinya menuju hari raya?

Jika kita mau jujur melihat kondisi umat Islam hari ini, terutama di daerah-daerah, maka ada satu fenomena yang tidak bisa kita abaikan. Bagi sebagian orang, Idulfitri lebih terasa sebagai perayaan silaturahmi daripada puncak dari perjalanan spiritual Ramadhan.

Lebaran menjadi identik dengan mudik, berkumpul, saling mengunjungi, dan mempererat hubungan keluarga. Tentu, semua itu baik. Silaturahmi adalah ajaran mulia dalam Islam. Namun perlahan, makna sakral Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah sebulan berjuang menahan diri, justru memudar.

Coba kita lihat suasana menjelang hari raya. Terminal, bandara, pelabuhan, dan jalan raya penuh sesak. Orang berbondong-bondong pulang kampung. Pasar-pasar dipadati pembeli. Semua sibuk mempersiapkan “hari besar”.

Namun di saat yang sama, masjid-masjid tidak selalu penuh. Bahkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, yang seharusnya menjadi puncak ibadah, seringkali jumlah orang di luar masjid lebih banyak daripada yang berada di dalamnya.

Puasa dijalankan, tetapi tidak selalu dihayati. Ramadhan datang, tetapi tidak benar-benar tinggal dalam jiwa.

Di titik ini, kita juga perlu jujur melihat hal lain. Perdebatan tentang kapan awal Ramadhan dan kapan Idulfitri memang penting dalam perspektif fiqh dan penetapan hukum. Namun dalam realitas sosial, banyak di antara umat Islam yang sesungguhnya tidak terlalu peduli pada perdebatan itu. Bagi mereka, kapan pun ditetapkan, yang penting tetap bisa pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, dan merayakan lebaran.

Jadi, meski perdebatan soal awal Ramadhan dan Idulfitri itu mungkin penting, ada hal yang jauh lebih penting untuk kita renungkan: realitas bahwa sebagian umat justru belum benar-benar menaruh perhatian pada makna ibadah itu sendiri.

Dan ketika Idulfitri tiba, kesibukan semakin memuncak. Kita (dan mungkin juga mereka) lebih sibuk dengan baju baru, hidangan, perjalanan, dan kunjungan. Takbir berkumandang, tetapi hati belum tentu ikut bergetar. Shalat Ied dilaksanakan, tetapi ruh Ramadhan belum tentu terbawa.

Seolah-olah, Ramadhan hanyalah tamu yang singgah sebentar, datang, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak yang dalam.

Padahal sejatinya, Idulfitri bukan sekadar perayaan. Ia adalah titik balik. Ia adalah hasil. Ia adalah cermin: apakah Ramadhan benar-benar membentuk kita, atau hanya sekadar kita lewati.

Jika setelah Ramadhan kita kembali seperti semula, bahkan lebih lalai,maka boleh jadi yang berubah hanyalah kalender, bukan diri kita.

Maka mungkin yang perlu kita renungkan bukan hanya bagaimana kita merayakan Idulfitri, termasuk ikut Muhammadiyah atau pemerintah, tetapi bagaimana kita menjaga agar Ramadhan tidak benar-benar pergi dari hati kita.

Karena yang paling menyedihkan bukanlah ketika Ramadhan berakhir, tetapi ketika nilai-nilainya ikut hilang bersama kepergiannya. Tentu termasuk , atau bahkan lebih penting bagi para penyampai dakwah itu sendiri. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version