Site icon TAJDID.ID

Silaturahmi: Ngopi Santai, Membaca Arah Dakwah Muhammadiyah dari Warung Kopi

✍️ Nashrul Mu’minin

Content writer

 

Suasana sore di pesisir utara Lamongan terasa berbeda ketika langkah kaki mengarah ke Cafe Aola Pantura. Angin laut berhembus pelan, menemani obrolan ringan yang perlahan berubah menjadi diskusi berbobot. Silaturahim kali ini bukan sekadar nongkrong biasa, melainkan ruang berbagi gagasan bersama Ustadz Afifun Nidlom, seorang bagian dari Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Jawa Timur periode 2022–2027.

Ngopi santai ini menghadirkan wajah lain dari dakwah: tidak kaku, tidak berjarak, dan justru terasa dekat dengan realitas anak muda. Dalam obrolan itu, terselip cerita panjang tentang bagaimana Muhammadiyah membangun gerakan dakwah yang sistematis namun tetap adaptif terhadap zaman. Dari percakapan sederhana, terkuak bahwa dakwah hari ini bukan hanya mimbar, tapi juga media.

Ustadz Afifun Nidlom menjelaskan bahwa Majelis Tabligh Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam menjaga arah dakwah tetap murni, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, namun dikemas sesuai kebutuhan masyarakat modern. Ia menekankan bahwa alur dakwah Muhammadiyah bukan sekadar ceramah, tetapi sebuah sistem terorganisir yang melibatkan kaderisasi, pembinaan, hingga distribusi konten ke berbagai platform.

Dalam konteks itulah, keberadaan website resmi menjadi sangat penting. Situs seperti pwm.co bukan hanya media informasi, tetapi juga menjadi wajah digital Muhammadiyah di tingkat wilayah. Di sana, publik bisa melihat aktivitas, gagasan, hingga arah gerakan yang sedang dibangun.

Sementara itu, majlistabligh.id menjadi pusat rujukan khusus bagi aktivitas dakwah Majelis Tabligh. Platform ini berfungsi sebagai ruang distribusi materi, panduan dakwah, serta dokumentasi kegiatan yang dilakukan oleh para muballigh di berbagai daerah. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak berjalan tanpa arah, tetapi memiliki sistem yang rapi dan terstruktur.

Tak kalah penting, maklumat.id hadir sebagai media yang lebih luas, menyajikan berita, opini, hingga kajian yang relevan dengan kehidupan umat. Dalam obrolan santai itu, ditegaskan bahwa media seperti ini menjadi jembatan antara nilai-nilai dakwah dengan realitas sosial yang terus berubah.

Menariknya, diskusi di kafe tersebut juga menyentuh bagaimana setiap platform memiliki karakter masing-masing. pwm.co lebih bersifat struktural dan formal, majlistabligh.id fokus pada dakwah praktis dan pembinaan, sedangkan maklumat.id lebih dinamis dalam menyajikan isu-isu aktual yang dekat dengan masyarakat.

Dari sini terlihat bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di dunia nyata, tetapi juga serius menggarap ruang digital. Dakwah tidak lagi cukup dengan ceramah di masjid, tetapi harus hadir di layar ponsel, di media sosial, dan di website yang mudah diakses oleh generasi muda.

Silaturahim ini menjadi bukti bahwa obrolan santai pun bisa melahirkan pemahaman mendalam. Bahwa di balik secangkir kopi, ada gagasan besar tentang masa depan dakwah. Bahwa Majelis Tabligh Jawa Timur tidak hanya bekerja di balik layar, tetapi terus berinovasi menghadirkan dakwah yang relevan.

Lebih jauh, Ustadz Afifun juga menekankan pentingnya peran KMM sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi teladan di tengah masyarakat. Peran ini semakin berat di era digital, di mana informasi begitu cepat tersebar tanpa filter.

Namun, justru di situlah peluangnya. Dengan platform yang sudah dimiliki seperti pwm.co, majlistabligh.id, dan maklumat.id, Muhammadiyah memiliki modal besar untuk menguasai narasi dakwah di ruang publik. Tinggal bagaimana memaksimalkan konten yang menarik, ringan, tetapi tetap berbobot.

Silaturahim di kafe ini akhirnya menjadi refleksi bahwa dakwah tidak harus selalu formal. Ia bisa lahir dari obrolan santai, dari diskusi ringan, bahkan dari canda yang penuh makna. Yang terpenting adalah bagaimana pesan itu sampai dan menggerakkan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, Muhammadiyah melalui Majelis Tabligh menunjukkan bahwa mereka tidak tinggal diam. Mereka terus bergerak, beradaptasi, dan membangun ekosistem dakwah yang kuat, baik di dunia nyata maupun maya.

Ngopi di pinggir Pantura sore itu akhirnya bukan sekadar melepas penat. Ia menjadi ruang belajar, ruang bertukar pikiran, dan ruang meneguhkan kembali bahwa dakwah adalah perjalanan panjang yang harus terus dirawat.

Dan dari silaturahim sederhana itu, satu hal menjadi jelas: masa depan dakwah Muhammadiyah tidak hanya ada di mimbar, tetapi juga di layar—di website, di media, dan di setiap ruang yang mampu menjangkau hati umat. (*)

Exit mobile version