Site icon TAJDID.ID

Shalat Idul Fitri 1447 H Ranting Muhammadiyah Setia Budi, Khotib Soroti Tiga Penyebab Kehancuran Negeri

TAJDID.ID~Medan 🔳 Warga Muhammadiyah Kota Medan melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah secara serentak di berbagai lokasi, Jumat (20/3/2026). Salah satu titik pelaksanaan berlangsung di Masjid Taqwa Ranting Setia Budi, Jalan Setia Budi, yang dihadiri jamaah dengan penuh khidmat.

Dalam khutbahnya, Khotib Ustadz Dr. Muhammad Irsyad menyampaikan pesan reflektif tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kehancuran suatu negeri. Ia menegaskan bahwa ada tiga penyebab utama yang patut menjadi perhatian bersama.

Pertama, pemimpin yang zalim, yakni mereka yang abai terhadap penderitaan rakyat dan lebih mementingkan kepentingan pribadi, termasuk hidup dalam kemewahan tanpa tanggung jawab sosial. Kedua, pemimpin yang tidak bersyukur atas karunia Allah SWT, sehingga potensi kemakmuran yang dimiliki negeri menjadi sia-sia. Ketiga, masyarakat yang tidak peduli terhadap nikmat Tuhan, yang berujung pada lunturnya nilai-nilai keagamaan dan moral dalam kehidupan sosial.

Dalam khutbah tersebut, Ustadz Irsyad juga mengangkat kisah Negeri Saba’ yang termaktub dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran berharga bagi umat manusia. Ia menjelaskan bahwa Negeri Saba’ dahulu dikenal sebagai negeri yang makmur, dengan tanah yang subur dan dua kebun besar di sebelah kanan dan kiri, sebagaimana disebutkan dalam Surah Saba’ ayat 15.

Kemakmuran negeri itu ditopang oleh kekayaan alam yang melimpah serta keberadaan Bendungan Ma’rib yang berfungsi mengairi lahan pertanian. Masyarakatnya hidup sejahtera, aman, dan memiliki akses yang mudah dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, lanjutnya, kemakmuran tersebut tidak diiringi dengan rasa syukur. Masyarakat Saba’ justru ingkar terhadap nikmat Allah dan berpaling dari ajaran-Nya. Akibatnya, Allah SWT menghancurkan Bendungan Ma’rib, yang memicu banjir besar dan merusak kebun-kebun mereka. Peristiwa itu menyebabkan kehancuran dan membuat penduduknya tercerai-berai.

“Dari kisah ini, kita belajar bahwa kemakmuran tidak akan berarti tanpa rasa syukur. Nikmat yang besar bisa berubah menjadi bencana jika manusia lalai dan kufur,” ujar khotib dalam pesannya.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga sarana refleksi bagi umat untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kepemimpinan yang adil, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. (*)

✍️ M. Said Harahap

Exit mobile version