Site icon TAJDID.ID

Tanah Deli, Musyawarah Sejarah dan Harapan Masa Depan

✍️ Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Sejarah sering meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi energi yang terus mengalir dan memberi makna bagi generasi berikutnya. Tanah Deli pernah menjadi saksi penting ketika Muhammadiyah menggelar Congres ke-28 di Medan pada tahun 1939. Dalam suasana zaman yang penuh keterbatasan, para tokoh dan kader datang dengan semangat besar untuk bermusyawarah, merumuskan langkah-langkah dakwah, serta meneguhkan komitmen pengabdian kepada umat dan bangsa.

Musyawarah pada masa itu bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia merupakan simbol keberanian berpikir, keteguhan sikap, dan optimisme terhadap masa depan. Gagasan tentang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan sosial, serta pemurnian dan pembaruan pemikiran Islam menjadi ruh perjuangan. Para pendahulu memahami bahwa kemajuan tidak lahir dari sikap pasif, tetapi dari pertemuan ide, kerja keras, dan keikhlasan dalam berjuang.

Kini, harapan itu kembali menyapa. Insya Allah, tahun 2027 Tanah Deli akan kembali menjadi ruang bermusyawarah melalui Muktamar ke-49. Momentum ini tentu bukan hanya soal kebanggaan menjadi tuan rumah, melainkan panggilan sejarah untuk mempersiapkan diri secara lebih matang. Persiapan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan sarana dan penyelenggaraan, tetapi juga kesiapan moral, intelektual, dan spiritual seluruh warga persyarikatan.

Muktamar adalah ruang silaturahim pemikiran. Ia mempertemukan pengalaman dan harapan, mempertemukan generasi senior dengan kader muda, serta mempertemukan realitas hari ini dengan cita-cita masa depan. Dalam ruang musyawarah itulah perbedaan dipertemukan, disaring dengan kebijaksanaan, lalu dirumuskan menjadi keputusan yang membawa kemaslahatan. Tradisi musyawarah yang santun dan bermartabat menjadi kekuatan yang menjaga persatuan sekaligus membuka jalan bagi pembaruan.

Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut hadirnya gagasan-gagasan yang segar dan solutif. Persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga perubahan budaya memerlukan respon yang bijak dan visioner. Karena itu, Muktamar diharapkan menjadi momentum melahirkan kebijakan yang tidak hanya normatif, tetapi juga aplikatif dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Di sinilah pentingnya semangat tajdid, yakni keberanian untuk terus memperbarui diri tanpa kehilangan jati diri.

Tanah Deli, dengan sejarah panjangnya sebagai ruang perjumpaan budaya dan pemikiran, seakan kembali dipanggil untuk menjadi saksi perjalanan gerakan ini. Saksi bahwa dakwah tidak pernah berhenti bergerak. Saksi bahwa persatuan dirawat melalui dialog dan musyawarah. Saksi bahwa pengabdian kepada umat adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan.

Semoga Muktamar ke-49 kelak benar-benar menjadi momentum kebangkitan gagasan, penguatan ukhuwah, dan peneguhan komitmen bersama. Komitmen bahwa gerakan ini akan terus hadir memberi pencerahan, menghadirkan kemajuan, serta meneguhkan keyakinan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Exit mobile version