Site icon TAJDID.ID

Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

✍️ Nashrul Mu’minin

Perbedaan Idulfitri tahun ini kembali membuka ruang diskusi yang tak pernah benar-benar selesai. Ketika pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah memilih 20 Maret 2026, publik seperti dihadapkan pada dua kalender dalam satu keyakinan yang sama.

Namun sesungguhnya, yang berbeda bukanlah hari rayanya, melainkan cara membaca langit. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggabungkan hisab dan rukyat, sementara Muhammadiyah berdiri teguh pada hisab murni berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal.

Di titik ini, perbedaan bukan sekadar teknis, melainkan filosofis. Rukyat mengandung unsur kehati-hatian, menunggu kesaksian mata terhadap hilal. Sementara hisab menawarkan kepastian melalui angka dan perhitungan yang presisi. Dua pendekatan ini sama-sama lahir dari tradisi panjang keilmuan Islam.

Muhammadiyah melihat bahwa ilmu falak modern telah cukup kuat untuk menjadi dasar penetapan. Ketika secara hitungan hilal sudah wujud, maka tak perlu menunggu terlihat. Inilah bentuk kepercayaan pada sains yang telah berkembang pesat.

Sebaliknya, pemerintah memilih jalan yang lebih moderat. Hisab digunakan sebagai panduan, tetapi rukyat tetap menjadi penentu akhir. Ketika hilal belum terlihat, maka istikmal menjadi pilihan yang dianggap paling aman secara syariat.

Perbedaan ini sering disalahpahami sebagai perpecahan. Padahal, ia adalah hasil dari ijtihad. Dalam tradisi Islam, ijtihad adalah ruang berpikir yang memang memungkinkan lahirnya lebih dari satu kesimpulan.

Yang menarik, setiap kali perbedaan ini muncul, masyarakat selalu terbelah dalam respons. Ada yang santai, menganggapnya biasa. Namun tak sedikit pula yang gelisah, seolah-olah agama sedang berada dalam dua arah yang bertentangan.

Padahal, jika ditarik lebih dalam, keduanya sedang berjalan menuju tujuan yang sama: memastikan ibadah dilakukan dengan keyakinan penuh. Tidak ada yang bermain-main dengan agama dalam hal ini.

Pernyataan Haedar Nashir yang mengajak untuk saling menghormati menjadi kunci penting. Sebab tanpa sikap ini, perbedaan yang ilmiah bisa berubah menjadi konflik yang emosional.

Hal yang sama juga ditekankan oleh Nasaruddin Umar, bahwa Idulfitri seharusnya menjadi momentum mempererat, bukan justru merenggangkan hubungan sosial.

Sayangnya, di era media sosial, perbedaan sering kali dibesar-besarkan. Narasi “yang paling benar” lebih cepat viral dibandingkan ajakan untuk saling memahami. Ini yang membuat perbedaan terasa lebih tajam dari seharusnya.

Padahal, dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang tetap harmonis meski berbeda hari raya. Ada yang salat Id lebih dulu, ada yang menyusul keesokan harinya. Tidak ada pertengkaran, yang ada justru saling menunggu dan menghormati.

Di kampung-kampung, suasana ini bahkan terasa unik. Takbir bisa terdengar dua malam berturut-turut. Anak-anak justru bahagia karena suasana Lebaran terasa lebih panjang. Di sana, perbedaan tidak menjadi masalah, tetapi menjadi warna.

Inilah yang sering dilupakan: bahwa masyarakat sebenarnya lebih dewasa daripada yang dibayangkan. Mereka tahu bagaimana menjaga hubungan, meski pilihan berbeda.

Perbedaan ini juga mengajarkan bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk keseragaman. Justru dalam keberagaman cara berpikir itulah, Islam menunjukkan keluasan dan fleksibilitasnya.

Jika semua dipaksa sama, mungkin terlihat rapi. Tapi belum tentu bijak. Sebab realitas umat memang beragam, dan Islam memberikan ruang untuk itu melalui ijtihad.

Lebaran seharusnya menjadi titik temu, bukan titik pisah. Ketika seseorang memilih mengikuti pemerintah, dan yang lain mengikuti Muhammadiyah, keduanya tetap berada dalam lingkup iman yang sama.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu dibawa ke ranah ego. Ketika orang mulai merasa paling benar dan merendahkan yang lain, di situlah nilai Idulfitri mulai terkikis.

Padahal, esensi Lebaran adalah kembali ke fitrah. Fitrah itu bersih, tidak dipenuhi oleh kesombongan atau keinginan untuk menang sendiri.

Maka mungkin, perbedaan tahun ini bukan sekadar soal tanggal. Ia adalah ujian kedewasaan. Apakah kita mampu menghormati tanpa harus setuju, dan menerima tanpa harus menyeragamkan.

Karena pada akhirnya, langit boleh saja dibaca dengan cara berbeda. Tapi jika hati tetap lapang, maka Idulfitri akan tetap menjadi milik kita semua. (*)

Exit mobile version