✍️ M. Risfan Sihaloho
Pernahkah kita menyaksikan sebuah pertunjukan yang memuakkan sekaligus menggelikan? Seorang aktor tiba-tiba naik ke atas panggung, mengenakan jubah kepahlawanan yang gemerlap. Dengan lantang ia berorasi, mengecam para penzalim, menghujat para penjilat kekuasaan, dan berjanji akan mati-matian membela kebenaran serta keadilan.
Lantas kamera menyorotnya, media menyanjungnya, masa histeris menyambutnya. Seolah-olah ia adalah messiah yang turun dari langit untuk membakar semangat zaman.
Tapi tunggu dulu. Jangan keburu terpukau. Karena dalam drama pejuang musiman, selalu ada babak di mana topeng itu terjatuh.
Entah karena godaan kursi empuk, ancaman yang membisikkan ketakutan, atau hitung-hitungan untung rugi yang lebih manis dari madu, sang aktor tiba-tiba membelok. Ia yang tadi garang menyala, kini mendadak loyo.
Ia yang tadi lantang melawan, kini membalikkan gagang tombak, menikam rekan seperjuangan dari belakang.
Dari singa panggung, ia berubah menjadi kucing tak berdaya yang menjilat kaki sang penguasa.
Inilah fenomena “pecundang transformer”, yakni mereka yang berubah bukan karena situasi berubah, tapi karena harga dirinya lumer oleh iming-iming.
Menjijikkan? Sangat. Tapi ironisnya, mereka ini seringkali adalah orang yang sebelumnya paling keras mengklaim diri sebagai “pejuang sejati”.
Pejuang Sejati itu Lembut, Bukan Histeris
Sepertinya kita perlu bertanya: sejak kapan perjuangan membutuhkan validasi? Sejak kapan melawan ketidakadilan harus selalu diiringi sorak-sorai massa?
Di era media sosial yang mabuk “vibes” dan “histeria kolektif”, banyak orang keliru memaknai perlawanan. Mereka mengira bahwa berjuang adalah soal seberapa keras suara di X, seberapa banyak like di Instagram, atau seberapa viral video TikTok tentang ketidakadilan.
Padahal, pejuang sejati itu sunyi. Ia tidak butuh standing ovation. Ia bekerja seperti air—mengalir tenang, tapi mampu mengikis batu karang.
Ia tidak takut kehilangan popularitas, karena ia tidak pernah membangun perjuangan di atas fondasi popularitas.
Pejuang sejati paham, bahwa militansi tanpa strategi hanyalah amarah yang membabi buta. Dan amarah yang buta, cepat atau lambat, akan tersesat di jalan yang gelap.
Ya. Pejuang sejati tahu kapan harus mengaum, tapi juga tahu kapan harus diam menyusun taktik.
Ia bisa menjadi badai yang menghancurkan, tapi juga embun yang menyejukkan.
Ia garang, tapi hatinya baik. Ia tangguh, tapi tetap rendah hati.
Jalan Tanpa Ujung
Sastrawan Mochtar Lubis pernah menulis sebuah kebenaran pahit yang tak pernah basi jadi bahan kontemplasi: “Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya.”
Kalimat ini adalah tamparan bagi para petualang yang mengira perjuangan punya garis finis. Mereka pikir setelah menang pemilu, setelah duduk di kursi empuk, setelah tagar usai, maka perjuangan selesai.
Salah besar. Perjuangan adalah napas itu sendiri. Ia tak pernah berhenti. Ketika kita berhenti bernapas, matilah kita.
Ketika seorang “pejuang” berhenti karena sudah dapat bagian, maka sejatinya ia telah mati—bukan secara fisik, tapi secara moral.
Rute perjuangan memang tidak selalu mulus. Ada tanjakan terjal, jurang pengkhianatan, dan tikungan godaan. Di sinilah ujian sesungguhnya. Ketika lelah menghampiri, pejuang sejati tak akan bertanya “Kapan ini berakhir?”, melainkan “Untuk apa aku memulai ini?”.
Renungan untuk Para Pengaku Pejuang
Maka, kepada para aktor yang gemar berganti kostum, ingatlah: publik mungkin bodoh sesaat, tapi tidak selamanya. Sorak-sorai yang kau dengar hari ini bisa berubah menjadi cemoohan besok. Histeria yang kau bangun bisa runtuh hanya dalam satu malam.
Menjadi pejuang adalah pilihan hidup yang berat. Jangan memilih jalan ini jika hatimu masih tergoda oleh gemerlap kursi dan gemerincing koin.
Jangan mengaku pejuang jika nyalimu hanya setebal kulit bawang—sekali dikupas, kau menangis dan lari.
Di negeri ini, kita butuh lebih sedikit aktor dan lebih banyak pekerja. Kita butuh orang-orang yang rela kotor tangannya, luka hatinya, dan sunyi jalannya. Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh para penggembar-gembor, melainkan oleh mereka yang diam-diam memindahkan gunung, satu kerikil dalam satu waktu.
Jadi, jika kau lelah, ingatlah kembali alasan mengapa kau memulai. Jika kau tergoda, ingatlah bahwa jalan ini tak ada ujung—hanya ada keabadian dalam ingatan mereka yang kau bela.
Pejuang sejati tidak pernah berhenti di tengah jalan.. Mungkin hanya berganti cara, tapi tak pernah berganti arah. Begitulah.
Panjang Umur Perjuangan! (*)

