✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Sejak saya diamanahi sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi pada tahun 2016 , ada satu pengalaman sosial yang menarik dan memperkaya cara pandang saya terhadap kehidupan berbangsa. Pengalaman itu adalah relasi dan interaksi yang cukup intens dengan beberapa Kapolres dan personel Polres Tebing Tinggi, dan Polda Sumatera Utara.
Hubungan itu tidak berhenti pada relasi formal organisasi semata. Bahkan setelah mereka berpindah tugas, komunikasi yang baik tetap terjalin. Di antara mereka ada yang menjadi sahabat diskusi, tempat bertukar pandangan tentang masyarakat, hukum, bahkan dinamika politik yang sering kali menempatkan polisi pada posisi yang tidak mudah.
Dalam perjalanan interaksi itu, saya sering melihat banyak polisi yang taat beragama, sopan dalam bersikap, dan humanis dalam melayani masyarakat. Mereka bekerja dengan hati, berusaha menghadirkan rasa aman tanpa harus menakutkan. Namun, realitas juga menunjukkan bahwa tidak semua potret polisi demikian. Ada pula yang bersikap sebaliknya. Di sinilah kita belajar bahwa kehidupan adalah proses panjang pembentukan diri.
Pada akhirnya, kita semua — apa pun profesi dan posisi kita — sedang berproses menjadi manusia, tentu menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Nilai kemanusiaan tidak ditentukan oleh seragam atau jabatan, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. Bukankah manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?
Bagi saya, ketika mereka seorang muslim, selalu saya apresiasi dan saya motivasi agar menjadikan profesi polisi sebagai jalan dakwah. Menjadi polisi bukan sekadar menjalankan tugas negara, tetapi juga menjalankan amanah moral dan spiritual. Takdir menjadi aparat penegak hukum, apalagi jika berada pada posisi pimpinan, adalah peluang besar untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
Seorang polisi memiliki kewenangan yang nyata. Ia bisa menggunakan kekuasaannya untuk meminimalisir kejahatan, menjaga ketertiban, dan memberikan rasa aman. Sementara tokoh agama sering kali hanya memiliki kekuatan suara dan pengaruh moral. Ia berdakwah melalui mimbar, tulisan, dan keteladanan, tetapi tidak memiliki instrumen kekuasaan yang langsung. Di sinilah saya melihat perbedaan sekaligus peluang sinergi antara otoritas moral dan otoritas struktural.
Dari kedekatan itu pula, saya mendapatkan banyak cerita tentang dinamika kehidupan seorang polisi. Tentang tekanan tugas, risiko di lapangan, tuntutan institusi, hingga harapan masyarakat yang begitu besar. Semua itu membuat saya belajar memahami bahwa menjadi polisi bukanlah profesi yang sederhana. Ia adalah jalan hidup yang menuntut disiplin, loyalitas, dan kesiapan menghadapi situasi yang sering kali penuh dilema.
Dalam struktur komando kepolisian, seorang anggota tidak bisa memilih tugas yang ia sukai. Ia tidak bisa menolak penugasan hanya karena pertimbangan pribadi. Baik dalam pelayanan masyarakat maupun dalam keterlibatan pada peristiwa politik tertentu, mereka harus menjalankan perintah sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Di sinilah sering terjadi benturan antara idealisme individu dengan realitas institusi.
Karena itu, sinergi antara tokoh agama dan aparat penegak hukum adalah kebutuhan sosial. Polisi membutuhkan penguatan nilai moral dan spiritual, sementara tokoh agama perlu memahami realitas kekuasaan dan tanggung jawab negara. Jika keduanya berjalan seiring, maka keadilan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, setiap profesi adalah takdir. Namun bagaimana menjalani takdir itu , apakah menjadi jalan kebaikan atau sekadar rutinitas kekuasaan , itulah pilihan yang menentukan martabat manusia.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

